Sabtu, 14 November 2015

Selesai di Meja Makan, Prostitusi, dan Sebotol Anggur


Tiga! Tesis, antitesis, dan sintesis. Benar, salah, dan kebijaksanaan. Kanan, kiri, dan tengah. Seni, agama, dan ilmu pengetahuan. Luar, dalam, aku. Jiwa, dunia, satu. Sendiri, sepi, dan puisi. Tiga! Sebuah angka satu yang kembali baru.

Tiga manusia sedang berjalan mundur, mereka terlihat di tepian. Sedang menuju puncak, puncak sebuah bukit setengah tinggi adanya. Yang satunya seorang seniman, sisanya agamawan, dan ilmuwan. Ketiganya berangkat dari titik yang sama, kegelisahan. Menuju puncak ketinggian, ketakterhinggaan. Meninggilah mereka. Hingga akhirnya sampai. Tak ada apa-apa lagi, hanya kebimbangan yang tak bisa hilang dari kemaluannya.

Mereka saling merenung di puncak bukit, tanpa kata tanpa gambaran. Yang satunya, si seniman. Setelah merenung, ia menari hingga pepohonan dan angin melahirkan nyanyian. Sisanya, agamawan. Berdoa dan berserah diri, hingga dedaunan dan senja membentuk tasbih, kemudian berdzikir bersama. Yang terakhir, ilmuwan. Mengukur dan menguji hubungan-hubungan perbukitan dengan nyanyian dan dzikiran, hingga mewujudkan hukum-hukum transedental.

Setelah itu, kala matahari mulai terbenam. Si seniman, agamawan, dan ilmuan mulai sibuk dengan kegelisahan mereka masing-masing. Si seniman mulai membuat panggung, agar tarian dan nyanyiannya tak hanya didengar oleh alam perbukitan, namun juga didengar oleh agamawan dan ilmuan. Sedangkan si agamawan mulai membangun tempat peribadatan, agar tasbih dan dzikirnya melekat jua pada diri seniman dan ilmuwan. Terakhir, si ilmuwan mulai membangun tempat pendidikan dan laboratorium, dengan harapan dapat memberi pencerahan pada nyanyian dan doa si seniman-agamawan agar menjadi lebih nyata dan masuk akal.

Namun hingga esok hari, tiga manusia ini tak kunjung singgah ke “gubuk” tetangganya. Karena dalam batin dan fikiran mereka: “bertamu berarti meninggalkan kodrat”. Dengan bertamu, mereka yakin hal itu akan mengakibatkan batas dan kodrat yang telah mereka bangun menjadi “kabur”. Oleh itu, mereka tak kunjung bertamu dan terus membangun peradaban dan kebudayaannya masing-masing.

Hal itu, terus menerus berlangsung, hingga di hari ketiga matahari tenggelam. Mereka kebingungan. Padahal pada hari itu, peradaban ketiga manusia ini sedang berada pada tahap puncak. Namun mereka seolah “kosong” seketika. Dan akhirnya mereka memutuskan tuk keluar dari sarang!(bukan tuk menuju gubuk tetangganya, melainkan sekedar berjalan tak tentu arah).

Kemudian, mereka berjalan, langkah demi langkah. Hingga pada langkah ke 30, mereka terdiam. Terpaku. Membeku:

“Mereka berdiri dihadapan kebun gandum, segudang anggur beralkohol, dan perempuan anggun bercucuran air sungai.”

Dan setelah kejadian itu, mereka semua bersahabat dan saling kunjung-mengunjung. Jelas terlihat dari gubuk tiga manusia yang akhirnya saling melengkapi;


“Yang satunya berubah jadi prostitusi, sisanya bar dan restaurant.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar