Rabu, 27 Januari 2016

Ketakmungkinan Ikhlas, Bermain, dan Makna.


Banyak yang mengeluh. Tak punya kaki, tak ada lengan, tak bisa jalan-kaki, dan kemustahilan makan dengan tangan. Tapi, lain hal-nya dengan pundak. Tak ada satupun yang hidup tanpa pundak. Pundak kanan-pundak kiri, pundak kiri-pundak kanan. Dari sanalah niscaya, tumbuh benih bisikan. Suara yang tak bersuara, bisikan. Suara- tak-bersuara yang menentukan/membatasi arah kehidupan.

Kutengok kanan, niscaya ia akan menyapamu. Kebaikan, kebenaran, keindahan niscaya datang dengan nafasmu. Sedang, jika kau tengok kiri. Kejahatan, kesalahan, ketakindahan, niscaya memeluk-cumbu perut-kelaminmu.

Oh... Tanyakan-lah segera pada lelaki dan perempuan yang membentuk plus melemparkanmu. Apakah sepasang jantan dan betina itu masih tersenyum, kala mereka membuatmu? Iya atau tidak.

***

Terlanjur, kau hanya tak berdaya. Semilyar sperma keburu berlomba tancap gas, menuju telur ber-sel satu. Siapa yang juara, tanyaku. Tentu dia-lah, satu dari semilyar sel sperma yang finish pertama, usai senggol-bacok dengan sesamanya. Sial, itulah kau: satu yang juara. Tak bisa mengelak, sebab kau adalah yang terpilih, sebab kau telah berusaha. Ah, perlombaan macam apa ini? Kau yang juara, ya, kau! Apa kau tak pernah bertanya: Atas dasar motif apa perlombaan ini digelar, mengapa semilyar sel-sperma berebut menjadi juara, mengapa semilyar sel-sperma tak tinggal diam saja, dan menolak berlomba? Tak ada yang tahu, begitu pula dengan aku yang bertanya, tak tahu.

Usut punya usut, kau tertiba menangis di pangkuan ibu-betina. Menangis, diam, menangis, diam. Hanya itu awalnya yang kau tahu. Sejenak kau diberi nama, padahal kau tak minta. Lepas itu, kau mesti hinggap di pangkuan betina, dengan mulut yang terbuka dan terisi asi-payudara. Dan itulah awalnya, sejak saat itu: menangis bukan lagi menangis. Tangisan-menangis yang pada awalnya hanyalah kesedihan (memenangkan lomba sel-sperma) terlempar pada dunia, kini berubah menjadi alibi terhadap asi-payudara. Menangis-lah.

Oh... Sang pemenang kini mulai pikun dan lupa. Sang pemenang telah sombong-perkasa. Tangisan-menangis yang dapat menghubungkannya dengan “dunia sebelum,” kini putus seketika akibat kelupa-pikunannya. Asi-payudara telah menjadi candu dalam nafasnya. “Menangis yang bukan lagi menangis.”

Ah... candu pada tetek, tak lama umurnya. Belum genap dua tahun, kau menceraikannya. Kau tak mau lagi, pada asi kental yang putih warnanya. Sombong-perkasa, kini kau memilih yang berwarna. Apa saja yang lembut-ayem kau masukkan pada lubang mulutmu. Hingga, terus tumbuh dan tumbuh semakin membesar.

Sial. Semakin darurat urusannya. Air yang memantul, cermin di ruang tamu, dan nama yang membedakan kau dengan yang lain, membantu kau melihat kau-nya seluruh tubuh. Akibatnya, sang pemenang kini menjadi hobi berkaca-bercermin. Dan itulah awalnya, sejak saat itu: kau bukanlah kau. Kau yang pada awalnya tak bisa melihat “kau-nya sendiri.” Kini mampu melihat. Ironinya, kau mampu melihat berkat bantuan yang-diluar/yang-lain: cermin, pantulan air, dan nama yang membedakanmu dari yang lain. Sejak saat itu, kau memisahkan diri dari totalitas/yang-menyatu. “Kau sendiri-memisah, bukan semua.”

Hmm... Tetapi kau baik-baik saja. Tenang. Kau masih cukup makan dan tempat tinggal. Sang pemenang masih baik-baik saja. Namun begitu, sang pemenang semakin lupa dari kelupannya. Untung lupa, lupa adalah mukjizat. Lupa berbeda halnya dengan melupakan. Lupa adalah kawasan bermain. Lupa adalah bermain. Sejak itu, kau menikmati segala detik demi menit. Kau bermain sepuas-gilanya, tentu diselingi mulut yang selalu di suap dan dongeng fabel sebelum tidur. Hmm...

***

Apa kabar? Sang pemenang beranjak menua. Tak ada lagi waktu bermain. Tak ada lagi senggang. Waktu tak pernah senggang kembali. Bermain rontok dari nafasnya. Saat ini, yang tersisa hanya tinggal ingus, upil, dan lendir. Tak ada lagi tarikan nafas, dan sedapnya petak umpet ngos-ngosan. Hidupnya penuh dengan keringat dan kelelahan begadang. Setiap omongan, tulisan, pertemanan, bahkan permainan kau anggap ‘jalan’. ‘Jalan’ menuju pemahaman dan pemaknaan. Segalanya dipaksakan memiliki makna. Hingga pada ujungnya bertabur hikmah dan kata-kata mutiara. “Tak ada lagi bermain dan permainan. Yang ada hanyalah makna dan segerombol hikmah.”

Aggrrhh.. Kau hampir mati berteriak kesusahan. Makna dan hikmah memang mengasyikan. Namun, fana dan selalu kurang. Sang pemenang perlahan kembali, merenungkan perjalanan nafasnya. Pun pada akhirnya kau menemukan, bahwa permainan dan bermain adalah tujuan kehidupan. Tetapi, semuanya sudah terlanjur dan keburu telat. Bell sudah berbunyi kencang bertahun-tahun sebelumnya.

“Bermain dan permainan hanya tinggal makna dan hikmah yang sia-sia. Kau takkan bisa bermain, selagi bermain masih terperangkap dalam makna-hikmah-tujuan.”


Kau bermain, Kau memaknai, setelah ini Kau apa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar