Wah, air seni banyak jumlahnya. Tak usah bicara miligram, hektometer, liter. Merebak, membanjiri. Mandi sore di genangan kali dengan busa, oli, pakaian kotor, dan sejuta air seni yang mengapung-ngambang.
Manusia setara, telanjang rata-telanjang rasa. Malu-mual dicabut sekejap-seketika. Bagi mereka yang ikhlas menutup mata, lalu menenggelamkan ujung rambutnya dengan perlahan, hingga jempol kaki yang tak tersisa di dataran. Kemudian menutup semua indera kecuali pendengarannya: mendengar keheningan air dalam-dalam sampai tak tersisa. Saat itulah, kesunyian air membawa mereka pada detak-nada jantung manusia(sendiri).
Kembalilah, detak jantung itu demikian cepat. Tak ada sama sekali keheningan di dalamnya. Perlahan, jangan kau hindari. Ratapilah, pijat detak jantungmu. Seketika ia akan melambat, sedemikian lambat, terus melambat, hingga akhirnya hampir berhenti. Saat itulah, saat yang saat: kau mesti menunjukkan tubuhmu dengan segera ke permukaan daratan.
Oh, kebisingan daratan tak lagi kau dengar. Hilang seketika, hanya tinggal fatamorgana. Namun tak lama, kebisingan ini mesti hinggap lagi, itu sudah sewajarnya. Berdoalah kawan-kawan, sesaat-sebelum kebisingan diturunkan kembali. Itulah saat yang saat: berharaplah pada rintik hujan.
“Kebisingan tak lagi datang, jika benar turun hujan.” Selamanya, sedekatnya.
“Sampai kau takkan pernah tahu bahwa hujan adalah hujan, sebab tak ada lagi hari kemarau-semi-salju.”
“Sampai kau takkan pernah meneduh, sebab hujan adalah darah dalam tubuhmu.”
“Mandi Hujan Selamanya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar