Sabtu, 14 November 2015

ADIEU TO MY ‘GOA’


Oleh: Taufiqurrahman. 
Ia terlempar ke Jagat Filsafat. Dalam keterlemparan itu, hanya satu yang bisa menolongnya, yaitu hasrat. Hasrat untuk menulis, mencari kedalaman dan kebermaknaan dari segala yang eksis. Dalam pencarian itu ia menemukan dirinya tak lagi utuh. Pecah. Keterpecahan diri mengantarkannya pada sebuah pergulatan, hingga beribu-ribu kata penuh kekuatan tak pernah tuntas dilahirkan. Lalu, ia pun mencari kepenuhan eksistensialnya dalam kesunyian.

Entah pada hari yang keberapa di bulan Agustus pertama kali aku mempersuntingnya. Kala itu, kini, aku sudah lupa. Namun momen-momen pertemuan pertama masih terekam kuat di kepala. Aku yang mencarinya, dan lalu meminangnya pada seorang lelaki berkumis setengah tua. Ia sepertinya bapak yang baik bagi anak-anaknya.

Di hari yang ke-20 di bulan yang sama, bulan Agustus, pertama kali aku menidurinya. Meski tanpa ranjang dan kasur, hmmm... lumayan enak rasanya. Namun sepertinya aku bukanlah laki-laki pertama yang menidurinya. Ia sudah tidak perawan. Aku yakin, sebelumnya ia sudah berkali-kali ditiduri laki-laki lain. Namun apa boleh buat, kalau memang belum nasibku mendapatkan perawan. Yah, janda pun disikat. Kata orang Sunda yang fatalis: “Can nasib”.

Demi bisa menidurinya bermalam-malam, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, aku diminta untuk membayar mahar. Ah, padahal ia sudah tidak perawan. Tapi... ya, memang begitulah seharusnya. Mahar itu aku bayarkan pada lelaki berkumis tadi yang kini aku panggil “Pak Kos”. Ya, aku menyewa kosan, bukan perempuan! Satu juta lima ratus ribu rupiah per tahun. Murah, bukan?! Kalau perempuan mana ada yang harganya cuma segitu. Perempuan itu mahal, Brooo...! (Ati-ati kedengeran aktipis pe(mi)nis radikal).

Ah, sudahlah! Kita hentikan dulu mengobjekkan tubuh perempuan. Kita hormati mereka. Kita hormati pemikiran orang-orang seperti Simone de Bauvoir, Mary Daly, dan Vandana Shiva. Baik, kita hormati mereka semua.

Sekarang aku akan mengobjekkan tubuh ‘yang lain’: tubuh kosku. Ia bertubuh mungil. Ukurannya sekitar 2,5 x 2,5 M. Bangunannya sudah agak tua. Dilengkapi dengan satu jendela yang hingga kini tak pernah aku buka; langit-langit yang terbuat dari entah apa (aku tak pernah mengeceknya); lantai plesteran yang dilapisi karpet karet di atasnya; dan dinding-dinding yang keempat sisinya berwarna entah apa (aku buta warna!).

Aku sebenarnya ingin membiarkan tubuh kosku itu tetap natural. Tanpa kosmetik dan sejenisnya. Maksudnya aku tak pernah ingin membuat kosku lebih indah dengan segala pernak-pernik layaknya kos wanita. Aku tak membawa apa-apa. Tempat tidur pun tak punya. Mau indah bagaimana?!

Hanya saja, Kiai Umam, yang kemudian sekos denganku—walau hanya sebentar—mewariskan lemarinya padaku. Yah, beruntunglah aku. Semua pakaian bisa tertampung di dalam lemari itu. Ada satu lagi: aku punya sekardus buku—dan itu satu-satunya harta yang paling berharga bagiku. Aku tak tahu harus menaruhnya di mana. Aku belum punya rak buku. Akhirnya, dengan semakin bertambahnya koleksi buku, aku terpaksa harus membeli rak buku.

Jadi, kalau dihitung-hitung, di dalam kamar kosku sudah ada satu lemari; dua rak buku—dengan buku-buku yang tak semuanya milikku; satu tempat sampah; satu galon air; dan...aku lupa menyebutkannya tadi: satu lampu yang melekat pas di tengah langit-langit. Oh ya, satu hal penting lagi yang lupa aku sebutkan yang telah membantu menyambung hidupku: colokan listrik. Pada dua lubang di colokan itulah aku mengisi daya baterai android dan laptop. Dan dengan perantaranya, aku menyambung hidup.'

Kosku barangkali termasuk kos paling aneh di Jogja. Teman-temanku menyebutnya “Goa” (dari kata “Gua”). Semacam tempat orang bertapa. Atau mungkin tempat yang hanya cocok buat psikopat. Tapi aku bukan psikopat, walau sesekali memang ada momen yang membuatku selalu ingin sendiri. Benar-benar sendiri...

Lokasi kosku itu tidak jauh-jauh amat dari kampus. Setiap hari aku jalan kaki ke Fakultas Filsafat UGM hanya sekitar 15 menit. Jika Anda mau bertandang ke kosku, bukalah google maps lalu masukkan lokasi: “Klebengan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta”. Oleh Kiai Google penunjuk jalan yang lurus itu Anda akan diarahkan ke Gor Klebengan yang berada tepat di belakang Fakultas Peternakan. Segera berangkatlah Anda ke titik yang ditunjukkan Kiai Google itu, lalu bertanyalah pada bapak-bapak atau ibu-ibu: “Klebengan F7 itu di mana?” Di situlah kosku.

Sebelum masuk ke kamar kosku, pastikan diri Anda dalam kondisi baik lahir batin. Anda akan melewati sebuah gang kecil. Gang kecil itu penuh godaan. Anda harus kuat iman. Namun, godaan gang kecil menuju kamar kosku itu tidak seperti godaan di gang-gang Pasar Kembang. Godaan itu godaan kesunyian. Bila Anda tidak suka kesunyian, sebelum masuk ke kamar kosku Anda sudah ingin berbalik arah untuk pulang. Apalagi jika Anda bertandang di waktu malam. Hmmm... pasti Anda akan menemui nuansa horor di gang itu.

Namun bila Anda adalah penyuka sunyi, soliter ala Nietzsche, Anda akan menemukan suasana istimewa di gang itu. Masuk ke kamar kosku, lengkaplah keistimewaan itu. Dengan pintu tertutup, Anda tidak akan mendengar suara apapun, kecuali detak jantung Anda bukti bahwa Anda masih hidup. Jadi, tidak semua orang suka bertandang ke kosku. Hanya orang-orang yang sudah punya maqam sunyi yang suka berlama-lama di kosku dengan syarat berani melakukan “lompatan eksistensial” ala Kierkegaard.

Ada seorang teman yang—barangkali—sudah mencapai maqam itu. Ia adalah penyair cum pemuja Dewa Dionysus. Kalau datang ke kosku biasanya sekitar pukul 12 malam. Tiba-tiba saja mengetuk pintu. Lalu ngobrol apa saja hingga menjelang subuh. Kadang ia juga tidur di kosku. Dan aku welcome saja karena ia seperti membawa ruh yang sama dengan ruhku: ruh soliter.

***

Malam-malam berlalu begitu jauh. Aku masih belum menemukan tempat berlabuh. Masih ada yang tak tergapai. Masih ada yang mengawang. Barangkali perjalananku ini tak akan pernah usai, bahkan hingga pagi menjelang. Dan aku pun harus melanjutkannya di malam-malam berikutnya, tepat pada saat penjual agama berhenti berfatwa.

Perjalanan ini memang harus sepi dari tukang fatwa. Sekali tukang fatwa itu datang, seketika itu juga jalan-jalan sunyi ini buyar. Inilah jalan yang tak banyak orang mau menempuhnya: “Jalan Filsafat”. Jalan yang penuh onak, suka memeras otak. Orang-orang yang berjalan di jalan ini seperti terus berayun di antara rasa sakit dan nikmat; antara kehadiran dan ketidakhadiran; dan antara kesementaraan dan keabadian.

Kamar kecil ini telah menjadi saksi sunyi dari itu semua. Ia bukan saja sebuah ruang dengan segala keterbatasannya. Ia juga punya cerita yang menyimpan luka. Di kamar kecil inilah aku dipertemukan dengan narasi kosmologis orang-orang kuno: mulai dari Thales, Phytagoras, Heraklietos, Parmenides, Empedokles, Anaxagoras, hingga Protagoras.

Kamar kecil ini juga bukan sebatas tempat tidur belaka. Aku mengada di dalamnya. Aku yang memberi ‘makna’ atasnya. Atau juga bisa sebaliknya. Aku yang tersituasikan oleh ruang itu yang sudah penuh ‘makna’. Karenanya, di ruang kecil ini, sekalipun sunyi, tak ada yang netral; tak ada yang bebas nilai.

Pada ketidaknetralan itu aku justru belajar. Belajar tentang  kesendirian yang mencekam; tentang arus kehidupan yang tak pernah bisa dilawan; dan tentang cinta yang selalu menyimpan perih dan luka mendalam. Sekali lagi, aku belajar. Pada malam-malam yang tak pernah selesai.

Di kamar kecil ini, orang-orang yang masih waras datang bergantian, mengajariku tentang banyak hal. Sokrates mengajakku berdialog tentang kebijaksanaan; Platon membawaku pada ‘dunia yang ideal’; dan Aristoteles mengajariku tentang bentuk penalaran yang benar. Semua itu, mereka ajarkan secara cuma-cuma, tidak seperti dosen-dosen yang mengajar di ruang-ruang kuliah. Dan kamar kecil ini pun seperti lebih mewah dari ruang kelas yang ber-AC.

Zaman terus berganti. Orang-orang yang biasa mendatangiku juga berubah generasi. Kini, orang yang datang ke kamar kosku adalah orang-orang yang bertuhan yang terus berusaha menemukan pandasaran rasional (logos) atas keberadaan Tuhannya (theos). Mereka adalah filsuf yang sekaligus teolog. Ada St. Agustinus yang membawa risalah Platonik, dan ada St. Thomas Aquinas yang datang dengan gaya Aristotelian. Mereka berdua bertandang ke kosku hanya sebentar. Barangkali memang aku yang menginginkannya demikian.

Sejarah selalu bergerak ke depan, atau bisa juga bergerak melingkar. Intinya sejarah tak pernah mundur ke belakang. Ia akan selalu bergerak memunggungi yang lampau. Apapun itu, bila ia berada dalam konteks sejarah, akan selalu demikian. Dan setiap nama yang melekat di jagat filsafat adalah makhluk yang menyejarah. Mereka timbul dan tenggelam; datang dan pergi kemudian.

Kini, orang yang bertandang ke kamar kecil ini adalah orang-orang yang membawa spirit rasionalitas yang dipimpin oleh Maulana Descartes. Descartes punya beberapa pengikut seperti Spinoza dan Leibniz. Kemudian ada beberapa orang lagi yang datang dengan membawa spirit yang berbeda dari Descartes. Mereka dikenal sebagai kaum empirisis. Ada Mbah Kiai John Locke dan santrinya: Berkeley dan Hume.

Kamar kecil ini mulai ramai. Banyak orang berdatangan. Beruntung saja mereka tidak membawa kebisingan. Namun, karena saking banyaknya orang-orang yang datang bertandang, aku sampai kebingungan. Aku belum sempat berkenalan dengan mereka secara baik. Aku hanya tahu mereka berasal dari mana dan hendak ke mana. Ya, aku hanya tahu peta perjalanan mereka, namun belum tahu yang mereka temukan di tengah jalan itu apa saja. Aku tidak tahu itu. Mungkin karena aku berbatas waktu. Karena bagaimanapun aku adalah makhluk yang mewaktu; berdimensi waktu; tak bisa melampaui waktu.

Setelah mereka semua pergi, Immanuel Kant yang datang ke kamar kecil ini. Ia datang dengan membawa semangat pencerahan. “Sapere aude...!” katanya. Aku hanya mengangguk. Kant lalu pergi dengan gaya yang sangat disiplin dan rapi. Aku masih saja terbengong dengan ajakan Kant untuk berani berpikir. Memangnya selama ini dia anggap aku tidak berani berpikir. Ah, ternyata... aku baru paham maksud ajakan Kant itu setelah mendiskusikan tulisan pendeknya yang berjudul What is enlightenment? Ya, terima kasih, Kant.

Sehabis Kant, Hegel yang datang bertandang. Ah, aku seperti mau muntah-muntah membaca teks Hegel. Rumit. Ya, begitulah Hegel. Ia datang dengan corak idealistis—seperti Roh ghaib. Ia terus mendengungkan bahwa apa yang ada dalam kenyataan hanyalah turunan dari apa yang ada dalam pikiran. Oleh karena itu, sebelum meninggalkan kamar kecil ini, ia berkata kepadaku: “Yang nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata.”

Sebelum dan sesudah Hegel, sebenarnya ada dua orang yang datang dengan corak yang sama (idealisme), yakni Fichte dan Schelling. Ya, mereka bertiga sama-sama penggerak idealisme di Jerman. Singgasana agung idealisme itu kemudian diruntuhkan oleh orang Jerman sendiri: Feuerbach. Ia adalah seorang materialis yang menolak semua pandangan yang idealistis. Perjuangan Feuerbach itu kemudian dilanjutkan oleh Karl Marx. Hanya saja, Marx masih berhutang sesuatu pada Hegel, yakni tentang ‘dialektika’.

Marx menjadi filsuf besar. Hanya saja ia tidak begitu lama singgah di kamar ini. Namun, aku sering menjumpainya dalam obrolan anak-anak di pinggir jalan, di kantin-kantin, dan di pojok-pojok kampus. Marx selalu diperbincangkan. Bahkan ada yang menjadikan Marx sebagai nafas pergerakan. Lalu mereka menamakan dirinya sebagai ‘Kaum Kiri’ atau ‘Marxis’. Barangkali memang seperti Marx-lah filsuf sejati. Sebagai seorang diri ia boleh mati, tetapi sebagai sebuah nama ia tetap abadi.

Kamar kecil ini telah menjadi saksi sunyi atas nama Marx yang abadi. “Jalan yang paling tepat untuk melihat kenyataan adalah Marxisme,” kata seorang teman saat tengah malam di kamar kecil ini. Dan kamar kecil ini pun hanya bisa bersaksi, tak bisa menolak ataupun mengafirmasi. Ia tetap sunyi.

Pendatang selanjutnya masih orang Jerman. Namanya Friedrich Nietzsche. Ia filsuf yang tergolong aneh. Bahkan di akhir hayatnya ia menjadi gila. Namun, walau bagaimanapun, ia bertandang ke kamar kecil ini lumayan lama. Barangkali karena aku yang sedikit terposana melihatnya.

Ia hidup dalam penderitaan; dalam rasa sakit yang mendalam. Namun, di hadapan kenyataan yang chaos, yang menyakitkan, ia tetap menjadi sosok yang tegar. Ia tak mau takluk menghadapi dunia yang tanpa nilai, tanpa pegangan. Kemudian, di tengah runtuhnya tatanan nilai, ia mengidealkan sesosok Ǖbermensch: ‘manusia unggul’; ‘manusia yang melampaui’. Sebab kedatangan “filsuf gila” itu, kamar kecil ini seperti berguncang, seperti terkena ledakan dinamit yang besar.

Namun, suasana tenang di kamar kecil ini pun kembali datang, ketika seorang teman mengantarkan tokoh-tokoh fenomenologi bertandang. Mereka memang seperti membawa ketenangan, walaupun tutur katanya, istilah-istilahnya, penuh dengan kerumitan. Itu seperti hendak menggambarkan bahwa di dalam usaha mereka untuk merengkuh dunia dengan kesadaran selalu ada yang tak tergapai. Kata temanku yang tadi, “Itu semacam kerendah-hatian.”

Dan di malam-malam yang sunyi, kamar kecil ini tetap setia bersaksi atas “kerendah-hatian” tokoh-tokoh fenomenologi. Di kamar inilah aku bisa menemui mereka. Mulai dari Husserl, Heidegger, Levinas, Sartre, Ponty, hingga Derrida. Di sinilah berlangsung obrolan kecil tentang ‘intesionalitas kesadaran’ dan ‘epochè’ dalam Husserl; tentang ‘ada-dalam-dunia’ dan ‘Ada’ dalam Heidegger; tentang ‘fenomenologi alteritas’ dalam Levinas; tentang konsep ‘kontingensi’ dan eksistensi ‘en soi’ serta ‘pour soi’ dalam Sartre; tentang ‘fenomenologi persepsi’ dalam Ponty; dan tentang ‘dekonstruksi’ dalam Derrida.

Mereka semua datang dalam celoteh-celoteh ringan, dalam nyanyi sunyi tengah malam, atau lewat teks-teks hidup yang terus-menerus mencari tempat dalam pikiran. Dan perjumpaan dengan mereka, pergulatan bersama mereka, terjadi di dalam kamar kecil ini. Seluruh rangkaian aktivitasku, di hari-hari yang sepi, sendiri, juga disaksikan oleh kamar kecil ini. Hanya aku, ia, dan Tuhan, yang tahu segalanya tentangku.

Kini, karena satu dan lain hal, aku harus meninggalkannya. Aku harus berpindah tempat ke kos lain yang berbeda. Benar kata Mbah Tejo: “Pindah kos itu gampang, membersihkan kos itu mudah, yang paling susah membersihkan kenangannya.” Aku seperti tak bisa melupakan kenangan setiap hari bersamanya, dalam derita dan bahagia, walau hanya sendiri tanpa kekasih tercinta (karena memang tak ada).

Aku masih merasa berat untuk meninggalkannya. Namun, setidaknya, dengan tulisan ini, aku berusaha merapikan kembali ingatan yang terserak di mana-mana. Ingatan tentangnya, dan tentang nama-nama agung di atas yang belum bisa aku pahami sepenuhnya. Seperti Derrida dulu yang menulis “Adieu to Emmanuel Levinas” sebagai ucapan perpisahan atas kematian Levinas, maka kini aku menulis ini juga sebagai “Adieu to My ‘Goa’”. Selamat berpisah ‘goa’-ku. Semoga engkau ditiduri lelaki lain yang lebih baik dariku. Oh ya, titip pesan: “Jika nama-nama yang aku sebut di atas datang ke sini dan menanyaiku, katakanlah: aku pindah kos ke Jalan Kaliurang tepat di belakang gedung Magister Manajemen UGM.” Bye bye...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar