Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat tentunya. Sebagaimana Steven Gerrald dalam Liverpool dan Boaz Salosa bagi Persipura. Sepuluh tahun, cukup menjadikan mereka “ahli” dalam profesi. Sepuluh tahun, hingga hafal luar-dalam kepala tiap sudut-sisi “kandang”nya.
“Sembilan tujuh, sembilan delapan, sembilan-sembilan, cepek.”
Sang penjaga dengan segera-sigap-tangkas mencari ‘teman-yang-sembunyi’.
Jarwo! Michael! Syeikh! Mamady! Lee!
Lihat, hanya perlu seribu detik untuk menemukan mereka berlima. Payah, mereka monoton dalam persembunyiannya. Jarwo terlalu sering dalam semak. Michael ‘mainstream’ di genting. Syeikh ‘akhul yakin’ di tempat wudhu. Mamady ‘nsdgnsgsg’ di pohon kelapa. Lee ‘xi fa cai’ di bangunan kosong.
Tapi tunggu... ada satu yang belum tertemu. Dial-ah Alien.
***
Siapkan clurit, siapkan pisau ukuran sedang. Ayo! Kita mulai perjalanan. Menaiki bukit, sandal yang licin tentu sering terpeleset. Gendong-gendongan, lari-larian, nakut-nakutin. Ular sedikit merayap di sekat-sekat ranting bambu. Ayam gunung dapat terbang setinggi raksasa. Itu bukan perkara bahaya.
Tibalah di lapang rata, pertanian tebu. Terlihat banyak yang pemalu, cenderung muda. Tebu-tebu selintas masih dalam masa labil. Terus kami telusur-susuri. Ada sekitar 200-300 tanaman tebu, calon gula.
Aha... ketemu. Tebu yang sedang dewasa. Slaaapp, bunyi pisau menyerempet tubuh tebu. Sreet, clurit telah menumbangkannya. Ah, lagi-lagi kami harus mencuri untuk bersenang-senang. Maaf pak mandor.
Hemmm, clem-slem. Nguliti tebu, hingga termakan. Tentu bukan dikunyah, tebu hanya nikmat taktala dihisap. Usai, pisau dikembalikan ke saku. Clurit dikalungkan perlahan. Perjalan pulang yang mengenyangkan. Dua, tiga, 40, 100 langkah. Di pinggir ada bebunyian. Seekor burung telah dimasukkan secara paksa ke dalam lubang perawan. Kami melotot, seraya berjalan. Cukup ramai juga. Malam itu, terdapat dua, tiga, sampai empat puluh pasang sedang “bermain” hadap-hadapan di tebu-jagung-padi-hutan. Ah! Ah! Uh-ah!
Tersampai kami di jalan lapang. Tak terasa adzan subuh telah berscream-kumandang. Turunan, sementara perut penuh gula haram. Ini seperti kutukan akibat pencurian. Tiba sekaliber melewati pasar pagi. Pedagang sayur paling laris-pahit. Ada juga penjual tembakau, perhiasan kw, sampai baju-bajuan. Semua pedagang digandrungi laris manis. Kami menguping seraya melewati. Percakapan yang aneh. Tak kedengaran seperti jual beli. Ada yang asing ditelinga. Terucap nama “Nietzche” berulangkali. Feurbach urutan kedua. Plato urutan ketiga. Siti Jenar urutan keempat. Serta Tony Blank diurutan terakhir. Kampung dan manusia macam apa mereka ini?
Turunan. Menurun, pasar tertinggal bagai fatamorgana. Sebelum lenyap, manusia di pasar berseru,”Tuhan (dengan ‘T’ besar) telah mati, manusia (dengan ‘M’ besar) telah mati.” Kami merengut, pura-pura melambai. Daaaaa......
Pasar lenyap, disusul mata-kuning-besar yang tenggelam. Hari mulai malam. Plass, membakar api. Membuat api anggun. Menghisap sisa tebu. Kenyang. Lalu mengantuk. Tertidur perlahan, dengan mata separoh terpejam.
Isi mimpinya: Kami berlima menertawakan empat puluh orang yang ah-uh-ah di perkebunan tebu. Kami berlima menertawakan seruan warga pasar perihal tuhan-mati-manusia-mati.”
Terjaga.
***
Alien tak kunjung di-temu. Pasar dan kebun tebu sudah kami telusur. Alien tak ditemu. (Sebagai penulis, saya menyuruh Alien pulang. Rumah alien bertempat di antara pasar dan kebun tebu. Jangan bilang-bilang. Ssssht).
Sudahlah! “Kita pulang saja, siapa yang peduli pada permainan ini. Mungkin alien sudah tidur-nyenyak di rumahnya,” teriak kami berlima.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar