Laki-laki atau perempuan bukan lagi perkara ‘siaga’. ‘Darurat’ kini telah mengambil alih lini ketahanan kita. Seperti ada ‘sesuatu/segala’ yang membangku-cadangkan setumpuk hasil pandangan kita. Cerita dewa-dewa, cerita alam semesta, cerita sang pencipta dan wahyunya, cerita matematika-fisika-kimia, cerita tentang tanda yang lebih mirip kepada sastra, sampai
***
Pagi hari.
Seonggok manusia me-urungkan niatnya tuk mencukur jenggot. Ia bangun-terjaga di kala mentari belum menguning, masih kebiru-biruan. Ia membakar segala maskawin yang berhubungan dengan kecandu-syukuran: sajadah, uang, pabrik, saham, masjid, salib, gereja, pura, dupa, segalanya. Orang-orang menuduhnya gila, murtad-dosabesar-samsara-anarki, dan lainya. Kendati begitu, seonggok manusia ini tetap diam dan tetap gila, tetap begitu. Ia membuka jendela, lalu menyiram tanaman.
“Orang-orang sudah lupa, aku hanya membakar perut-dada-dan-kelamin mereka, namun aku tidak membakar semuanya, orang-orang sudah lupa, aku masih menyisakan harapan.”
Lantas, matahari mulai menampakkan sisi kuningnya. Pria berjenggot menyiapkan sederet rumus matematika-fisika-kimia, yang telah ia padukan dengan analisis sosial-potik-ekonimi dunia. Tak hanya itu, pria berjenggot menggegam teknologi-cakrawala.
Dengan satu kali ‘klik’. Sederet layar nusantara-eropa-amerika-dunia, berubah menjadi ‘rupa’nya. Ia mencukur jenggotnya dihadapan dunia yang terpana seketika. 10 menit berlalu, ia bersuara dengan jenggot tipisnya:
“.......................................................................................?................................................................................................................?.....................................................................................................................................................!....................................................................................................................................................!...............................!...............................................!”
Abrakadabra! Dunia terbalik seketika, segala candu yang telah ia bakar, terbakar seketika. Orang-orang di seluruh antero, mengikutinya. Membakar segala candu dengan kesadaran membara. Pria berjenggot telah mission sukses. Padahal ia bukan pengkhotbah, bukan pula sastrawan, bukan juga membuat kebenaran. Pria berjenggot hanya menampakkan kebenaran. Tak ada paksa-memaksa dalam seruan si pria berjenggot. Orang-orang paham akan itu.
Tepat pukul sepuluh, detik itu akan selalu terkenang oleh segalanya. Semua manusia bertebaran, tak ada lagi manusia setengah-setengah. Semua manusia menangis, ya menangis. Semua manusia tertawa, ya tertawa. Tak ada lagi manusia yang menangis dalam tawa, atau manusia yang tertawa dalam tangis. Plus, penuh.
Pun, pada pukul sebelas kosong-kosong. Semua pengusaha mengembalikan tawa pada sesama manusia: emas, uang, saham, tanah(SDA) terbagi rata kepada seluruh umat manusia. Tak mau kalah-benar/baik dengan para pengusaha. Tepat pada pukul sebelas lima belas, para peguasa membuang mahkota dari kepala dan otaknya. Yey! Seluruh manusia bergelora. Kita semua setara.
Hmm... Sebelas lima belas sampai sebelas lima sembilan, pria berjenggot mulai terlupakan. Semua manusia, bergelora-euforia. Pria berjenggot tetap rendah hati, “beruntung aku dilupakan,” ujarnya (sambil mengikat leher dan kemaluannya, pada tali gantung pencabut nyawa).
“Pria berjenggot mati bunuh diri.”
***
Siang
hari.
Agghhrr! Bisa mampus terbakar surya. Sepertinya mentari masih disana, belum sedekat satu jengkal diatas kepala, seperti cerita-cerita. Jadi jangan khawatir akan panas yang membara. Pukul 12.00. Seutas perempuan urung menidurkan dirinya pada malam tadi. Kelopak dan matanya, hitam-pucat. Agak sedikit membungkuk, tidak bungkuk. Berambut panjang ikal-acak. Terlihat pensil di sekat kupingnya.
“Tak tahu mengapa, perempuan ini gelisah, bukan perkara dirinya. Melihat manusia yang niscaya cukup makan. Berlomba-lomba dalam mencapai pengakuan. Ia tak tahu. ‘Manusia kentir,’ ujarnya.”
Disaat tak ada lagi batas antara kaya-miskin, pintar-bodoh, budak-majikan. Semua orang justru berloma menonjolkan dirinya, menghebatkan dirinya. “Apa lagi ini, apa makanan dan kesetaraan sudah tak lagi cukup,” keluhnya. Cafe-cafe, warung kopi, sampai meeting room disesaki oleh mulut dan raga yang tak final dalam berkompetisi. Sial.
Hiingga pada pukul 14.00, semua manusia menggapai identias dan pengakuannya. Dalam lebih dari 4 milyar manusia. Masing-temasingnya mempunyai identitas dan pengakuan yang berbeda-unik-otentik. Mereka semua telah mencipta identitas diluar identitas seniman, ilmuwan, dan agamawan. Empat milyar identitas banyaknya! Bayangkan!
“Pukul 14.59, masing-termasing 4 milyar manusia berhasil memperoleh pengakuan-identitas yang berbeda-unik-otentik.”
***
Sore hari.
Kesurupan, kesurupan. Sepertiga umat manusia mendadak kerasukan. Harta dan identitas-pengakuan yang mereka miliki, menimbulkan berak diatas hati mereka sendiri. Semua manusia berkecukupan, cukup makan, cukup lahan, cukup identitas-pengakuan. Berak, menimbulkan kekurangan.
Cling*.
Pukul enam belas enol-enol, dua pertiga manusia mendadak suci. Mereka berseru dalam nurani: “Ingatlah bahwa perut, dada, kelamin, dan pikiran yang setiap saat engkau hasrati-penuhi-pakani tak akan memberikan kepenuhan/ketenangan batin.
Semua manusia menepi, seolah-olah harta dan pengakuan yang telah mereka dapatkan tak berarti apa-apa. Kini, mereka berlari pada hal-hal yang spiritual bahkan mistis. Ada juga yang mengambil cara lama, religius.
Cling*.
Matahari mulai terbenam dengan syahdunya. Khusuk dalam menunaikan tugasnya. Tak pernah bosan menyinari dan menutup
“Semua manusia tenggelam dalam diri sendiri, spiritual-religius-mistis.”
***
Tengah malam hari.
Apa kabar?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar