Sepertinya musim kawin tak ramai lagi. Selir,
contract married, poligami, serong sana-sini terasa lebih ada, musim hujan ini.
Seperti sepoi kemarau dalam kehujanan, berselingkuh. Aku digigit kecoak, sial.
Sebesar ratu semut kalau tak benar. Hantam segera, meski tak mampu bicara
dengan dia, tetap kubunuh. Andai Sulaiman - kalau tidak salah ketik sleman –
oper ticky-tacka wahyunya padaku, aku takkan menerjang kecoak itu, mungkin
lebih malah. Baru satu, anehnya ada dua lagi. Kukubur segera. Awalnya kupikir,
kecoak satu yang menggigit itu, sedang hamil atau menstruasi. Padahal? Ada dua
kecoak lainnya. Apa kecoak sudah bisa selingkuh. Bakal kiamat sejenak lagi.
“Konon beberapa detik sebelum kiamat. Para pemuda-pemudi di gereja dan masjid berlari ketakutan menuju air kemabukan, sedang pemuda-pemudi kelewat dosa di bir dan prostitusi, ramai-ramai menuju masjid dan gereja.”
Aku merokok, membakar. Tertiba dikutuk sepertinya. Kaki kecoak yang tak kukubur, melekat-nempel di lubang tembakauku. Sial. Bunyi bakar-nya: pretekpreterkerktek.
***
Beberapa detik. Beberapa menit. Beberapa hari.
Beberapa minggu. Beberapa detak. Beberapa hirup. Beberapa hembus. Hingga
beberapa pseudo. Manusia menyingkirkan segalanya (pengetahuan, kuasa,
makan-minum, seraya pengakuan) demi memperoleh kunci, inti.
Kesedihan. Kecoak telah sampai. Ia tak lari, tak beralih, tak rela nyemplung dalam waktu senggang. Kecoak yang tanpa buku, tanpa kepercayaan, tanpa kemabukan, menemukan kesedihan, inti. Ia baru saja terbunuh olehku.
Andai aku nabi sulaiman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar