Cita-citaku cuma sepekan, denganmu. Tentu karena sama-sama tak bisa tidur. Pukul 12 malam baru bangun.
Kau
sms aku:
eh...
cari makan yuk.
Dan
tentu kubalas:
OTW
Meluncur ke halaman rumahnya. Butuh
waktu 20 mnt. Aku jelas senang sekali. Berharap dia pakai kaus kelabu, celana
pendek diatas paha ketat, sama kemeja buteknya (yang tak kunjung bau).
Dan
tentu, “tingkahnya yg menganggapku seperti teman (yg tak menaruh rasa apapun,
padanya).”
Itu
yg kupikir harus senantiasa, pada dia, pada dirinya.
Teman kosku, masih saja memiliki
selera musikal yg baik. Sahabatku masih jg baik dalam kriteria artistiknya. Aku
cuma pendramatisasir, yang baik.
Itu
yg menyambar sekilas, pada palaku.
“5
menit hampir sampai, kosmu.” Aku sms begitu.
Persis
di lampu merah countdown 108 detik.
“Padahal
sudah jam segini,” kenapa tak menyembur lampu kuning terus-terusan (seperti
rambu2 yg lain)?
Sebagai
warga taat hukum. Ingat hukum diatas segalanya, bukan? Hukum tak kenal kelas,
kasta... (apa seh).
Lampu
merah kurang 30 detik.
Ruas
jalan yg lain (yg lagi lampu ijo) dipenuhi gembel. Kayaknya lagi senang, abis
mabok apa ngomik. 15an orang, ada perempuannya lagi, duh. Kalok ada mobil gede, mereka semua teriak2 gitu. Untuk mobil
kecil, dihampiri tepukan tangan dan nyanyian jalanan. Lengkap dengan mulut bau etanol eceran.
5,
4, 3, 2 (lampu kuning), 1 (lampu ijo)...
Pelan-pelan
aja, gak ada yg klakson juga. Sampingku sudah jalan duluan waktu rambu masih detik-mundur
41. Belakangku cuma berhenti gara rokoknya mati. Cuma aku yg taat tertib lalu
lintas.
Kecepatan
44 Km/Jam naik-turun, gigi (perseneling) 3.
Masuk
gang Plenting, terus aja, nanti
ketemu rusun. Dinding-dinding putih dari keramik dikit lumutan ijo. Pintu &
jendela yg dikit bgt karatnya.
“Aku
menunggumu di bawah.” 5 menit yg lalu
Ting-tong
(getar sms):
Iyo
sek... 2 menit yg lalu
Kubusungkan dada, tapi jadinya
sedikit bengkok. Urunglah niat, jadi tambah wagu soalnya, malahan. Itu sekitar
dua belas lebih malam. Pegawai carefour
putaran terakhir lewat gonjar-ganjir. Capek sekali rautnya. Tapi cantik,
soalnya jalan kaki. Sudah jelas, berjalan kaki itu membuat perempuan/cewek
lebih cantik/capek. Maleslah, lihat perempuan yg mager melulu, yg dijemput lakinya kalok pulang kerja. “Muak
ngeliatnya, tauk.”
Ting-tong:
Tunggu
bentar, dompet gw keserimpet nih...
Bentar
yak.
Kubalas:
Alah...
pakek duit gw dulu aja.
Cepet...
ngeri jg dibawah ndirian.
Ting-tong:
Sok
baek anjing. Iye gw kebawah :)
Kubilang apa, dandanannya begitu
kan. Seperti tebakanku, seperti harapanku. Ah... aku makin berharap dia tak
pernah tahu kalok aku demen bgt ma dia. Selamanya begitu, aku bahagia
(sebenarnya kata bahagia kurang tepat, tapi aku bingung mau pakek kata apa,
tolong temukan kata itu, untuk mewakili perasaanku, untukku bilang padanya, di
depan rusun, waktu kuantar pulang, kira-kira 2 jam lagi dari sekarang, tolong
aku pembaca).
Seperti biasa, dia membonceng,
memberi sedikit sekali jarak antara paha dalamnya dan paha luarku, antara
payudaranya dan backboneku, antara hidungnya dan bau rambutku, antara dia dan
aku. Masing2 berjarak 5 cm (mungkin kurang, soalnya aku bisa merasakan hawa anget dari tiap bagiannya). Itu tipis
sekali, asal kalian tahu. Tipis_____
Kecepatanku
50 Km/Jam.
Sesekali tiap bagian itu
bernempelan. Aku tidak akan pernah lupa rasanya pertempelan itu, meski mung 2 detik. Yang paling nikmat (kalau
aku boleh memilih) tentunya pertempelan antara nafasnya dengan ujung rambut
belakangku. Rasanya seperti “aku bisa bernafas bersamanya dalam kejap.”
Wuss...
wush... angin biasa saja malem itu. Kami tak mengobrol di sepanjang naik motor.
Hukum tak tertulis apa lagi ini?
Tenengneng tenengneng teneneng neng
(Hpnya getar-getar) udah 4 kalian kalik.
Aku
melanggar hukum tak tertulis. “Angkat aja ngapa sih?” Kataku santai.
Dia
diyem aja. Sial. Yaudah aku diyem lagi.
Jalanan
udah ketemu non-aspal. Di pinggir jalan, Mbok-mbok gudeg masih seger, dandan
jugak lagi. Gak pakek lipstik sih, tapi bedakannya baik. Merek lokal kayaknya,
gak mungkin wardah atawa mandi susu!
Turun.
Dia masih aja main hp. Kuparkir motor, aku gas kencang (perseneling netral)
sekali coba. Biar bikin rame aja. Sepi banget soalnya.
Mbok-mbok
gudeg merengut. Dia sama aja. Aku dideletenya, Si Mbok gudeg juga didelete.
Cerita ini didelete, Hpnya dia banting. Habis.
***
4
kali miscall itu adalah Unknown Number.
Ia
sebal, Ia tahu bahwa Si Unknown Number adalah salah satu pembaca ceritanya.
Ia
juga sudah tahu ini bakalan terjadi. Salah satu dari seorang pembacanya akan
berhasil memecahkan teka-teki temannya.
“Perihal
kata yang dicari-cari temannya seumur hidup.”
“Kata
yg mengungkapkan perasaannya padaku,” Bisik seorang gadis dengan menahan
tangis.
Seumur
hidupku, aku mencegah Ia untuk menemukan kata itu.
Dgn
begitu hubungan kita akan ... selamanya.
*Titik titik itulah yg mereka ...
seumur hidup(nya).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar