Jumat, 13 November 2015

Perempuan Penjaga Malam


Kopi dan aku hampir habis, mengantuk. Malam di sebuah warung pinggiran jogja.

“Sementara dirimu, matamu, nan tawamu baru saja memesan malam, kopi.”

“Ah, pinggir itu! Sahutku. Merajalela di sekat bibirmu yang baru saja dicubit kopi.” Tarik nafas: andai aku yang mencubit bibir itu, bukan kopimu. Aku akan membuatmu tertidur, bukan menjaga malam.

Perempuan ini penjaga malam. Kelam, lusuh, namun cinta obrolan: hitam.

Kegelapan hatinya, melebihi darah. Sinar matanya, rembulan. Nafsunya, kosong.

Kubuka seketika! Kutanya dengan tanda seru! Ia tertawa! Kutanya dengan koma! Ia menyudahinya! Kutanya dengan tanda kutip! Ia mencakar! Kunasihati! Ia bunuh diri!

“Percakapan kita tak bertemu,” walau malam dan kesunyian telah kita minum bersama, kopi.

Perempuan malang, kopi membunuhnya. Tidak! Tidak! Tidak! Perempuan itu bangkit seketika! Kemudian berdoa “bukan kamu, bukan aku, dia yang membunuhku”. Siapa? Balaski. Dia, dia, dia: sang pemisah dan pemersatu. “Dia yang membunuhku! Dia obrolan, bukan kamu, bukan aku,” sahutnya.


*Selepas itu, ia bisu selamanya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar