“Tak ada yang baru di bawah matahari.” Memang, tapi siapa yang tahu akan pengalaman menyaksi matahari? Pengalaman melihat matahari, pengalaman manusia “melihat” matahari. Sebab pengalaman melihat, selalu melibat subyek dan makna di dalamnya. “Tak ada yang persis sama di bawah (sedang) melihat matahari.”
Toh, seorang bayi di pedalaman sedang bersandar di savana. Ia melihat mentari terbenam. Seorang Tony Blank usai mencipta Stand Gun Ak 47/Ak 52, juga melihat mentari terbenam. Seorang Goenawan Mohammad menyaksi mentari dari kegaduhan pasar minggu. So, apa mereka “melihat” mentari yang sama?
Pak Sudaryanto, seperti biasa berupa datar. Ia mengajar estetika. Kala itu, beliyo memaparkan pembedaan antara persepsi dan sensasi. Begini tandasnya, sensasi merupakan organ fisiologis sensoris, proses manusia dalam menerima informasi sensoris melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi itu menjadi sinyal neural yang bermakna. Misal, seseorang melihat benda berwarna merah, maka gelombang cahaya dari benda itu ditangkap organ mata, kemudian di proses dan ditranformasikan menjadi sinyal ke otak, dan diinterpretasi sebagai warna merah. Sedang persepsi ialah suatu proses menginterpretasi atau menafsirkan informasi yang diperoleh melalui sistem indera, sehingga menghasilkan kesadaran dan pengertian. Ketika melihat seseorang, benda, atau peristiwa maka akan terjadi proses interpretasi berdasar pengetahuan yang telah dimiliki (yang di simpan dalam ingatan), sehingga dapat menyatakan orang itu cantik, benda itu indah, peristiwa itu mengharukan, dan sebagainya. Dengan demikian persepsi tidak semata-mata bersifat inderawi-murni (sensasi), ia (persepsi) melibatkan potensi kejiwaan: akal, rasa, kehendak.
Cheer, berkah perkuliahan pak Sudaryanto, pengalaman ketiga manusia yang melihat mentari menjadi gamblang (sembunyi). Seorang bayi pedalaman, munkin hanya menengok, ia tidak “melihat” mentari terbenam. Seorang bayi pedalaman cuma buih-buih sensasi. Tak ada makna, tak ada yang dilihatnya selain sepersih gelombang-cahaya-kuning besar-menurun. Namun, lain halnya dengan Tony Blank dan GM. Mereka berdua telah persepsi. Pengalaman “melihat” mentari terbenam, tentu sesak akan interpretasi dan makna. Sekumpulan pengetahuan/pengalaman yang di peroleh selama hidupnya, memampukan keduanya melihat mentari terbenam secara berbeda/maknawi.
Abraham Maslow mengungkapkan salah satu ciri manusia yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya ialah “mampu menghargai hal-hal sederhana atau peristiwa alam, seperti misalnya matahari terbit nan terbenam.”
Ucapan Maslow terbukti dari sosok “gokil” Tony Blank, dimana kita ketahui bahwa pikiran mas Tony yang sesak dengan kata-kata acak, spontan, nan unnameble: yang juga membuatnya jadi gila. Pengalaman akan ruwetnya hidup dan belajar - sampai-sampai membuatnya menjadi setengah waras – tertanam di tubuh dan benaknya. Hingga bekal pengetahuan/pengalaman tersebut, menjadikan Seorang Tony mampu menikmati membuat senjata kalengan, sembunyi-sembunyian di rerumputan, dan senyam-senyum di bangku kos-kosan: hal-hal sederhana.
Begitupun GM, pengalaman studi ke Amerika, menjadi salah satu pembesar Tempo, pencetus Manikebu, hingga dijuluki mafia berkeley, antek liberal, antek CIA, pelecehan seksual di kalangan elite saliharan, dan banyak. Dengan sakumplek pengetahuan/pengalaman, ia mampu berdiri dan “melihat” mentari tenggelam.
Lantas Immanuel Kant bersabda, bahwa pengalaman estetis dapat di alami, jika dan hanya jika seorang subyek melihat(alami)nya tanpa motif/kepentingan tertentu, kecuali keindahan itu sendiri. Namun, seperti kebanyakan orang yang bertanya, apakah keindahan itu sendiri juga merupakan kepentingan? Memang, tapi keindahan sebagai kepentingan dan kepentingan selain keindahan bukankah sesuatu hal yang berbeda? Kepentingan yang tertuju pada keindahan semata-mata jelas berbeda dengan kepentingan yang bertujuan ekonomi, politis, atau ekspalanasi (saintis). Jadi, itu yang dimaksud Kant: “melihat” semata-mata untuk (kepentingan) keindahan.
Tiga manusia diatas (Bayi-Tony-GM), menurut saya adalah jalan untuk mengalami pengalaman estetis. Hanya saja jalan yang mereka tempuh ialah berbeda. Bayi pedalaman mengalaminya akibat kebelum-mampuannya untuk mempersepsi. Seorang bayi belum memiliki kepentingan apapun, kecuali jika kebutuhan asi-makan-minum-nya tak tercukupi. Faktor inilah yang memampukan ia mengalami pengalaman estetis. Bahkan pengalaman estetis sendiri-pun belum disadarinya, di karenakan kebelum-mapuannya dalam mempersepsi. Oleh-oleh itu, kalau ada dari saudara yang ingin mengalami pengalam estetis melalui jalan seorang bayi: pergilah ke dokter syaraf, mintak dia memutuskan syaraf otak anda, agar kemampuan persepsi (makna) anda hilang.
Jalan kedua adalah menjadi seorang Tony Blank. Hal pertama yang anda harus lakukan adalah berfikir tentang segala hal yang besar, yang melibat kepentingan orang banyak. Tema-tema politik kebangsaan, ekonomi global, dan apapun yang serba luas-besar (Ingat! Bukan berfikir tentang masalah pribadi). Lakukan hal tersebut sampai batas mentok kemampuan pikiran anda. Terus, sampai mentok. Jikalau sudah, anda akan termakan pikiran sendiri, termakan ide-kata-kata sendiri. Kebingungan akan menghampiri anda sejahwat. Nan finalnya, biarkan kebingungan itu merasuki hati-pikiran-tubuh anda. Selamat, anda menjadi setengah sedeng. Nah, lepas itu percayalah bahwa anda bakal terlihat lebih sering di jalan-jalan, dengan senyum dan senyuman dan cengar dan cengiran. Kepentingan akan menjauh (terlupa) dari hidup anda, khusunya kepentingan akan kesehatan, ekonomi, dan pengakuan. Oleh itu, dapat mendekatkan anda kepada pengalaman estetis. Anda akan menemukan sesuatu yang sederhana seperti Tony mencipta senjata kalengan AK 47-nya. Jadi, jika jalan pertama cenderung merubah keaadaan biologis (syaraf), jalan kedua adalah dengan merubah keaadaan psikologis.
Jalan Ketiga, menjadi seorang GM. Menjadi seorang GM, memilih untuk sadar. Menjadi seorang GM, memilih untuk belajar. Jadi, kalau anda berani memilih jalan ketiga. Anda harus belajar (humaniora) seumur hidup. Mendalami apa yang anda “suka”, sampai ke tetek-bengeknya. Terus begitu, sampai semua hidup anda tertuju untuk belajar dan belajar. Terus begitu, sampai kebingungan yang hampir sama dengan jalan kedua merasuki hidup anda. Namun bedanya, jalur ketiga ini mengharuskan anda tetap sadar. Tidak terjerumus pada kesakit-jiwaan. Dengan begitu, dengan tetap sadar dari kebingungan akan pengetahuan yang mendalam dan kehidupan yang sedemikian kompleks, anda akan berhasil melalui jalur ketiga ini. Hingga, ketika anda sendiri, suatu sore, melihat mentari terbenam. Anda akan menemukan bahwasanya mentari terbenam adalah ketidakpentingan yang membahagiakan (pengalaman estetis). Jauh dari tetek-kendor permasalahan kehidupan-negara-dan banyak.
Demikianlah saudara-saudara, tiga jalan menuju pengalaman estetis, sebisa mungkin di praktikkan dengan benar dan istiqomah. Efek sampingnya belum diketahui. Kurang-lebihnya saya mohon maaf.
Untuk itu, si botak Foucault memperingatkan kita. Menurutnya, saat ini kita sedang di kuasai oleh rezim disiplin. Dimana Tubuh (individu) dilatih sedemikian rupa agar menjadi patuh dan berguna. Menjadi patuh dan berguna bukan melalui paksaan, melainkan pembentukan individu agar individu mampu menguasai dirinya sendiri, berdasarkan tujuan rezim disiplin, yakni patuh (politis) dan berguna (ekonomis). Jadi, suksesnya rezim disiplin adalah ketika individu memiliki kesadaran sendiri akan pentingnya kegunaan dan kepatuhan, tanpa paksaan dari pihak luar.
Awas! Rezim disiplin ini sungguh berbahaya bagi pengalaman estetis. Sebab, ketika tiap individu telah memiliki kesadaran bahwa dirinya haruslah berguna dan patuh. Terlebih berguna disini dikaitkan dengan kegunaan ekonomis dan kepatuhan dikaitkan dengan politis. Laksana pengalaman estetis mulai menjauh dari dirinya.
Jikalau begitu, untuk tetap kekeuh mengalami pengalaman estetis dalam rezim disiplin ini, saya menyodorkan jalur alternatif keempat. Namun, sebelumnya lupakan dahulu perihal bayi pedalaman, Tony Blank, dan Goenawan Mohammad.
Yap, jalur keempat ini adalah menjadi Cinta (Dian
Sastro) di Film AADC 2. “Yang rela memilih Rangga, lelaki sepi yang demen puisi. Timbang Trian, pengusaha
dan masa depannya yang jelas-benderang.”
Sebelumnya pernah dimuat di website BPMF PIJAR(http://bpmfpijar.com/2016/05/tidak-penting-dan-melihat-mentari-tenggelam)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar