Selasa, 19 Januari 2016

Pengamen-Pengemis dan Masjid-Pombensin


Mengerti monyetkah? Monyet sebinatang-orang diri. Hidup sendiri tak merasa sepi, hebat. Pisang, mungkin tak sesederhana itu. Bisa lebih. Buah pengetahuan, tak sengaja ia makan. Buah pengetahuan menimbulkan syaraf, otek-otak. Plass, terdampar dalam kebumian, bumi yang berfikir-berkeinginan.

Kemudian, ia baik-baik saja. Belum mengerti bahwa ia bakal mati. Sebab ia yang pertama, terdampar dalam kefanaan yang belum ia sadari.

Apa yang difikirkannya. Cukup makan, tidur gelandangan, tak bisa diakui, tak punya hasrat diakui. Belum mengerti bahwa ia bakal mati. Apa yang difikirkan-tujunya?

Tuk, tertiba rusuknya goyah. Jatuh di depan matanya-matakakinya. Abrakadabra! Rusuk membentuk diri. Perempuan yang berupa. Mengapa perempuan? Mengapa tak lelaki? Mengapa tak diantara perempuan dan lelaki? Mengapa tak selain perempuan dan lelaki yang ia ‘abrakadbabra’?

Mereka bercinta. Bercinta atau bersetubuh? Tak mengerti. Pun, akhirnya punya anak. Lalu satu diantara mereka mati.

Duar! Apa yang mereka fikirkan kini? Setelah tahu bahwa mereka bakal koit.
Agama tercipta, harapan tercipta. Sebab diandaikan ada hidup setelah mati. Pengetahuan tercipta, harapan teragu. Cuma atom katanya, sperma dan sel telur bakal menjadi atom kembali, lenyap. Duar.

***

Belanda tiba-tiba datang, membawa-merampas glory, gold, gospell. Perang hidup mati. Terhenyak, pengalaman akan detik-detik mati menubuh pada ratusan juta orang,  yang dahulunya sekedar monyet.

Hingga, ‘kepedulian’ datang pada setiap ratusan juta post-monyet tersebut.
Namun... maling dilain sisi bertumbuh mekar. Raja bertumbuh subur. Beribu post-monyet disiksa, banyak yang mati kedingin-kelaparan.

Apa yang mereka fikirkan?


***
Aduh, saat ini? 2016. Sepertinya hanya lilitan utang dan pegadaian, membentuk sistem dan sirkulasi. Tapi tetap cukup makan. Sudah tak ada persoalan hidup-mati, pengalaman detik-detik mati, pudar.
Beruntung. Aku dan kalian yang tak peduli. Beruntung, ngamen dan mengemis dapat mencukupi kebutuhan.

Tidur, segampang ini. Ada masjid dan pombensin.

Apa yang difikirkan?  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar