Mungkin
gubuk tua, melayang entah dimana. Bayi pasca-prematur yang terlempar ke dalam
jagad raya. Tumbuh dan berkembang dengan ibu dan tubuhnya, gubuk tua.
Beruntung, “yang-tiada” melempar ia ke sebelah dunia(ini), seberang dunia
fana(ini).
Dunia(itu) tanpa bayang, tanpa cermin.
Mahluk suci, ‘yang-tiada’ mengutuk bayi itu tak bisa mengenal ‘aku-nya’. Cermin, berkaca ia tak bisa. Bayang, sungai-laut-danau tak dapat memantul. Ia tak berkaca, tak memantul.
Beruntung, melihat “luar” tak dapat berpisah, sebab ia tak mengenal aku-nya, mendengar luar tak dapat menghindar, sebab ia tak mengenal keberpisahan aku-nya dan luar-nya. Beruntung.
Dunia
baru tlah diciptakan oleh ‘yang-tiada’, mengutuk mahluk suci, menghapus
‘aku-nya’.
[1]
Selama-lama,
manusia ternyata tak “mengendali aku-nya.” Manusia hanya merasa bangun,
terpadahal tidur kembali. Freud, bapak psiko(anali)sis tlah lama nyeloteh bahwa
peran ketaksadaran(libido dan agresi) dalam diri manusia lebih menentukan
me-hidup-nya manusia, ketimbang kesadaran(ego, cogito, pikiran) manusia.
Libido dan agresi, kebinatangan. Manusia. Apa-mengapa-nya manusia, jadi hanya berawal dan berakhir oleh libido dan/atau agresi. Payah dasar binatang. “Luar-kendali-aku-nya”
[2]
Selahir-lahir,
manusia dilumat-muntahkan oleh ‘petanda’ buruk. Tak mengenal ujung, tak
mengenal makna, tak mengenal harfiah. Lacan, bapak psiko(linguistik)sis ngumpat
bahwa manusia nyatu sekaligus misah dalam dan karena bahasa/simbol. Tak
mencipta, hanya ikut plus nyemplung dalem sistem, simbol-simbol. Mengenal diri,
mengenal lain, lewa simbol, lewat sesuatu yang jelas berada di luar diri
‘aku-nya’.
Simbol begitu saja ada, manusia nyemplung-mandi-di-kali bahasa. Sial, simbol menjajah aku-nya. “Luar-kendali-aku-nya.”
[3]
Sepercaya-percaya,
manusia ketakutan menghadapi ajal-matinya. Mematung, berhala. Bulan dan
matahari, kiblatnya. Hewani, persembahannya, sedang ujungnya menemukan
tuhan(abstaknya). Tuhan mengatur segalanya, kebijakan-putusan ada di tangannya.
Manusia tunduk dan berharap belas-kasihnya, sembah. Feurbach, dengan
dingin-sinis-satir bersabda manusia yang mencipta tuhan, bukan tuhan yang
mencipta manusia, sebab manusia takut mati katanya.
Tunduk, berdoa, dan syukur yang dipanjatkan tuk lagi-lagi pada yang di ‘luar’. Manusia terkutuk, yang dikendali oleh sesuatu di “luar-aku-nya.”
[4]
Seefesien-efesien, manusia cenderung instant
dan mudah lelah. Alat-peralatan, sarana mekanikan, benda mati perwujudan.
Teknologi membutakan mata kenyataan, pelukan, kesalingsentuhan. Adorno dan Horkheimer
bercanda-proklamirkan bahwa teknologi telah mengendalikan dan memengaruhi
tindakan-pikiran manusia-an.
Ketergantungan peralatan, pengharapan keinstanan, teknologi peradaban. Manusia instant, candu yang rela dikendalikan. Apes, manusia dibawahi teknologi-alat-alat-an. Sesuatu di luar kendali “aku-nya.”
***
Bajingan sungguh, “yang-tiada” ternyata tak mengubah apa-pun. Mahluk suci yang dilemparkan pada dunia baru tanpa ‘aku’ itu, rupanya tak sama sekali baru. Dunia(ini), dunia(itu), sama saja.
“Sedetik
dan seabad apa bedanya,” ucap W.S Rendra di rumah sakit cinere tahun 2003.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar