Selasa, 19 Januari 2016

Untung Kecopetan


Pulang bukan perkara mudah. Tergantung-menganga, apa yang kau hendaki. Bus melaju kencang, kondektur telah berada di puncak. Terlebih kusirnya, surga berada dalam detak-nafasnya. Mati tak lagi ada dalam nadinya. Take off macam boeing 707, bus telah melampaui dirinya, sedang pesawat tidak. Bus, kusir, sampai kondekturnya tak ada dalam daftar ke-akhirat-an. Sebab apa, mereka menang terhadap mati.

Di dalam sisi, pencopet langganan bus bak office boy di sebuah perusahaan gemilang. Terjalin erat-akrab dalam kepulangan penumpang. Tak ada yang tidak tahu, semua tahu bahwa pencopet menyekolahkan anaknya dalam kemenjadian bus. Penumpang biasa saja, tahu diri.

Terakhir kali, ada anak haram yang hampir lahir di dalam sana. Penumpang yang-lain, menyembunyikan kegelian dalam kepanikan. Mana suaminya? Mana suaminya? Mana? Suaminya hanya diam. Penumpang semakin geli-panik. Sesekali aksen madura, sesekali aksen jawa. Madura-jawa bergemuruh ombak. Suaminya semakin diam. Diam-nunduk. Madura-jawa tak lagi terdengar, mereka menyentuh sekarang. “Sebab kata membunuh,” mereka menyentuh. Suami akhirnya angkat bicara. Ade ape ini? Duar. Penumpang mengelitiki tubuhnya sendiri. Sang suami orang Malaysie. Tepat, asumsi tiba-tiba adalah sang istri bekerja di malaysia, lalu dihamili majikan atau tetangganya, lantas si pembuat anak malu-tegar rela bersilaturahmi ke Indonesia tuk melapor keadaan, bertanggung jawab.

“Kepulangan tak sederhana sepertinya, dalam kemenjadian bus.”

Penumpang lalu turun dengan selamat-sekarat. Jantungnya seperti musik metal, coba melambat kembali pada jazz atau gending kraton gaya Yogyakarta. Sambil mengingat lks dan buku paket dalam kepalanya. Ia mulai dalam sistem politik-ekonomi, seberapa berak pada kapitalisme, urunan tai demokrasi, kelamin berotot fasisme, feodalisme, kursi ningrat monarki, sampai ludah ISIS fundamentalisme. Berada dalam kepalanya, muter-muter bak rasa gatal yang tidak ketemu locus gatalnya.

Aduh... Belum lagi, coba tengok unduhan dadanya. Budaya populer bergerak-gerak di kelenjarnya, wacana pos-kolonial, kebingungan seni avant-garde, perilaku mundur-cantik Syahrini, sampai Mulan Jameela yang menangis di pangkuan si botak. Aduh... 

Kursi goyangnya bergerak... teet keretetkkketkk. Komputernya bicara, “but philosophy is dead.” Waduh... Ilmuwan yang tak pernah numpak bus bicara begitu. Waduh... Segala sarjana IPS SMA ditendang keluar, andai aku di fisika, biologi, atau kimia. “Aku bakal hidup.” Barang rongsok, awul-awul metafisika, mati kamu. Percuma bacot perihal positivisme telanjang, realisme yang selingkuh, idealisme dukun pawang hujan, kritisisme penjaga pantai.

Waduh... Gaptek, gak jadi apa-apa deh.
 Penuh. Kepala, unduhan, dan korsi-goyangku. Tak ada apa-apa, kosong–melompog.

Copet! Copet! Kepala, unduhan, dan kursi goyangku tiba-tiba dicopet. Tak punya apa-apa lagi. Lalu pulang ke kampung halaman.

Para pemuda-pemudi berkumpul di halaman belakang. Panjang lebar orasi-debat perihal cinta dan motor-kendaraan.


“Untung kecopetan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar