Minggu, 14 Februari 2016

Valentine: Di Persimpangan “Sendiri” dan “Berpasangan”



Hari ini, tak boleh dilewatkan angin begitu saja. Kebetulan, ada kewajiban untuk menyambut papa-mama. Segerombol pesawat tiba di Lapter Soekarno-Hatta sore ini. Televisi, media online, dan cetak siap kebut-begal demi headline utama. Tahun ini begitu kontoversial, bukan sekadar musim haji biasa. Ini baru luar biasa.

Usai bulan lalu heboh pemberitaan, “Rombongan Jamaah Tertangkap Basah Memborong Buah Zakar.” Segelinuk media online-cetak-tv diperiksa 24 jam di bawah pengawasan.

[1]
Valentine, selamat hari kasih sayang sedunia! Segelumit pasangan seketika bersuka canda. Sialnya, jikalau anda(lelaki) dilahirkan di negara dengan sistem patriarkal yang masih strong. Anda mesti berburu ria, coklat-kecoklatan di toko kue H-1. Lepas pulang, jangan lupa keep-safe-save-protect itu coklat di tempat 0 derajat celcius. Sedang tepat pada hari “H”, mandi sabun, shampo bolak-balik, sikat gigi anda sampai menyentuh kerongkong-tenggorokan. Lalu, sisir rambut-ketiak-jembut dengan ludah sendiri. Berangkat segera, tentukan tempat. Biasanya sih di quite place with little candy berapi kuning redup. Reserved, berangkat. Lampu merah sodakauloh before your meet place. Biasanya banyak anak alay seng dodolan kembang berbagai macam. Don’t forget beli setangkai bunga, biasanya sih mawar abang. It’s important, sebab bunga mawar abang langganan lampu merah, masih terdengar harum cintanya.

Shaap, ente sudah di meja reserved. Duduk dengan tenang, keep calm and biarkan tulisan reserved tetap utuh di samping tangan ente. Niku luxury jenenge, mewah. Slaap, pasangan anda terlihat dari kejauhan, radius 30 meter. Siap, ready. Jangan bergerak sedikitpun. Tenang. Lihatlah pasangan anda, ia memakai gaun dan lipstik menyala. Hmm, matanya berair namun tak lempeng.

Slaepp, pasangan anda meletakkan tulisan reserved ke under korseh. Ia menatap mata-mu. Hening sejenak, satu sampai dua menit. Biarkan kesunyian menghinggapi kalian berdua. Haah... selesai sudah. Beri bunga mawar abang dan coklat itu. Sekarang!

“Selamat, anda mendapatkan ciuman.”

[2]
Mhmpmah... sekelebat ciuman menyambar dan membangunkan “sang sendiri.” Dikala pasangan masih sibuk dengan taplak reservednya. Sang sendiri baru mengakhiri tidur siangnya. Padahal itu sekitar jam 8 malam. Padahal lilin kecil, coklat, bunga, lampu kuning, ciuman, dan lampion, sedang hangat-hangatnya. Sang sendiri bergegas cuci muka. Wastafel kecil dengan air yang tik-tik-tik, kaca yang memutih-blur. Ia berkaca, lalu mengelap wajahnya yang menempel pada kaca.

Sang sendiri, merem-melek manja. Tanganya menggantung mie rebus, jarinya terselip kopi sachet. Aaaahhhhh... menguap sambil menyentuh tombol netbook.

Hahahaha... dia memulai dengan tulisan. Sang sendiri menertawai kesendiriannya. Itulah saat paling membahagiakan dalam hidupnya. Berkat akumulasi kesedihannya selama, ‘lama pokoknya’. Hari itu, ia menghasilkan beribu-ribu karakter panjangnya. Log in email, sent to alamat website yang kurang kerjaan.

“Sang sendiri yakin dengan pengorbanan. Kesendirian dan kesedihan yang cukup lamadirasakan, mampu membuatnya menghasilkan sepucuk-harum tulisan.”        

***

Alhamdulillah, rombongan papa-mama berhasil mendarat dengan selamat. Tak ada korban, tak ada serangan jantung. Pelukan terlihat ramai membanjiri pipi dan tapak kaki papa-mama. Ku bawa pulang. Duduk bersama, bercerita tentang indahnya mengitari-kotakhitam-tujuhkali. Lepas itu, papa-mama merebahkan badan.

Aku sendirian, di ruang tamu dengan berpuluh kardus oleh-olehan. Kulacak diantara kardus yang dirasa mengasyikkan. Aha! Kupilih dua kardus kesayangan. Kubawa pergi keluar rumah.
Menutup pintu dengan perlahan. Menyalakan motor. Mengendara santai di malam valentine.

“Terlihat kekasih yang telah menungguku cukup lama, ia pelacur langgananku. Ah bahagianya.”


“Ini untukmu,” ucapku sambil memberi kurma dan air zam-zam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar