Sabtu, 20 Februari 2016



Akhirnya masa itu datang. Ramalan seorang tabib menjadi nyata, bukan banyolan, bukan permainan, bukan lamunan, tapi kenyataan.

Tengah malam di sebuah ruangan...

Hanya tembok putih namun bukan putih, bukanpula transparan. Putihnya kelam, sedikit bercampur hitam. Namun bukan hitam, bukan pula kegelapan atau ketiadaan cahaya. Hitamnya lebih dekat pada keabu-abuan. Ruangan itu terlihat putih bercampur hitam dan keabu-abuan pada kedalamannya.

Sekelumit itu jua, semilyar semut mulai terlihat berjalan-merangkak pada tiap sisinya. Bermunculan dari ujung lubang ruangan. Padahal tak ada apa, tak ada bangkai, tak ada sisa makanan di ruangan. Tetapi semut tetap begitu. Anehnya segerombolan semut itu hanya memenuhi dinding ruangan, seolah tidak tertarik pada permukaan lantai, dan kentinggian langit-langit ruangan. Para semut berjalan vertikal memanjat dinding, tapi seketika itu jua semut berjatuhan. Terus begitu, naik lalu jatuh, naik lalu jatuh. Bukan lantaran tak mampu menuju ketinggian, para semut justru sengaja menjatuhkan diri. Entah apa artinya.

Plakkkk.... Dsshhhh.... Blarrr...

Tiba-tiba lantai ruangan bergetar keras, retak bagai akar pohon beringin semak belukar.

Lima manusia gugur berjatuhan, bak bangkai mayat di pinggir hutan. Seketika itu jua, semilyar semut mati berjatuhan.  

Berserakan, semilyar semut yang telah almarhum-almarhumah itu menumpuk di lantai. Menumpuk layaknya tanah kuburan, takdir. Kelima manusia terkubur semilyar semut dalam satu ruangan.

“Aku tak sanggup melihatnya.”

Hingga pada akhirnya dalam setengah hari, bulan, dan tahun. Kelima manusia tak kunjung maenampakkan nafas-geraknya. Pun satu-persatu semut mulai membusuk, mengerucut, padahal tak ada belatung yang merauknya. Seolah-olah lenyap begitu saja.

“Aku bosan begitu saja.”

Semilyar semut disapu angin seketika. Anehnya, kelima manusia tetap utuh.

“Aku mulai ketakutan.”

Untungnya kelima manusia masih terlihat memejam, nafasnya belum terdengar, tainya belum keluar. Kelima manusia itu terlihat tenang, bibir kesemuanya berdasarkan senyuman-ketaatan. Kesemuanya, kelima manusia hampir serupa. Hanya saja, mata kelima manusia itu, matanya tak seragam, mata yang tak bisa kutebak. Sepertinya mereka berlima berbohong, memejam mata dalam kepuran-puraan abadi.

“Aku melotot.”

Mata kelima manusia perlahan menampakkan dirinya. Yang satu, berkedipan dengan warna hitam kelam. Yang kedua, membuka dengan perlahan sedikit kebiru-biruan. Yang ketiga, melotot seperti melihat setan, merah darah. Yang keempat, terbuka separuh antara tertidur dan terjaga, putih seluruhnya. Yang kelima begitu menyeramkan, matanya terbuka di dalam kelopak mata yang tertutup.

Kelima mata manusia itu...
Itu...
Tak saling pandang, mereka hanya memandang langit-langit ruangan.

Aarrrggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,
manusia pertama seketika berteriak. Matanya yang hitam kelam terlihat menahan tangisan, seperti mau copot. Sementara tangan dan kakinya belum juga mampu bergerak, ia terus menjerit kesakitan.

Aarrrggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Aarrrgghhhhhhh.  Aarrrggghhh.  Aarrrggg.  Aarrr.  Aa.  A.
Jeritannya perlahan reda. Namun bukan tanpa akibat, selesai jeritan manusia pertama, sepertiga lantai ruangan, menguning dibuatnya. Manusia pertama kencing sembarangan.

Masalah! Masalah! Masalah! Pikirmu begitu? Apakah ini akan menjadi sebuah masalah?
Menurutku tidak. Sebab Apa?

Tiga indera kelima manusia belum dapat menjalankan fungsinya. Mereka berlima hanya bisa melihat dan berbicara untuk saat ini. Belum bisa mencium bau, merasa, dan mendengar. Jadi... air dan aroma pesing kencing menjadi tak punya arti.

Tapi sesaat setelah air kencing... keempat manusia lainnya yang semula memilih diam, menjadi semakin tak karuan.
Ada yang menangis, menyanyi, mengumpat, sampai terbahak-bahak.

Tak hanya itu, selain kebisingan yang telah mereka buat. Ruangan itu menjadi semakin kacau, tanpa tatanan. Manusia kedua yang memulainya, ia meludah sembarangan-sesukanya. Bukan sekedar ludah, ludahnya berlendir dan berdarah. Pun, volume air ludahnya tak dapat dipercaya, menyeramkan. Ludahnya bak banjir bandang bercampur tsunami berombak. Manusia ketiga tak kalah mengenaskan, ia menghambur-hamburkan kotoran hidung dan ingus hijau lumutnya. Begitupun manusia keempat, mengeluarkan air mata yang sedikit menguning, mungkin seperti nanah, tapi lebih buruk. Akhirnya, manusia kelima. Ia buang air besar setinggi perbukitan.

Lagi-lagi, untuk yang kedua kalinya. Kelima manusia terkubur hidup-hidup.

“Aku hampir pingsan, mati kebauan.”
“Takkan kubiarkan. Akanku selesaikan.”
“Aku memejam, menutup hidung, menutup telinga, menutup suara, menutup pori-pori, menutup indera.”
“Mencoba untuk bertahan, menikmati, dan beradaptasi.”

Grukgkurekruk, kruwekwkck, kreak, greukwaekek.
Kotoran dalam ruangan seperti bersuara. Kemudian bergetar, namun tak kencang. Semakin menurun, semakin menurun, semakin menurun. Berbagai macam kotoran itu, sedikit demi sedikit berkurang volumenya.

Grukgkurekrukkruwekwkckkreakgrukgkurekrukkruwekwkckkreakgrukgkurekrukkruwekwkckkkkkkkkkreakgrukgkurekrukkruwekwkckkreakgrukgkurekrukkruwekwkckkreakggrukgkurekrukkruwekwkckkreakgrukgkurekrukkruwekwkckkreakgrukgkurekrukkruwekwkckkreakgkreeeek.

Lenyap. Kotoran lenyap. Lenyap. Kotoran lenyap. Lenyap.

Jangan kaget. Kelima manusia telah memakan dan meminum kotorannya sendiri. Kelima manusia bertahan hidup.

Oaaaaaaaaaaaa...
Suara ayem terdengar. Kelima manusia menguap, tanda kekenyangan. Wajahnya menjadi terang benderang, cahaya. Bibir dan matanya tersenyum manja, kelopak matanya memeluk mata. Kelima manusia mengantuk nyata.

Kemudian perlahan, dengan sangat perlahan. Menikmati setiap lekukan kelopak. Kelima manusia memejamkan matanya. Hmm, damai sentosa. Ketiduran.

“Ah...akhirnya.”
“Selesai sudah. Akhir yang indah bukan?”
“Detak jantung dan kelaminku sampai melambat begitu syahdu, aku dalam syukur.”

“Kubuka mataku dengan harapan, kubuka telinga dengan nyanyian, kubuka mulut dengan pujian, kubuka poriku dengan belaian, kubuka hidung dengan wewangian. Kubuka inderaku dengan perlahan.”
           
“INI ADALAH PERTANDA, HARI ITU AKHIRNYA TIBA: LIMA MANUSIA YANG DATANG-JATUH SEKETIKA, DALAM SEBUAH RUANGAN HAMPA YANG PENUH TANYA. LIMA MANUSIA YANG TERPILIH SEKALIGUS MEMILIH. TANPA SEBAB, TANPA SYARAT. TERPILIH DAN MEMILIH SECARA ACAK.”

Dan, benar adanya. Setelah menghabiskan kotoran yang berlimpah, serta ketenangan yang diperoleh dalam ketiduran. Mereka berlima terjaga, sadar.


Manusia Pertama
1.      Mengaktifkan indera
2.      Berdiri sejenak
3.      Membungkuk seperti memberi penghormatan
4.      Duduk bersila
Manusia Kedua
1.      Melompat-lompat
2.      Merentangkan tangan
3.      Duduk menjulurkan kaki
Manusia Ketiga
1.      Berteriak ‘ooooooooo’.
2.      Menggelengkan kepala
3.      Memejamkan mata
4.      Jongkok
Manusia Keempat
1.      Duduk menyilangkan kaki
Manusia Kelima
1.      Melotot
2.      Berteriak ‘a, i, u, e, o’
3.      Menggoyangkan kuping, hidung, dan bibir.
4.      Mengerutkan dahi
5.      Berlari mengitari ruangan
6.      Duduk, menempelkan dagu pada kedua lututnya.

“Aku tak tahu harus bilang apa, sepertinya kelima manusia itu terburu-buru. Padahal baru lima menit yang lalu, mereka tenang dalam ketiduran. Sial.”


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar