Jumat, 27 Januari 2017

... Sindur


Cita-citaku cuma sepekan, denganmu. Tentu karena sama-sama tak bisa tidur. Pukul 12 malam baru bangun.

Kau sms aku:
            eh... cari makan yuk.

Dan tentu kubalas:
            OTW

Meluncur ke halaman rumahnya. Butuh waktu 20 mnt. Aku jelas senang sekali. Berharap dia pakai kaus kelabu, celana pendek diatas paha ketat, sama kemeja buteknya (yang tak kunjung bau).
Dan tentu, “tingkahnya yg menganggapku seperti teman (yg tak menaruh rasa apapun, padanya).”
Itu yg kupikir harus senantiasa, pada dia, pada dirinya.

Teman kosku, masih saja memiliki selera musikal yg baik. Sahabatku masih jg baik dalam kriteria artistiknya. Aku cuma pendramatisasir, yang baik.
Itu yg menyambar sekilas, pada palaku.

         5 menit hampir sampai, kosmu.” Aku sms begitu.

Persis di lampu merah countdown 108 detik.

“Padahal sudah jam segini,” kenapa tak menyembur lampu kuning terus-terusan (seperti rambu2 yg lain)?

Sebagai warga taat hukum. Ingat hukum diatas segalanya, bukan? Hukum tak kenal kelas, kasta... (apa seh).

Lampu merah kurang 30 detik.
Ruas jalan yg lain (yg lagi lampu ijo) dipenuhi gembel. Kayaknya lagi senang, abis mabok apa ngomik. 15an orang, ada perempuannya lagi, duh. Kalok ada mobil gede, mereka semua teriak2 gitu. Untuk mobil kecil, dihampiri tepukan tangan dan nyanyian jalanan. Lengkap dengan mulut bau etanol eceran.

5, 4, 3, 2 (lampu kuning), 1 (lampu ijo)...
Pelan-pelan aja, gak ada yg klakson juga. Sampingku sudah jalan duluan waktu rambu masih detik-mundur 41. Belakangku cuma berhenti gara rokoknya mati. Cuma aku yg taat tertib lalu lintas.

Kecepatan 44 Km/Jam naik-turun, gigi (perseneling) 3.
Masuk gang Plenting, terus aja, nanti ketemu rusun. Dinding-dinding putih dari keramik dikit lumutan ijo. Pintu & jendela yg dikit bgt karatnya.

“Aku menunggumu di bawah.”                                                                                                                  5 menit yg lalu

Ting-tong (getar sms):
            Iyo sek...                                                                                                                                       2 menit yg lalu

Kubusungkan dada, tapi jadinya sedikit bengkok. Urunglah niat, jadi tambah wagu soalnya, malahan. Itu sekitar dua belas lebih malam. Pegawai carefour putaran terakhir lewat gonjar-ganjir. Capek sekali rautnya. Tapi cantik, soalnya jalan kaki. Sudah jelas, berjalan kaki itu membuat perempuan/cewek lebih cantik/capek. Maleslah, lihat perempuan yg mager melulu, yg dijemput lakinya kalok pulang kerja. “Muak ngeliatnya, tauk.”

Ting-tong:
            Tunggu bentar, dompet gw keserimpet nih...
            Bentar yak.

Kubalas:
            Alah... pakek duit gw dulu aja.
            Cepet... ngeri jg dibawah ndirian.

Ting-tong:
            Sok baek anjing. Iye gw kebawah :)

Kubilang apa, dandanannya begitu kan. Seperti tebakanku, seperti harapanku. Ah... aku makin berharap dia tak pernah tahu kalok aku demen bgt ma dia. Selamanya begitu, aku bahagia (sebenarnya kata bahagia kurang tepat, tapi aku bingung mau pakek kata apa, tolong temukan kata itu, untuk mewakili perasaanku, untukku bilang padanya, di depan rusun, waktu kuantar pulang, kira-kira 2 jam lagi dari sekarang, tolong aku pembaca).

Seperti biasa, dia membonceng, memberi sedikit sekali jarak antara paha dalamnya dan paha luarku, antara payudaranya dan backboneku, antara hidungnya dan bau rambutku, antara dia dan aku. Masing2 berjarak 5 cm (mungkin kurang, soalnya aku bisa merasakan hawa anget dari tiap bagiannya). Itu tipis sekali, asal kalian tahu. Tipis_____
  
Kecepatanku 50 Km/Jam.
Sesekali tiap bagian itu bernempelan. Aku tidak akan pernah lupa rasanya pertempelan itu, meski mung 2 detik. Yang paling nikmat (kalau aku boleh memilih) tentunya pertempelan antara nafasnya dengan ujung rambut belakangku. Rasanya seperti “aku bisa bernafas bersamanya dalam kejap.”

Wuss... wush... angin biasa saja malem itu. Kami tak mengobrol di sepanjang naik motor. Hukum tak tertulis apa lagi ini?

Tenengneng tenengneng teneneng neng (Hpnya getar-getar) udah 4 kalian kalik.

Aku melanggar hukum tak tertulis. “Angkat aja ngapa sih?” Kataku santai.

Dia diyem aja. Sial. Yaudah aku diyem lagi.

Jalanan udah ketemu non-aspal. Di pinggir jalan, Mbok-mbok gudeg masih seger, dandan jugak lagi. Gak pakek lipstik sih, tapi bedakannya baik. Merek lokal kayaknya, gak mungkin wardah atawa mandi susu!

Turun. Dia masih aja main hp. Kuparkir motor, aku gas kencang (perseneling netral) sekali coba. Biar bikin rame aja. Sepi banget soalnya.

Mbok-mbok gudeg merengut. Dia sama aja. Aku dideletenya, Si Mbok gudeg juga didelete. Cerita ini didelete, Hpnya dia banting. Habis.

***
4 kali miscall itu adalah Unknown Number.

Ia sebal, Ia tahu bahwa Si Unknown Number adalah salah satu pembaca ceritanya.

Ia juga sudah tahu ini bakalan terjadi. Salah satu dari seorang pembacanya akan berhasil memecahkan teka-teki temannya.

“Perihal kata yang dicari-cari temannya seumur hidup.”
“Kata yg mengungkapkan perasaannya padaku,” Bisik seorang gadis dengan menahan tangis.

Seumur hidupku, aku mencegah Ia untuk menemukan kata itu.

Dgn begitu hubungan kita akan ... selamanya.

*Titik titik itulah yg mereka ... seumur hidup(nya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar