Minggu, 07 Februari 2016

Cerita: Antara Kedalaman, Soktahu, dan Humor.


Sudahlah, sepertinya “cukup” telah melebihi “C” di dalam rapor. Sudah terlalu banyak manusia yang mengeluh. Sekolah dari taman bermain sampai PH.D main-main. Sedang pria tua dalam pos ronda sering berseru.”Dahulu, yang namanya orang sakti bisa terbang tiap hari ke Mekkah.”

“Selintas, kami semua terdiam.”

Kawanku sontak tak terima, ia berbisik. ”Orang-orang itu, yang hidupnya di kuasai mitos, legenda, sampai mukjizat gak bakal bisa di ajak omong. Sudahlah, diam saja. Diam itu freeport.”

“Selintas, kami tertawa dalam hati.”

Kemudian obrolan kembali me-angker. Tatapan mata meredup, sok serius. Duduk bersila, sok waspada. Mulut memekar, sok wisdom. Namun begitu, tiada cerita antara kita. Hanya bergelut-jotos-jotos-an dengan sudut pandang acak-acakan, yang notabene baru di pelajari kemarin lusa.

“Hakikat manusia, tuhan dengan ‘t’ kecil maupun ‘t’ besar, pengetahuan, sosio-politik-ekonomi, sastra, sains, seni, agama, budaya, dan tai-tai lainnya.”

Tentu sambil menengok sekitar, barangkali ada tongkrongan dengan obrolan serupa. Tetapi sial, yang terlihat hanya segelintir pemuda-pemudi dengan brand dan fashion terkini. Tetapi sial, yang terpampang hanya segelintir pria tua dengan mitos, wong sakti, dan setan-setannya.

Kami tertawa memupuk dada, seraya berbisik. ”Obrolan tak penting. Rendahan. Dangkal-cetek.”

Lepas itu, tak ada lagi yang namanya batas. Tengah malam, subuh, menjelang mentari terbit di lewati begitu saja. Ngobrol terus... hingga ada yang menyapu tanda penutupan. Pagi hari baru jumpa dengan kasur, geletak.

***

Esok hari, masih bersama hasil evolusi monyet dan tempat yang sama. Lagi-lagi terbentuk lingkaran. Orangnya-pun itu-itu lagi. Bapak-bapak, pemuda-pemudia, kami.

Jebret! Tiga, dua, satu. Obrolan start kembali. Hanya saja malam itu, kami terdiam cukup lama. Coba-coba berfikir, coba-coba menyontek. Terlihat pemuda-pemudi sebelah mulai berani bicara tanam-tanam saham dan bisnis distro-shoping-online-nya. Duit bergerilya di lingkaran mereka. Sesekali, mendapat panggilan dari rekan bisnis dan pelanggan setia. Sudah dua tahun memulai bisnis. Kini, dapat membeli motor, smart phone dan kredit mobil.
 
Terus, bapak-bapak angker. Sedang mengeluh capainya makanin istri-anak. Lembur, merantau ke belahan nusantara. Jual tenaga, sekedar angkut-angkut dan jaga sana-sini. Duit bergerilya di lingkaran mereka. Sesekali menghitung-hitung ongkos pendidikan dan sayur-mayur keluarga sederhana.

“Kami semakin diam, setelah tahu kerasnya.”

Malam makin berpisah, hingga pagi membumbung. “Kami tak sepatah kata-pun.” Lantas pulang dengan dada tertikam. Tidur tak nyenyak, padahal tak ada ke’laku’an.

***

Lusa, kami berkumpul lebih malam. Sekitar waktu tahajud.

“Tak ada yang berani memulai obrolan. Tak ada yang berani menyontek. Tak ada yang menoleh. Hanya kami menunduk.” Sementara pemuda-pemudi kian sukses, bapak-bapak makin menabung. Makin tertawa bahak-bahak.

Hitung mundur menjadi bukan tiga-dua-satu. Sekarang mencapai 1000.

“Sudahlah toh kita siapa, bisikan kawan. Terima saja.”

Seketika obrolan mencuat lagi. Tapi dengan kesadaran berbeda. Yang pada awalnya membusungkan dada, kini turun ke kelamin. Sekedar “kesoktahuan” yang berulangkali coba ditertawakan. Menertawakan ironi.

“Alhamdulillah, entah mengapa waktu melambat sekali malam itu.” Syukur.

Kami pulang dengan kelamin yang menertawakan dirinya sendiri, tak lagi busungan dada. Tertidur mesra, mati yang tersenyum. Seperti orang baik-baik di film hidayah.

***

Esok lusa, dengan tak menunggu-nunggu malam. Kumpul cepat di sore hari. Bangun dari lapuk, minum air putih, merokok sebatang, lalu melingkar.

Akibat kesorean, pemuda-pemudi dan bapak-bapak belum terlihat. Baru kami sendiri, dengan lingkaran yang saling bertabrak dengkul. Mesra. Satu-satu mulai mengeluh, tertawa, mengeluh campur tertawa. Tertawa berdasarkan keluhan. Begitu, silih berganti. Terus begitu.

Seminggu, dua minggu, tiga, empat, sepuluh, hanya begitu. Ngeluh terus... hingga kelamaan tak dapat tertawa lagi. Kesoktahuan, kesongongan, kesia-siaan, tak lagi dapat di tertawakan. Kami memutus lingkaran. Tenggelam dalam kesedihan termasing-masing.

“Melihat pemuda-pemudi dan bapak-bapak yang kian madani.”

Hingga... pada setelah 365 hari. Kami tak lagi bicara teori, pemikiran, rumus-rumus, dan tai-tainya. Kami berkumpul, kembali membentuk lingkaran.

“Hanya bercanda sewajarnya, seperti cinta-trend-fashion dan mitos-mitos terbang ke Mekkah.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar