Kopi dan aku hampir habis, mengantuk. Malam di
sebuah warung pinggiran jogja.
“Sementara dirimu, matamu, nan tawamu baru saja
memesan malam, kopi.”
“Ah, pinggir itu! Sahutku. Merajalela di sekat bibirmu
yang baru saja dicubit kopi.” Tarik nafas: andai aku yang mencubit bibir itu,
bukan kopimu. Aku akan membuatmu tertidur, bukan menjaga malam.
Perempuan ini penjaga malam. Kelam, lusuh, namun
cinta obrolan: hitam.
Kegelapan hatinya, melebihi darah. Sinar matanya,
rembulan. Nafsunya, kosong.
Kubuka seketika! Kutanya dengan tanda seru! Ia
tertawa! Kutanya dengan koma! Ia menyudahinya! Kutanya dengan tanda kutip! Ia
mencakar! Kunasihati! Ia bunuh diri!
“Percakapan kita tak bertemu,” walau malam dan
kesunyian telah kita minum bersama, kopi.
Perempuan malang, kopi membunuhnya. Tidak! Tidak!
Tidak! Perempuan itu bangkit seketika! Kemudian berdoa “bukan kamu, bukan aku,
dia yang membunuhku”. Siapa? Balaski. Dia, dia, dia: sang pemisah dan
pemersatu. “Dia yang membunuhku! Dia obrolan, bukan kamu, bukan aku,” sahutnya.
*Selepas itu, ia bisu selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar