“Titik nadir, berantakan dalam perjumpaannya # Berserakan menimbun tua”
Titik ekstrem, tak disangka begitu menggoda. Perjumpaan dengan gemuruh dada. Kesaatan paling nikmat adalah perang. Mata yang memberat, terasa sedikit bengkak. Tarikan asap yang bergejolak “tek” pada tiap isap tenggorok. Diam simpuh, sedang jiwa bertabrakan: sedang terjadi pertempuran “yang kacau” perang-lawan-berontak-dengan “yang damai”. Titik nadir yang di rindukan.
***
Manusia pensiunan telah sampai pada kegentingan. Menyentuh kekasaran detik-detik kematian. Kita disuguhkan dengan kehidupan manusia tua: manusia sebelum-menuju tiada. Dengan gerak-gerik lamban, berjalan lamban - bergerak lamban - berfikir lamban. Kelesuan yang tampak menyedihkan. Waktu yang segera mati ditanggapinya dengan datar: menonton TV dan burung koran. Datar.
Konon ketika seniman tak lagi di dengar. Ia bicara sendiri sepanjang hidupnya. Tertiba suatu hari, Rudolph Schwarzkogler seorang seniman Jerman, menyayat kemaluannya sedikit demi sedikit, hingga tewas kehabisan darah. Dennis Oppenheim mencabuti kuku jari. Vito Accounci menggilas kecoak tepat di dada. Dan Chris Burden bertaruh nyawa dengan seember air dan arus listrik.
Ironi, inilah kewaras-sintingan seni tubuh. Keelokannya bergantung pada sejauh mana kerusakan tubuh. Maka perkenalkanlah! Salah satu bentuk protes “titik ekstrem”, efek tak di dengarnya suara seniman oleh manusia.
Manusia mengelak, menjauhkan hati-kepalanya. Kesakitan dan pengrusakan tubuh tak berurusan sama sekali dengan hidup dan kepentingannya. Mereka dengan nyaman, pulang ke rumah masing-masing untuk mengaduk kopi. Pertunjukan “Tubuh” hilang seketika kala seruput pertama.
Delapan jam kemudian, kopinya dingin. Pesan berdering di genggam telephone-nya. Kekasih yang bukan orang dicintainya mengirim pesan: ajakan menonton bioskop. Manusia segera bergegas, kopinya dibiarkan mubazir di kerubung lalat.
Antri panjang menjulang di pinggiran gedung bioskop. Menunggu ia sambil bercumbu di tengah kepadatan massa. Lipstik kekasih membekas-nempel rapi di mulut hitamnya. Duduk ia di pucuk kursi studio. Layar lebar dengan kursi merah dan AC yang menggigil. Hanya satu kursi yang di beli, alibi untuk memangku kekasih yang terlihat manis sekali.
Film berputar, dimulai! Berjudul Sleep karya maestro Andy Warhol. Film berdurasi delapan jam dengan isi adegan “orang lalu-lalang dengan kegiatan yang biasa saja, pun di ambil menggunakan kamera yang biasa saja.”
Para manusia berhasil, tuntas menonton film biasa berdurasi delapan jam. Manusia tidak bosan. Andy Warhol gagal untuk mengalienasi manusia. Andy tak bisa apa-apa lagi. Manusia-manusia ini telah kuat dengan “seni yang biasa dan membosankan.”
Seniman tak bisa apa-apa lagi. Penyayatan tubuh hingga meninggal dan biasanya/kebosanan tak lagi mampu menyadarkan manusia. Manusia telah kuat, manusia telah siap dengan apa-apa saja. Manusia telah mampu menikmati sesuatu yang “biasa-dan-masokis-dan-bosan.”
Usai menonton, manusia berpisah dengan saling bercium-cumbu dengan pasangan masing-masing/tumpang tindih. Lantas pulang memesan Taxi, Go-jek, mengambil motor-mobil di parkiran, atau jalan kaki.
Sesampainya di rumah. Manusia mengambil handuk dan mencopot segala busana. Kemudian mandi dengan pintu yang terbuka sambil selfie telanjang untuk diunggah ke media sosial.
“Di pinggir terdapat bangunan melingkar yang merupakan sel-sel tahanan dengan dua jendela terbuka yang diperkuat oleh jeruji besi: yang satu mengarah ke dalam sehingga terlihat jelas dari menara pengawas yang terletak di tengah lingkaran bangunan itu. Jendela terbuka lainnya diarahkan keluar supaya sinar menerangi sel. Dengan demikian bukan hanya siluet narapidana yang kelihatan, tetapi seluruh gerak-geriknya terpantau jelas oleh pengawas. Narapidana tidak tahu siapa atau berapa yang mengawasi. Mereka hanya tahu bahwa dirinya selalu diawasi. “ (Penjara Panoptik).
Usai mengupload foto plus video mandi telanjangnya ke media sosial. Manusia merebahkan badan sembari menutup tubuhnya dengan selimut. Lima menit kemudian, manusia tertidur nyenyak.
Sebelum tidur, sudah tak ada tempat untuk setan, kuntilanak, pocong, pemerkosa, pembunuh, pencuri, dan tuhan dalam pikirannya. Manusia tidak lagi merasa diawasi oleh hal diluar dirinya maupun dalam pikirannya (lihat penjara panoptik).
Ngomong-ngomong, seniman sudah dikubur di dalam makam tanah kosong!
*Lebih enak membaca jika disambi mendengar: I Know It’s Over – The Smith.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar