Jika tuhan bersedia, laksana pertemuan ini bakal segera terjadi. Veteran yang masa senjanya sibuk dengan burung, kopi, dan koran datang pertama-an. Ia disusul aktivis-perempuan-tua bertubuh kurus, matanya pucat, tapi tak bungkuk. Vokalis Nivana, Kurt Cobain yang linglung-pun tak sengaja nimbrung, dengan mata beler dan otak setengah connect. Belakangan dan sedikit telat, tanpa identitas apa-pun, aku duduk diantaranya.
Pertama-tama sang veteran terlihat sangat gagah, ia memulai cerita perihal senggol-bacok-tembak-tembak-an, saat tempur. Pengalaman hidup mati, ambang batas kematian, sembunyi dari ketakutan, dan bekas luka yang memenuhi seluruh badan. Lututnya di palu, hidung sedikit bengkok, sobekan belati di perut, dan kelamin yang telah terkebiri berkali-kali.
“Sang veteran tak tertawa sejengkal-pun.”
Kedua-dua, perempuan tua mengambil alih lini perceritaan. Perempuan dengan paras dan masa muda yang cantik, belajar dari Indonesia sampai Eropa. Perempuan cantik, sekaliber cerdas. Bicaranya cepat, tanda manusia pintar. Pintar, cantik, bicara cepat. Ah, tapi seperti pada umumnya: sedikit judes-cerewet. Menggapai massa, advokasi kaum miskin-marjinal sana-sini, demonstasi, orasi selama hidupnya.
Brakk! Kepala Cobain menggeletak di meja, ketiduran.
Ketiga-tiga, Cobain berteriak seenaknya, bersiul semaunya, mengumpat segampangnya. Ia tak peduli apa-apa. Mulutnya bau alkohol, pupil hidungnya terselip heroin, serta kecap-kecap bibir usai obat-obatan. Cobain tak bercerita apa-apa, hanya berteriak-ngumpat-lalu-tergeletak. Cobain overdosis di tempat.
“Sepi... padahal aku tertawa dalam hati, tertawa dalam otak-otak. Tak ada yang dengar.”
Keempat-empat, aku tak bicara. Sebab apa lagi? Cerita peperangan, demonstarsi besar-besaran, sampai mabuk-mabukan adalah segalanya. Tak lagi ada celah untukku bercerita. Toh, veteran yang gagah, aktivis perempuan, Cobain yang barusan mati, sudah keburu meninggalkan meja-pulang. Sial, aku bersyukur.
“Seorang anak pasca reformasi, hanya terisi “Power-Ranger” di dalam kepalanya. Minggu pagi depan layar televisi.” Tak ada yang istimewa.
Bisa ditebak, ketika ada monster datang ke bumi. Mengacau dan menakuti manusia. Gedung, rumah, sampai bangunan di hacur-ratakan. Sebelum hancur semua, ada lima manusia datang-kumpul. Tak terlihat takut, mereka malah sangat bernafsu.
“Berubah!”
Ranger merah, ranger kuning, ranger hijau, ranger pink, ranger biru.
“Bergabung! Ranger merah, ranger kuning, ranger hijau, ranger pink, ranger biru: Goenawan Toer Wahid.”
***
Ada yang melambai seketika, tak hanya tangan, bibirnya juga melambai. Kaos oblong, bak tukang kebun. Celana pendek, anak kos kesepian. Sandal jepit, murahan. Siapa sangka ia presiden.
“Tukang kebun seketika bangga dengan penampilannya, anak kos tak lagi kesepian, murahan tak lagi berarti rendah.”
Sang presiden berdzikir, tak pernah mendahului titah lima gurunya. Budaya kyai-santri tak pernah dibuang ke selokan. Sang presiden bersholawat, akulurasi jawa-arab-islam. Syiir tanpo waton berkumandang dalam setiap detik tukang kebun, sepi pemuda, dan murah yang tak rendah.
Dimana ia berkumpul, tak pernah ada ‘kedalaman kesoktahuan’. Paling-paling ia mengelak, lalu terpingkal-pingkal. Sebab apa? Baginya tawa adalah ke’inti’an. Ceplas-ceplos yang berujung tawa, bukan marah urat-uratan. Sang presiden sadar betul.
“Huahahahaha”..33x
Disaat zaman dan manusianya belum lepas tertawa. Seorang manusia telah belajar sampai ke Amerika. Namun, tak seperti kebanyakan malin kundang yang lupa kampung halaman. Ia berpulang, kembali ke tanah air-kolam susu. Berdiri dengan kepala dan hati sendiri. Meliput semua kejadian efek penindasan. Pengontrolan keji oleh kekuasaan. Ia kabarkan apa-adanya/ada-apanya.
Bukan perkara mudah, berdiri di kaki sendiri. Sebab senapan dan cambuk tajam, setia menanti di halaman depan. Tetapi ia biasa saja, dengan sedikit senyum dan diam. Pemikirian, konsep, dan teknik kebaruan senantiasa ia pelajari. Tak pernah ketinggalan.
Bersyair, menulis, dan mengabarkan. Ia bertindak dalam ketenangan. Hingga ia dan kawanannya mampu berdiri sendirian di tengah kontrol penguasa. Sensor yang ketat dalam dunia kewartawanan, ia pelintir dengan permainan kata-sastra dan satire-cerdas.
“Ia merokok dengan hangat di segerimis hujan, demi kebebasan.”
Tak selesai dan belum selesai. Seonggok manusia di asingkan dalam penjara jauh. Ia membahayakan, sebab itu ia di jebloskan. Seorang manusia yang memiliki mata dan tenaga merubah penderitaan-kemiskinan-kepalsuan.
Menghitung, menganalisa, berspekulasi perihal perubahan. Hidupnya dicurahkan dalam misi kemuliaan. Dengan menghindari kekakuan, ia menulis. Data dan datum yang ia lihat, ditularkan dalam bentuk indah dan emosional dalam karya sastra. Sastra realisme.
Namun apa ujungnya? Karyanya dilarang, orangnya dijebloskan. Karyanya sampai jauh ke belantara dunia, tapi di negeri sendiri di berangus. Apa ini?
***
Oh... meja makan tinggal aku sendirian. Veteran telah pulang, aktivis perempuan telah pulang, Cobain telah pulang. Ceritaku hanya tinggal meja, gelas, dan lampu padam yang mendengar...
Ah, tuhan. Kabulkanlah manusia gabungan.
Melawak dan berdzikir dalam benak tiap manusia, berfikir bebas tanpa sensor-tanpa penguasaan, hingga penglihatan dan tenaga yang senantiasa merubah penindasan-kemisikinan.
“Goenawan Toer Wahid.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar