Aku diundang makan malam. Keluarga sederhana yang tampak datar. Sajian hidangan membuat getir pemandangan. Lauk pauk di meja makan, muasal dari rambut hingga jembut yang diawetkan. Daging ayam, babi, dan sapi tak ada di hamparan. Dagingnya kanibal. Tulang-belulang manusia dari makam-kuburan.
“Seseram itu, percakapan masih bisa dimulai. Tak wajar.”
Mereka bercerita tentang persetubuhan. Nikmatnya birahi stimulan. Silang kenikmatan bukan lagi ayah-ibu. Kini merembet kepada ayah><anak, sampai ibu><anak, sampai anak><anak. Gila. Untung aku tuli, buta, nan lumpuh. Daging kanibal plus obrolan, mustahil sampai pada aku.
Beres, beres. Masing-masing mencuci piring. Lantas bergegas ke kasur.
Aku ingat Tuhan. Menuju tempat peribadatan, seberang rumah keluarga sinting itu. Masuk pintu, hawa sejuk seraya menyambar dadaku. Muntahan dimana-mana. Kencing dan ludah yang berserak-banjir. Didalam tempat peribadatan: sekumpulan manusia sedang mabuk-telanjang, berdebat-cum-menghujat tuhan dan agama yang mengekang kebebasan.
Dibuat muak pula aku disana. Keluar lagi daku. Menuju rumah keluarga sinting. Sekadar merebahkan hati-pikiran.
Tertidur.
Esok harinya, aku bangun duluan. Anggota keluarga sinting belum terjaga. Perihal sibuk termasing-masing dalam kamar. Masing-termasing khusuk merenungkan hidup dan ke’diri’an. Serba-serbi eksistensi. Dimulai dari pertanyaan ‘ada’, lalu ‘kecemasan’, sampaiii ‘kematian’.
Aku sendiri dikala siang dan sore. Keluarga dan warga sekitar belum bermunculan. Mereka masih sibuk dengan dengkur-ngorok-an.
Lingkungan macam apa ini?
Keluarga dan waga sekitar tak percaya lagi pada ketabu-malu-an. Sedang aku, untuk pipis saja masih bergegas mengunci diri di kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi. Keluarga dan warga sekitar mulai bermuncul-batang-hidung-nya.
Aku diam sejenak mengawasi. Menunggu kesadaran
mereka pulih sepenuhnya. Dua, tiga jam aku menanti.
“Mereka telah penuh,” ujarku. Mereka telah siap.
Dengan was-was segera, mumpung tempat peribadatan urung disesaki mahluk-mahluk pemabuk. Aku bergegas kesana. Kuambil speaker, lalu volume full-up:
Apa tujuan kalian? Tanya-ku dari speaker tempat peribadatan.
*Keluarga dan warga sekitar menangis untuk
pertama-kalinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar