Untuk bau kursi oranye metromini, bau ruangan iang baru di cat, bau aspal basah tepi hutan kota, bau ruangan seminar ber-ac nun bau karpet kelabunya, bau pecel kantin SMA.
Coba cium bagian ketiak kaos oblong lelaki atawa
celana dalam perempuan, di bilik pintu: [1]Baunya apek tak karuan [2]Pun telah
dikerubungi nyamuk-nyamuk segede kuku jempol [3]Telah tergantung-inap satu
bulanan di sana.
Konon daerah paling bau pada tubuh perempuan ialah vaginanya. Seorang kawan pernah bercerita bahwa “vagina perempuan baunya seperti wijen atawa bau batteray.” Shere Hite pernah melakukan survei (entah dimana, kapan, dan mencakup berapa banyak responden) dengan pertanyaan vulgar: apakah vagina tercium enak atau tidak?
Hasil menunjukkan 30% menjawab enak atau hebat; 15% menjawab tidak enak; 1% menjawab tidak keduanya; dan 8% menjawab terkadang enak, terkadang tidak enak. Sisanya memberi jawab yang bernuansa positif; enak jika bersih/ seksi/ natural/ menyenangkan/ merangsang/ tidak biasa/ menarik/ lezat/ fungky/ membumi/ menggairahkan, dengan total 41%; atau pernyataan lain iang umumnya negatif sejumlah 4%. Dengan demikian, sekitar 71% sampel memberikan jawaban positif dan 19% negatif.
Kita lantas bertanya “apakah vagina memang benar-benar bau?” Dengan data empirik yang ditunjukkan diatas, kita seolah dihadapkan dengan kebenaran bahwa “tidak, (kebanyakan) vagina perempuan tidak bau, (bagi...).” Tetapi tetap terdapat celah atawa kemungkinan “manusia pengisi survei berbohong.”
Jadi, bagaimana? Sepertinya kita harus menelisik-percayainya kepada ilmu biologi, agar lebih obyektif. Menurut ilmu biologi, pada dasarnya (bau) vagina permpuan ialah... titik titik titik.
Hmm... kalau perempuan dikononkan memilik “bau yang paling bau” pada daerah vaginanya, lelaki mendapati “bau yang paling bau” pada keringatnya (baca: Samson Betawi). Memang, secara biologis lelaki memiliki kelenjar keringat lebih banyak dibandingkan perempuan, sehingga berkeringat lebih banyak. Nun itu semua (kelenjar keringat) mendapati perwujudannya pada “napas lelaki iang tak enak, bau ketek lelaki, dan bau kaki lelaki.”
Huah... perkara bau-bauan “kamu bau.”
Bau, tak dapat disangkal ialah daerah/milik kekuasaan indera penciuman. Konon dengan latihan (latihan seperti apa?), seorang yang sehat dapat mendeteksi antara 10 sampai 40.000 bau yang berbeda; senuntara para ahli, seperti ahli parfum atawa pencampur wiski dapat membedakan hingga 100.000 bau.
Melencong sedikit: [1]Jika indera penciuman dapat mengenali 100.000 bau yang berbeda [2]Wajah manusia dapat membentuk lebih dari 7.000 ekspresi. Wah, betapa kaya!
Dengan kepekaan penciuman yang ditaksir dapat menyentuh angka 100.000, kalau dihitung-hitung (dari lahir – sekarang) sudah berapa banyak bau iang kita cium ya?
Tak perlu dihitung nun diingat-ingat. Ajaibnya tanpa kita sadari, ada segelintir bau yang menempel dalam “benak” kita. Segelintir bau tersebut dapat menyeret kita beribu mil-mil jauhnya, nun bertahun-tahun lalunya. Ia ingat/tertempel bau kursi oranye metromini, bau ruangan iang baru di cat, bau aspal basah tepi hutan kota, bau ruangan seminar ber-ac nun bau karpet kelabunya, bau pecel kantin SMA. Bau-bau tersebut dapat membawaIa kepada tempat nun momen-momen terdahulu secara hampir persis: jauh lebih persis timbang melihat foto kenangan ataupun suara yang ter-rekam.
Hellen Keller bercuap-cuap bahwa “penciuman adalah penyihir kuat yang dapat membawa kita melintasi ribuan mil dan tahun-tahun yang telah kita lewati. Bau buah-buahan membawaku ke rumahku di selatan, ke masa kanak-kanakku yang menyenangkan di kebun persik.”
Mas Orwell juga cuap-cuap begini, “satu kepulan yang dingin dan berbau jahat – sejenis persenyawaan dari kaos kaki yang dipenuhi bau keringat, handuk kotor, bau tahi yang berhembus di sepanjang koridor, garpu dengan makanan lama di antara giginya, rebusan leher domba, bau pintu kamar mandi yang dibanting, dan bau gema di ruang pertemuan asrama.”
Hal yang menarik disini ialah penciuman kita iang tak tebang-pilih dalam memilih bau (iang nantinya akan menjadi “kenangan bau” kita di tahun-tahun mendatang). Indera penciuman tak membenci/menyingkirkan bau apek atawa mencintai bau harum. Indera penciuman seperti “mencium begitu saja.”
Ini terbukti jika kita melihat/mencium Orwell dengan kenangan bau handuk kotor dan tahinya. Bahkan seseorang lelaki lain cuap-cuap begini, “salah satu penciuman favorit saya adalah pupuk kotoran sapi. Ya! Ia membawa kembali ingatan saya mengenai pertanian bibi saya di Ohio selatan. Liburan iang saya habiskan di sana merupakan saat-saat paling membahagiakan di masa kanak-kanak saya. Karenanya semua bau tanah pertanian membangkitkan padaku memori-memori iang indah.”
Lalu, mengapa kita memilih yang-harum saja hari ini? Gawatnya kita akan sulit tersenyum/mencium-kenangan pada hal-hal yang tak-harum? Yang kedua, kok bau-bauan ini kebanyakan hanya membawa kita pada memori masa kanak-kanak? Sejak kapan ya, penciuman kita memfilter “apa yang mau dicium dan tidak mau dicium”?
Konon, ada manusia bernama Nietzche, Ia cuap-cuap mengenai Tiga Metamorfosis Roh. Menurut Nietzche, roh dalam perjalanannya mengubah diri menjadi unta, dari unta ke singa, dan akhirnya dari singa ke bayi.
Layaknya unta, Ia (suka)rela menanggung beban. Ia berkata “Iya secara naif” terhadap apa saja iang datang. Ia membutuhkan beban, rasa sakit, cobaan agar Ia senantiasa memiliki pegangan urip. Tanpa itu semua, Ia merasa urip-nya melayang-layang nun tanpa kepastian.
Nun, akan tiba waktunya roh unta sadar bahwa beban yang dipanggulnya terasa tidak lagi bermakna. Sakit yang dipercayanya akan memberinya makna, kesucian, atau apapun, ternyata benar-benar membuatnya sakit.
Nun Ia berubah menjadi singa. Singa selau menidak, singkat kata Ia “mau” melawan beban, cobaan, dan rasa sakit: tidak seperti unta yang nurut-nurut saja. Tetapi di balik keberanian singa dalam menidak/melawan, menurut Nietzche, sang singapun masih dilanda ketakutan. Adalah ketakutan terhadap apa saja iang menyentuhnya akan menundukkannya, akan merebut wilayah kekuasaanya.
Dengan begitu, menurut Nietzche puncak metamorfosis roh ialah seorang bayi. Bayi adalah kepolosan dan pelupaan, permulaan baru, permainan, roda iang bergerak dari dirinya sendiri, penggerak pertama, afirmasi kudus. Terhadap apa iang datang, (bayi) tidak lagi seperti sikap unta iang senantiasa “Iya-naif”, tidak juga seperti seperti Singa iang senantiasa “tidak-naif”, tetapi sebuah sikap yang “sekaligus iya dan tidak”.
Dengan mengingat masa kanak-kanak, saat kita bermain lepas. Menidak-naif hanya terjadi “ketika tak boleh bermain”. Iya-naif hanya sekadar “saat” dihadapan/diceramahi/dimarahi orang tua. Selepas itu, di dunia luar, di pepatang sawah, di halaman sekolahan, di aspal jalanan, di kebun belakang, akan tercermin sikap “sekaligus iya dan tidak”. Lalu pelupaan, lalu bermain, lalu afirmasi kudus (apaan nih?). (semoga tidak cocoklogi)
Mungkin itu sebabnya, kenangan-kenangan bau tertanam begitu saja (mungkin hanya pada masa kanak-kanak, kita memiliki roh seorang bayi), tanpa tebang pilih “bau ini”, “bau itu”.
Ini seperti ganjaran. Kalau kita pernah menjadi bayi-nya Nietzche, kita bakal mendapat ganjaran kenangan (saat masa-masa kita memiliki roh bayi).“Ketika masa kanak-kanak, kita jarang mengenang apapun. Kenangan baru singgah bertahun-tahun mendatang. “
Bagaimana dengan saat ini, ketika kita sudah dewasa (ketika memiliki roh bayi-nya Nietzche hampir sekali tidak mungkin)?
Apa jangan-jangan kita sudah tak bisa “menempelkan” bau saat ini, tuk di kenang di tahun-tahun mendatang... tak bisa tak bisa tak bisa... ah. Kita sudah sangat susah tuk melupa, tuk bisa kembali, tuk bisa bermain, tuk bisa afirmasi kudus, tuk bisa melupa, tak bisa tak bisa tak bisa.... ah.
Ah dimasa mendatang... mungkin kita hanya akan mengenang bau iang dicium perempuan setengah tua di dalam cerpen “Bau” cuapan A.N Zaifah:
Suatu ketika di gerbong kereta, Ia mencium bau yang tak jelas aromanya. Bau itu berasal dari tempat abu rokok. Ia dibikin mumat, sampai-sampai harus pindah ke gerbong bagasi. Semua penumpang juga dibuat mumat. Polsus dan Kondekturpun tak sudi untuk membersihkan bau itu, katanya bukan tugas mereka. Demikian semua penumpang, lalu (hanya) mengeluh satu persatu.
Hingga seorang pensiunan tua berseru,”Lha, kalau kita sebagai penumpang, tidak berkenan melaksanakan tugas-tugas sampingan kita, misalnya mencari (dan membersihkan) bau yang menyerang penciuman kita sekarang ini, saya rasa Polsus dan Kondektur itu juga tidak dapat disalahkan. Ya, kan?”
Semua orang merasa tidak enak. Malu. Risih. Pensiunan itu seakan membuka baju-baju mereka, celana-celana mereka, sampai semua belang-belang yang selama ini secara tidak sadar melekat di tubuh mereka, kelihatan dengan jelas.
Namun, tiba-tiba lelaki (aktipis) ganteng bangkit dari tempat duduknya. Ia mencabut tempat abu rokok itu dari gantungannya, lalu melemparkannya keluar lewat jendela.
Orang-orang melihat perbuatan lelaki itu. Diam-diam sebahagian memuji tindakannya. Sebahagian lagi terkejut, dan belum dapat menilai. Tapi pensiunan itu bergumam: “satu lagi gambaran kehidupan kita.”
Kereta api berjalan terus. Tapi aneh, bau itu makin keras dalam penciuman perempuan setengah tua itu.
***
Jadi.
Kekasih, apakah kita tertempel bau yang sama?
Jogokaryan, 25 September 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar