Tiga! Tesis, antitesis, dan sintesis. Benar, salah,
dan kebijaksanaan. Kanan, kiri, dan tengah. Seni, agama, dan ilmu pengetahuan.
Luar, dalam, aku. Jiwa, dunia, satu. Sendiri, sepi, dan puisi. Tiga! Sebuah
angka satu yang kembali baru.
Tiga manusia sedang berjalan mundur, mereka terlihat
di tepian. Sedang menuju puncak, puncak sebuah bukit setengah tinggi adanya.
Yang satunya seorang seniman, sisanya agamawan, dan ilmuwan. Ketiganya
berangkat dari titik yang sama, kegelisahan. Menuju puncak ketinggian,
ketakterhinggaan. Meninggilah mereka. Hingga akhirnya sampai. Tak ada apa-apa
lagi, hanya kebimbangan yang tak bisa hilang dari kemaluannya.
Mereka saling merenung di puncak bukit, tanpa kata
tanpa gambaran. Yang satunya, si seniman. Setelah merenung, ia menari hingga
pepohonan dan angin melahirkan nyanyian. Sisanya, agamawan. Berdoa dan berserah
diri, hingga dedaunan dan senja membentuk tasbih, kemudian berdzikir bersama.
Yang terakhir, ilmuwan. Mengukur dan menguji hubungan-hubungan perbukitan
dengan nyanyian dan dzikiran, hingga mewujudkan hukum-hukum transedental.
Setelah itu, kala matahari mulai terbenam. Si
seniman, agamawan, dan ilmuan mulai sibuk dengan kegelisahan mereka
masing-masing. Si seniman mulai membuat panggung, agar tarian dan nyanyiannya
tak hanya didengar oleh alam perbukitan, namun juga didengar oleh agamawan dan
ilmuan. Sedangkan si agamawan mulai membangun tempat peribadatan, agar tasbih
dan dzikirnya melekat jua pada diri seniman dan ilmuwan. Terakhir, si ilmuwan
mulai membangun tempat pendidikan dan laboratorium, dengan harapan dapat
memberi pencerahan pada nyanyian dan doa si seniman-agamawan agar menjadi lebih
nyata dan masuk akal.
Namun hingga esok hari, tiga manusia ini tak kunjung
singgah ke “gubuk” tetangganya. Karena dalam batin dan fikiran mereka: “bertamu
berarti meninggalkan kodrat”. Dengan bertamu, mereka yakin hal itu akan
mengakibatkan batas dan kodrat yang telah mereka bangun menjadi “kabur”. Oleh
itu, mereka tak kunjung bertamu dan terus membangun peradaban dan kebudayaannya
masing-masing.
Hal itu, terus menerus berlangsung, hingga di hari
ketiga matahari tenggelam. Mereka kebingungan. Padahal pada hari itu, peradaban
ketiga manusia ini sedang berada pada tahap puncak. Namun mereka seolah
“kosong” seketika. Dan akhirnya mereka memutuskan tuk keluar dari sarang!(bukan
tuk menuju gubuk tetangganya, melainkan sekedar berjalan tak tentu arah).
Kemudian, mereka berjalan, langkah demi langkah.
Hingga pada langkah ke 30, mereka terdiam. Terpaku. Membeku:
“Mereka berdiri dihadapan kebun gandum, segudang
anggur beralkohol, dan perempuan anggun bercucuran air sungai.”
Dan setelah kejadian itu, mereka semua bersahabat
dan saling kunjung-mengunjung. Jelas terlihat dari gubuk tiga manusia yang
akhirnya saling melengkapi;
“Yang satunya berubah jadi prostitusi, sisanya bar
dan restaurant.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar