Untuk Konon...
Untuk (konon) Hitler dan Kekasih yang mengakhiri
diri di nusa Lombok. Untuk (konon) Anak Hegel iang singgah di Batavia. Untuk
(konon) Wiji Tukul iang masih muncul-hilang-muncul-hilang di kegaduhan Depok.
***
Maka perkenalkanlah, silsilah Hanoman:
“Anjana, Ibu Hanoman, adalah gadis perawan cantik di
antara para dewi di atas sana. Karena kutukan seorang resi, ia terlahir sebagai
wanari (kera betina). Suatu hari ketika sedang bermain-main di lereng sebuah gunung,
Batara Bayu (Dewa Angin) melihatnya dan jatuh hati. Dewa itu langsung memeluk
ibumu. Ibumu marah. ‘Siapa kau, wahai mahluk jahat yang berani menghinaku?’
Dewa Angin menjawab, ‘Jangan marah, tubuhmu tidak akan ternoda oleh sentuhanku.
Kau tidak akan kehilangan keperawananmu. Aku memelukmu tidak dengan tubuh,
melainkan dengan keinginan hati dan dari pelukan batin ini, kau akan melahirkan
seorang anak.”
Hanoman kecil akhirnya berangkat sekolah. Usai
menyingkirkan 200 peserta berijazah TK lainnya - dalam tes masuk SD 04 Petang.
Tesnya mudah (1)Berisi uraian abjad a-z iang mengambang minta dirangkai
(2)Hitung-hitungan iang mengkonversi pisang ke dalam angka satu-sapuluh (3)Nun
menuliskan alif ba’ tak’ sampai ya’ dalam ejaan Arab gimbal.
Hanoman mendapat nilai 81. Menuai peringkat 15
besar. Hal iang tak dapat dibanggakan orang tua. Tapi siapa peduli...
Seling dua minggu sekolah. Pukul 10:00 waktunya
istirahat. Bell. Hanoman dan lain-lainnya membeli es sisri atawa gulali bentuk
burung hijau-kehijauan. Hanoman dan lain-lainnya juga belum kenal sunat dan
rasanya sempakan: duit dikantongin di selempetan celana.
Pulang sekolah, cuma pakai kaos kutang putih “GTA”
nun sempak Spidermen. Lari-lari di halaman sekolah nun gang-gang sempit.
Hanoman dan lain-lainnya mulai hapal nama Bapak-Mama saling-saling.
Hanoman teriak sekencang-kencangnya: semangat
sekali, ngata-ngatain bapak-ibu temanannya. (budaya ngata-ngatain bapak-ibu
biasanya diliputi rasa kesal dan lucu secara bersamaan)
“Ah leli!” – nama ibu temannya (1).
“Ah Juri!” – nama bapak temannya (2).
“Ah Tatik!” – nama ibu temannya (3).
“Ah Eko!” – nama bapak temannya (4).
Begitu seterusnya, Hanoman selalu ngata-ngatain
bapak-ibu teman-temannya. Tapi, teman-teman tak pernah membalasnya. 5-10 tahun
berlalu: teman-teman tak pernah membalas ngata-ngatain Hanoman.
Ditemui di basecamp tongkrongan, saya berhasil
mewawancarai mereka. Berikut hasil cuplikan wawancara (04/10) dengan
teman-teman Hanoman:
Apa teman-teman
kesal dengan kelakuan Hanoman?
Tidak, tidak sama sekali. Kami tidak kesal dengan
Hanoman. Kami kesal dengan takdirnya.
Takdir yang
mana?
Silsilah keluarganya.
Emm... Bisa
dijelaskan lebih lanjut?
Ya... iya gara-gara silsilah keluarganya, kami jadi
takut ngata-ngatain bapak-ibu Hanoman. Masak harus dijelasih lagi sih...
Kenapa harus
takut? Ngata-ngatain mah tinggal ngata-ngatain aja, apa susahnya?
Ya allahhhh... lu wartawan macam apa sih! Gak peka
banget deh! Jadi gini... kami jelasin dari awal ya... gini... Bapaknya Hanoman
tuh dewa... dewa... ngerti gak... Ibunya Hanoman tuh monyet... Jadi mau
ngata-ngatin Bapaknya takut dosa, takut kualat, takut dikutuk... mau
ngata-ngatain Ibunya takut Hanomannya sakit hati, takut dia tersinggung... Jadi
kami harus gimana? Nih kami tanyak balik ke sampeyan... Jadi baiknya gimana?
Hmm... malah
balik nanya... Tapi hubungan pertemanan kalian dengan Hanoman baik-baik aja
kan?
Ya allooooh... udah dibilang... kami gak ada masalah
sama Hanoman... yang kami permasalahin nih silsilah keluarganya dia... silsilah
keluarganya dia... takdirnya dia punya bapak-ibu kayak gitu... itu... udah
udah... sampeyan ini kok malah ngalor-ngidul... wes wes... konco-konco arep do
dolan ki... arep nang omahe Hanoman...
*Sesampainya di depan rumah Hanoman, sekelompok itu
terkejud. Rumah Hanoman telah hangus terbakar. Kebun lebat di belakang rumahnya
juga ludes. Ibunya (Anjana-wanari) terkapar diantara sawit dan pisang yang
lepuh-terbakar. Bapaknya (Batara Bayu – Dewa Angin) meniup dirinya sendiri
sekuat tenaga taufan tuk padamkan semua itu (tuk menyelamatkan rumah, kebun,
dan isterinya), tetapi sayang Ia tak mampu melawan “hukumnya sendiri”: yang
mengharuskannya menjadi angin muson ke arah barat hari itu jua.
Cuma Hanoman yang bisa melarikan diri. Ia menghilang
begitu saja.
Semenjak kejadian itu... Hanoman tak pernah
terlihat. Ia menghilang, sudah 10 tahun.
Tetapi berkat adanya CCTV, Google Maps, GPS, dan
Satelite. Hanoman terpantau berada pada titik... lintang... bujur...
Ia bekerja sebagai pengangkut pasir/tanah dari Jawa
ke Singapura. Ia dibayar demi meluaskan dataran Singapura. Sudah 10 tahun Ia
bekerja disana. Sudah lebih 100 bukit yang Ia keruk-angkut dari Jawa.
Tiba-tiba Hanoman merebut kesadaranku. Ia mengambil
alih laptopku. Ia menulis ini, seolah-olah akulah yang menulisnya. “Aku bekerja
sapuluh tahun lebih, aku bekerja untuk membangun kembali rumahku... membangun
kebunku... Sialan orang-orang itu... orang-orang yang telah membakar rumah dan
kebunku... Aku akan membangun kebunku lagi... lalu aku bisa bertemu ibuku
lagi... Aku akan membangun rumahku... lalu aku bisa bertemu bapakku lagi...
gara-gara orang-orang itu... ibuku mengungsi ke kebun binatang... gara-gara
orang-orang itu... bapakku mengungsi ke pura
di Bali... Aku berjanji Bapak, aku berjanji Ibu... Tertanda Hanoman.
Demikianlah, Hanoman yang berapi-api dalam
kata-katanya.
Demikianpula ketika Walmiki menyusuri sungai, Ia
melihat sepasang burung yang sedang menikmati madu asrama bermain-main dan
berkicau merayakan keindahan hidup dan cinta. Tiba-tiba, si burung jantan tumbang,
jatuh ke tanah. Panah seorang pemburu mengenainya. Melihat pasangannya jatuh
terguling di tanah, si burung betina meratap dengan pilu. Melihat itu, Walmiki
sangat marah lalu mengucapkan kutukan.
Ketika merenungkan kutukannya, Walmiki menyadari keindahan
irama kutukan yang Ia ucap. Kemudian, Walmiki menuliskan Ramayana dengan birama itu...
Keindahan irama kutukan... keindahan Hanoman yang
berapi-api dalam kata-katanya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar