Selasa, 04 Oktober 2016

Membayangkan Hanoman di JABODETABEK.




Untuk Konon...

Untuk (konon) Hitler dan Kekasih yang mengakhiri diri di nusa Lombok. Untuk (konon) Anak Hegel iang singgah di Batavia. Untuk (konon) Wiji Tukul iang masih muncul-hilang-muncul-hilang di kegaduhan Depok.

***

Maka perkenalkanlah, silsilah Hanoman:  

“Anjana, Ibu Hanoman, adalah gadis perawan cantik di antara para dewi di atas sana. Karena kutukan seorang resi, ia terlahir sebagai wanari (kera betina). Suatu hari ketika sedang bermain-main di lereng sebuah gunung, Batara Bayu (Dewa Angin) melihatnya dan jatuh hati. Dewa itu langsung memeluk ibumu. Ibumu marah. ‘Siapa kau, wahai mahluk jahat yang berani menghinaku?’ Dewa Angin menjawab, ‘Jangan marah, tubuhmu tidak akan ternoda oleh sentuhanku. Kau tidak akan kehilangan keperawananmu. Aku memelukmu tidak dengan tubuh, melainkan dengan keinginan hati dan dari pelukan batin ini, kau akan melahirkan seorang anak.”

Hanoman kecil akhirnya berangkat sekolah. Usai menyingkirkan 200 peserta berijazah TK lainnya - dalam tes masuk SD 04 Petang. Tesnya mudah (1)Berisi uraian abjad a-z iang mengambang minta dirangkai (2)Hitung-hitungan iang mengkonversi pisang ke dalam angka satu-sapuluh (3)Nun menuliskan alif ba’ tak’ sampai ya’ dalam ejaan Arab gimbal.

Hanoman mendapat nilai 81. Menuai peringkat 15 besar. Hal iang tak dapat dibanggakan orang tua. Tapi siapa peduli...

Seling dua minggu sekolah. Pukul 10:00 waktunya istirahat. Bell. Hanoman dan lain-lainnya membeli es sisri atawa gulali bentuk burung hijau-kehijauan. Hanoman dan lain-lainnya juga belum kenal sunat dan rasanya sempakan: duit dikantongin di selempetan celana.

Pulang sekolah, cuma pakai kaos kutang putih “GTA” nun sempak Spidermen. Lari-lari di halaman sekolah nun gang-gang sempit. Hanoman dan lain-lainnya mulai hapal nama Bapak-Mama saling-saling.

Hanoman teriak sekencang-kencangnya: semangat sekali, ngata-ngatain bapak-ibu temanannya. (budaya ngata-ngatain bapak-ibu biasanya diliputi rasa kesal dan lucu secara bersamaan)

“Ah leli!” – nama ibu temannya (1).
“Ah Juri!” – nama bapak temannya (2).
“Ah Tatik!” – nama ibu temannya (3).
“Ah Eko!” – nama bapak temannya (4). 

Begitu seterusnya, Hanoman selalu ngata-ngatain bapak-ibu teman-temannya. Tapi, teman-teman tak pernah membalasnya. 5-10 tahun berlalu: teman-teman tak pernah membalas ngata-ngatain Hanoman.

Ditemui di basecamp tongkrongan, saya berhasil mewawancarai mereka. Berikut hasil cuplikan wawancara (04/10) dengan teman-teman Hanoman:

Apa teman-teman kesal dengan kelakuan Hanoman?
Tidak, tidak sama sekali. Kami tidak kesal dengan Hanoman. Kami kesal dengan takdirnya.

Takdir yang mana?
Silsilah keluarganya.

Emm... Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Ya... iya gara-gara silsilah keluarganya, kami jadi takut ngata-ngatain bapak-ibu Hanoman. Masak harus dijelasih lagi sih...

Kenapa harus takut? Ngata-ngatain mah tinggal ngata-ngatain aja, apa susahnya?
Ya allahhhh... lu wartawan macam apa sih! Gak peka banget deh! Jadi gini... kami jelasin dari awal ya... gini... Bapaknya Hanoman tuh dewa... dewa... ngerti gak... Ibunya Hanoman tuh monyet... Jadi mau ngata-ngatin Bapaknya takut dosa, takut kualat, takut dikutuk... mau ngata-ngatain Ibunya takut Hanomannya sakit hati, takut dia tersinggung... Jadi kami harus gimana? Nih kami tanyak balik ke sampeyan... Jadi baiknya gimana?

Hmm... malah balik nanya... Tapi hubungan pertemanan kalian dengan Hanoman baik-baik aja kan?
Ya allooooh... udah dibilang... kami gak ada masalah sama Hanoman... yang kami permasalahin nih silsilah keluarganya dia... silsilah keluarganya dia... takdirnya dia punya bapak-ibu kayak gitu... itu... udah udah... sampeyan ini kok malah ngalor-ngidul... wes wes... konco-konco arep do dolan ki... arep nang omahe Hanoman...

*Sesampainya di depan rumah Hanoman, sekelompok itu terkejud. Rumah Hanoman telah hangus terbakar. Kebun lebat di belakang rumahnya juga ludes. Ibunya (Anjana-wanari) terkapar diantara sawit dan pisang yang lepuh-terbakar. Bapaknya (Batara Bayu – Dewa Angin) meniup dirinya sendiri sekuat tenaga taufan tuk padamkan semua itu (tuk menyelamatkan rumah, kebun, dan isterinya), tetapi sayang Ia tak mampu melawan “hukumnya sendiri”: yang mengharuskannya menjadi angin muson ke arah barat hari itu jua.

Cuma Hanoman yang bisa melarikan diri. Ia menghilang begitu saja.

Semenjak kejadian itu... Hanoman tak pernah terlihat. Ia menghilang, sudah 10 tahun.

Tetapi berkat adanya CCTV, Google Maps, GPS, dan Satelite. Hanoman terpantau berada pada titik... lintang... bujur...

Ia bekerja sebagai pengangkut pasir/tanah dari Jawa ke Singapura. Ia dibayar demi meluaskan dataran Singapura. Sudah 10 tahun Ia bekerja disana. Sudah lebih 100 bukit yang Ia keruk-angkut dari Jawa.

Tiba-tiba Hanoman merebut kesadaranku. Ia mengambil alih laptopku. Ia menulis ini, seolah-olah akulah yang menulisnya. “Aku bekerja sapuluh tahun lebih, aku bekerja untuk membangun kembali rumahku... membangun kebunku... Sialan orang-orang itu... orang-orang yang telah membakar rumah dan kebunku... Aku akan membangun kebunku lagi... lalu aku bisa bertemu ibuku lagi... Aku akan membangun rumahku... lalu aku bisa bertemu bapakku lagi... gara-gara orang-orang itu... ibuku mengungsi ke kebun binatang... gara-gara orang-orang itu... bapakku mengungsi ke pura di Bali... Aku berjanji Bapak, aku berjanji Ibu... Tertanda Hanoman.

Demikianlah, Hanoman yang berapi-api dalam kata-katanya.

Demikianpula ketika Walmiki menyusuri sungai, Ia melihat sepasang burung yang sedang menikmati madu asrama bermain-main dan berkicau merayakan keindahan hidup dan cinta. Tiba-tiba, si burung jantan tumbang, jatuh ke tanah. Panah seorang pemburu mengenainya. Melihat pasangannya jatuh terguling di tanah, si burung betina meratap dengan pilu. Melihat itu, Walmiki sangat marah lalu mengucapkan kutukan.

Ketika merenungkan kutukannya, Walmiki menyadari keindahan irama kutukan yang Ia ucap. Kemudian, Walmiki menuliskan Ramayana dengan birama itu...

Keindahan irama kutukan... keindahan Hanoman yang berapi-api dalam kata-katanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar