Sabtu, 14 November 2015

Fase Pasang Surut Kehidupan Mahasiswa


Oleh: Amal Taufik. Pecinta masakan kambing garis keras. 

Pernah nggak kalian ngrasain punya semangat ngerjakan sesuatu, tapi begitu pegang leptop “ah ntar dulu, makan dulu deh, abis makan aja nulisnya” , setelah itu habis makan nggak langsung pegang leptop tapi baca-baca TL twitter dulu sambil tiduran di kasur. Setelah baca TL twitter, pengen pegang leptop tapi di otak ada pikiran kayak gini “Ah masih ada hari esok”. Menjadi disiplin itu kadang memang sulit.

Semester ini saya merasakan sibuk sesibuk-sibuknya. Sampai-sampai pengen nulis sesuatu buat di upload di kompasiana suka lupa. Status saya sebagai pengangguran sepertinya sudah layak untuk di pensiunkan. Bayangkan saja, bangun tidur saya langsung ke kampus. Bukan, bukan untuk kuliah, saya ke kampus ngopi sama temen-temen di kantin, habis ngobrol panjang lebar sampai siang, biasanya saya langsung pulang ke kos main PS, sorenya saya ngopi lagi sama temen-temen sampai adzan maghrib, terus pulang ke kos, sampai di kos sholat maghrib terus nge-check timeline twitter, ngetwit-ngetwit status, lalu main PS lagi sampai jam 9, nanti jam 10 ngopi lagi sampai dini hari, lalu pulang ke kos, nge-check timeline sebentar kemudian tidur dengan elegan. Begitulah kesibukan saya setiap harinya. Bener-bener nggak ada waktu luang ya.

Kehidupan mahasiswa memang mengalami pasang surut. Kalau dulu pas awal-awal MABA punya semangat kuliah yang antusias, sekarang cuman tinggal semangat bertahan hidup, kalau dulu pas MABA orangtua sering telfon nanyain uang sakunya kurang apa enggak, sekarang orangtua telfon marahin kenapa uang sakunya cepet habis, kalau dulu MABA minumnya minimal air zam-zam, sekarang minumnya air isi ulang KW, kalau dulu MABA tiap hari makan ayam panggang, sekarang makan indomie rasa ayam panggang. Temen-temen saya yang pacaran, dulu MABA masih mimi-pipi-an, sekarang udah ganti anjing-babi-an, temen saya dulu pas MABA awal jadian nama pacarnya di HP di tulis “Lovely”, sekarang udah ganti “Mabes Polri”. Dari sini saya belajar bahwa hidup mahasiswa memang dinamis, dan selalu berputar. Kadang hidup berada di bawah, kadang juga di atas, ada juga yang kadang di bawah tapi nggak bisa ke atas-atas.

Setelah hampir 3 tahun saya kuliah, dan dengan meningkatnya derajat gaul saya karena menyandang status sebagai anak kuliahan yang elegan, saya merasa ada masa-masa yang harus di tempuh oleh mahasiswa. Sehingga saya merangkum dalam 3 fase pasang surut kehidupan mahasiswa.

Berikut fase-fase pasang surut kehidupan mahasiswa :

1. Fase Perkenalan (semester 1-3) Dulu jaman saya SMA, saya ngebet banget pengen cepet-cepet kuliah. Bayangan saya dulu, kuliah itu tiap hari ketemu cewek cantik yang pakai rok mini atasannya tanktop. Dan kalau telat, saya akan lari-lari di lorong kampus lalu nggak sengaja nabrak cewek, bukunya berserakan, saya minta maaf, bantuin beresin, kenalan, dan jadian. Ternyata semuanya tidak seindah itu, kuliah itu harus ospek, harus bikin ini itu di suruh senior, harus ke kampus dan rela nunggu dosen yang suka telat, kadang juga harus rela diusir dosen karena telat. Harus belajar buat UAS, UTS, harus ngerjakan tugas, harus minjem buku yang lebih berat dari beban hidup saya. Dari fase ini saya mulai kenalan dengan kehidupan kuliah dan mahasiswa,. Sebagai instropeksi, saya semakin tidak percaya dengan pencitraan dunia kuliah yang ada di FTV tengah malam.

2. Fase Pembentukan (semester 3-6) Udah mulai beranjak dewasa Fase ini adalah fase dimana mahasiswa mulai dibentuk oleh lingkungan dan motivasi-motivasi eksternal maupun internal bagi dirinya. Beberapa teman seangkatan saya yang dulu pas awal-awal kuliah masih pada unyu kemana-mana main bareng, kumpul bareng, sekarang sudah mencar satu-satu. Mereka sudah sibuk dengan dunianya masing-masing, ada temen yang sibuk kerja part-time sampai bisa beli-beli kebutuhannya pakai uang sendiri, ada juga temen yang saking pedulinya sama fashion,akhirnya dia buka online shop, ada juga temen yang dulu pas awal kuliah rajin masuk sekarang jarang masuk gara-gara suka dunia malam, ada juga temen yang masih sering berantem sama polisi pas demo, ada juga saya yang masih gini-gini aja nggak ganteng-ganteng. Inilah fase pembentukan jati diri mahasiswa.

3. Fase Keabadian (semester 7-Unlimited) Jangan Sampai Ini terjadi Ketika menginjak semester 7, biasanya mahasiswa akan di sibukkan dengan kegiatan nyata di luar kampus. Ada yang magang-magang ganteng di kantor, ada yang menderita KKN di desa pelosok. Tapi ini sekaligus adalah masa-masa menegangkan bagi seorang mahasiswa. Pada fase ini mahasiswa akan sering mendengar suara-suara ghaib seperti “Kapan lulus nak?”, “Uda sampai bab berapa?”, “Mas, mas, angkatan berapa?”. Mahasiswa pada fase ini juga akan selalu di bayang-bayangi momok mengerikan bernama “skripsi” , nama yang simpel tapi sudah memakan ratusan korban jiwa. Meskipun begitu, percaya nggak percaya, pada fase ini juga lah mahasiswa menjadi sangat dekat dengan Tuhan. Kenapa fase ini saya sebut “Fase Keabadian” ? Tidak lain dan tidak bukan karena jika mahasiswa sudah larut pada fase ini terlalu lama maka mereka bisa-bisa menjadi mahasiswa abadi dan menjadi legenda hidup di kampus.

Sekian fase-fase pasang surut kehidupan mahasiswa menurut saya. Terima kasih. Wassalamualaikum wr.wb. Salam Super.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar