Oleh: Fajar Nugraha.
Ia yakin bahwa dalam hidup terdapat dua pilihan, setia pada kebenaran atau menyerah kalah.
Proses dan tujuan merupakan
kegiatan dan impian yang tak mungkin bisa dipisahkan. Tidak ada yang namanya
tujuan tanpa proses. Walaupun begitu ada proses yang tak memerlukan tujuan. Ia
mengalir laksana air sungai yang membawa materi ke suatu muara.
Masyarakat kita pada sebagian
berpandangan bahwa yang terpenting atau yang terbaik bukanlah tujuan, namun
proses. Proses kita dalam mencapai tujuan merupakan fase terpenting dalam
hidup, yang niat terkandung di dalamnya.
Tujuan tak jadi masalah apabila
kita ternyata tidak berada di titik yang diharapkan. Karena tak semua tempat
tujuan bisa tercapai dan banyak pemandangan indah yang telah kita lewati telah
membuat kita puas atau bahagia. Bukan tak ingin mencapai tujuan tersebut,
melainkan kita sadar bahwa proses kita menjadikan diri ini telah bahagia dengan
apa yang telah kita jalani.
Namun, tak demikian kenyataannya.
Kita kadang terlena dengan tujuan. Entah sadar maupun tidak, kita cenderung
ingin berbagi cerita tentang tujuan atau hasil yang telah kita capai. Bukan
berbagi proses. Dan sejauh pengalaman subjektif saya, ada beberapa orang yg
menghilang begitu saja tanpa kabar dari si proses tersebut. Tujuan atau hasil
yang telah tercapai lebih bergengsi diceritakan daripada proses yang memiliki
banyak cerita.
Memang, keinginan untuk berbagi
cerita hasil tujuan membuat orang menjadi optimis dan penuh perjuangan. Ia akan
berusaha dalam prosesnya untuk melakukan yang terbaik demi menggapai tujuan.
Bukanlah hal yang salah ketika
kita berlaku hal tersebut. Tapi apa daya ketika tujuan yang diperjuangkan
ternyata gagal dan kita lupa dengan proses. Rasa pesimis menjadi jalan keluar
dan kita enggan berbagi cerita apapun. Mirip slogan di mobil truk, “Pulang
malu, ngga pulang rindu.”
Padahal, apapun tujuanmu dan
entah berhasil atau tidak, aku akan setia menemanimu dengan teh atau kopi
hangat dan sebungkus kue atau rokok di sela obrolan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar