Oleh: Taufiqurrahman.
Ia terlempar ke Jagat Filsafat. Dalam keterlemparan itu, hanya satu yang bisa menolongnya, yaitu hasrat. Hasrat untuk menulis, mencari kedalaman dan kebermaknaan dari segala yang eksis. Dalam pencarian itu ia menemukan dirinya tak lagi utuh. Pecah. Keterpecahan diri mengantarkannya pada sebuah pergulatan, hingga beribu-ribu kata penuh kekuatan tak pernah tuntas dilahirkan. Lalu, ia pun mencari kepenuhan eksistensialnya dalam kesunyian.
Entah
pada hari yang keberapa di bulan Agustus pertama kali aku mempersuntingnya.
Kala itu, kini, aku sudah lupa. Namun momen-momen pertemuan pertama masih
terekam kuat di kepala. Aku yang mencarinya, dan lalu meminangnya pada seorang
lelaki berkumis setengah tua. Ia sepertinya bapak yang baik bagi anak-anaknya.
Di
hari yang ke-20 di bulan yang sama, bulan Agustus, pertama kali aku
menidurinya. Meski tanpa ranjang dan kasur, hmmm... lumayan enak rasanya. Namun
sepertinya aku bukanlah laki-laki pertama yang menidurinya. Ia sudah tidak
perawan. Aku yakin, sebelumnya ia sudah berkali-kali ditiduri laki-laki lain.
Namun apa boleh buat, kalau memang belum nasibku mendapatkan perawan. Yah,
janda pun disikat. Kata orang Sunda yang fatalis: “Can nasib”.
Demi
bisa menidurinya bermalam-malam, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, aku
diminta untuk membayar mahar. Ah, padahal ia sudah tidak perawan. Tapi... ya,
memang begitulah seharusnya. Mahar itu aku bayarkan pada lelaki berkumis tadi
yang kini aku panggil “Pak Kos”. Ya, aku menyewa kosan, bukan perempuan! Satu
juta lima ratus ribu rupiah per tahun. Murah, bukan?! Kalau perempuan mana ada
yang harganya cuma segitu. Perempuan itu mahal, Brooo...! (Ati-ati kedengeran
aktipis pe(mi)nis radikal).
Ah,
sudahlah! Kita hentikan dulu mengobjekkan tubuh perempuan. Kita hormati mereka.
Kita hormati pemikiran orang-orang seperti Simone de Bauvoir, Mary Daly, dan
Vandana Shiva. Baik, kita hormati mereka semua.
Sekarang
aku akan mengobjekkan tubuh ‘yang lain’: tubuh kosku. Ia bertubuh mungil.
Ukurannya sekitar 2,5 x 2,5 M. Bangunannya sudah agak tua. Dilengkapi dengan
satu jendela yang hingga kini tak pernah aku buka; langit-langit yang terbuat
dari entah apa (aku tak pernah mengeceknya); lantai plesteran yang dilapisi
karpet karet di atasnya; dan dinding-dinding yang keempat sisinya berwarna
entah apa (aku buta warna!).
Aku
sebenarnya ingin membiarkan tubuh kosku itu tetap natural. Tanpa kosmetik dan
sejenisnya. Maksudnya aku tak pernah ingin membuat kosku lebih indah dengan
segala pernak-pernik layaknya kos wanita. Aku tak membawa apa-apa. Tempat tidur
pun tak punya. Mau indah bagaimana?!
Hanya
saja, Kiai Umam, yang kemudian sekos denganku—walau hanya sebentar—mewariskan
lemarinya padaku. Yah, beruntunglah aku. Semua pakaian bisa tertampung di dalam
lemari itu. Ada satu lagi: aku punya sekardus buku—dan itu satu-satunya harta
yang paling berharga bagiku. Aku tak tahu harus menaruhnya di mana. Aku belum
punya rak buku. Akhirnya, dengan semakin bertambahnya koleksi buku, aku
terpaksa harus membeli rak buku.
Jadi,
kalau dihitung-hitung, di dalam kamar kosku sudah ada satu lemari; dua rak
buku—dengan buku-buku yang tak semuanya milikku; satu tempat sampah; satu galon
air; dan...aku lupa menyebutkannya tadi: satu lampu yang melekat pas di tengah
langit-langit. Oh ya, satu hal penting lagi yang lupa aku sebutkan yang telah
membantu menyambung hidupku: colokan listrik. Pada dua lubang di colokan itulah
aku mengisi daya baterai android dan laptop. Dan dengan perantaranya, aku
menyambung hidup.'
Kosku
barangkali termasuk kos paling aneh di Jogja. Teman-temanku menyebutnya “Goa”
(dari kata “Gua”). Semacam tempat orang bertapa. Atau mungkin tempat yang hanya
cocok buat psikopat. Tapi aku bukan psikopat, walau sesekali memang ada momen
yang membuatku selalu ingin sendiri. Benar-benar sendiri...
Lokasi
kosku itu tidak jauh-jauh amat dari kampus. Setiap hari aku jalan kaki ke
Fakultas Filsafat UGM hanya sekitar 15 menit. Jika Anda mau bertandang ke
kosku, bukalah google maps lalu masukkan lokasi: “Klebengan, Caturtunggal,
Depok, Sleman, Yogyakarta”. Oleh Kiai Google penunjuk jalan yang lurus itu Anda
akan diarahkan ke Gor Klebengan yang berada tepat di belakang Fakultas
Peternakan. Segera berangkatlah Anda ke titik yang ditunjukkan Kiai Google itu,
lalu bertanyalah pada bapak-bapak atau ibu-ibu: “Klebengan F7 itu di mana?” Di
situlah kosku.
Sebelum
masuk ke kamar kosku, pastikan diri Anda dalam kondisi baik lahir batin. Anda
akan melewati sebuah gang kecil. Gang kecil itu penuh godaan. Anda harus kuat
iman. Namun, godaan gang kecil menuju kamar kosku itu tidak seperti godaan di
gang-gang Pasar Kembang. Godaan itu godaan kesunyian. Bila Anda tidak suka
kesunyian, sebelum masuk ke kamar kosku Anda sudah ingin berbalik arah untuk
pulang. Apalagi jika Anda bertandang di waktu malam. Hmmm... pasti Anda akan
menemui nuansa horor di gang itu.
Namun
bila Anda adalah penyuka sunyi, soliter ala Nietzsche, Anda akan menemukan
suasana istimewa di gang itu. Masuk ke kamar kosku, lengkaplah keistimewaan
itu. Dengan pintu tertutup, Anda tidak akan mendengar suara apapun, kecuali
detak jantung Anda bukti bahwa Anda masih hidup. Jadi, tidak semua orang suka
bertandang ke kosku. Hanya orang-orang yang sudah punya maqam sunyi yang suka
berlama-lama di kosku dengan syarat berani melakukan “lompatan eksistensial”
ala Kierkegaard.
Ada
seorang teman yang—barangkali—sudah mencapai maqam itu. Ia adalah penyair cum
pemuja Dewa Dionysus. Kalau datang ke kosku biasanya sekitar pukul 12 malam.
Tiba-tiba saja mengetuk pintu. Lalu ngobrol apa saja hingga menjelang subuh.
Kadang ia juga tidur di kosku. Dan aku welcome saja karena ia seperti membawa
ruh yang sama dengan ruhku: ruh soliter.
***
Malam-malam
berlalu begitu jauh. Aku masih belum menemukan tempat berlabuh. Masih ada yang
tak tergapai. Masih ada yang mengawang. Barangkali perjalananku ini tak akan
pernah usai, bahkan hingga pagi menjelang. Dan aku pun harus melanjutkannya di
malam-malam berikutnya, tepat pada saat penjual agama berhenti berfatwa.
Perjalanan
ini memang harus sepi dari tukang fatwa. Sekali tukang fatwa itu datang,
seketika itu juga jalan-jalan sunyi ini buyar. Inilah jalan yang tak banyak
orang mau menempuhnya: “Jalan Filsafat”. Jalan yang penuh onak, suka memeras
otak. Orang-orang yang berjalan di jalan ini seperti terus berayun di antara
rasa sakit dan nikmat; antara kehadiran dan ketidakhadiran; dan antara
kesementaraan dan keabadian.
Kamar
kecil ini telah menjadi saksi sunyi dari itu semua. Ia bukan saja sebuah ruang
dengan segala keterbatasannya. Ia juga punya cerita yang menyimpan luka. Di
kamar kecil inilah aku dipertemukan dengan narasi kosmologis orang-orang kuno:
mulai dari Thales, Phytagoras, Heraklietos, Parmenides, Empedokles, Anaxagoras,
hingga Protagoras.
Kamar
kecil ini juga bukan sebatas tempat tidur belaka. Aku mengada di dalamnya. Aku
yang memberi ‘makna’ atasnya. Atau juga bisa sebaliknya. Aku yang tersituasikan
oleh ruang itu yang sudah penuh ‘makna’. Karenanya, di ruang kecil ini,
sekalipun sunyi, tak ada yang netral; tak ada yang bebas nilai.
Pada
ketidaknetralan itu aku justru belajar. Belajar tentang kesendirian yang mencekam; tentang arus
kehidupan yang tak pernah bisa dilawan; dan tentang cinta yang selalu menyimpan
perih dan luka mendalam. Sekali lagi, aku belajar. Pada malam-malam yang tak
pernah selesai.
Di
kamar kecil ini, orang-orang yang masih waras datang bergantian, mengajariku
tentang banyak hal. Sokrates mengajakku berdialog tentang kebijaksanaan; Platon
membawaku pada ‘dunia yang ideal’; dan Aristoteles mengajariku tentang bentuk
penalaran yang benar. Semua itu, mereka ajarkan secara cuma-cuma, tidak seperti
dosen-dosen yang mengajar di ruang-ruang kuliah. Dan kamar kecil ini pun seperti
lebih mewah dari ruang kelas yang ber-AC.
Zaman
terus berganti. Orang-orang yang biasa mendatangiku juga berubah generasi.
Kini, orang yang datang ke kamar kosku adalah orang-orang yang bertuhan yang
terus berusaha menemukan pandasaran rasional (logos) atas keberadaan Tuhannya
(theos). Mereka adalah filsuf yang sekaligus teolog. Ada St. Agustinus yang
membawa risalah Platonik, dan ada St. Thomas Aquinas yang datang dengan gaya
Aristotelian. Mereka berdua bertandang ke kosku hanya sebentar. Barangkali
memang aku yang menginginkannya demikian.
Sejarah
selalu bergerak ke depan, atau bisa juga bergerak melingkar. Intinya sejarah
tak pernah mundur ke belakang. Ia akan selalu bergerak memunggungi yang lampau.
Apapun itu, bila ia berada dalam konteks sejarah, akan selalu demikian. Dan
setiap nama yang melekat di jagat filsafat adalah makhluk yang menyejarah.
Mereka timbul dan tenggelam; datang dan pergi kemudian.
Kini,
orang yang bertandang ke kamar kecil ini adalah orang-orang yang membawa spirit
rasionalitas yang dipimpin oleh Maulana Descartes. Descartes punya beberapa
pengikut seperti Spinoza dan Leibniz. Kemudian ada beberapa orang lagi yang
datang dengan membawa spirit yang berbeda dari Descartes. Mereka dikenal
sebagai kaum empirisis. Ada Mbah Kiai John Locke dan santrinya: Berkeley dan
Hume.
Kamar
kecil ini mulai ramai. Banyak orang berdatangan. Beruntung saja mereka tidak
membawa kebisingan. Namun, karena saking banyaknya orang-orang yang datang
bertandang, aku sampai kebingungan. Aku belum sempat berkenalan dengan mereka
secara baik. Aku hanya tahu mereka berasal dari mana dan hendak ke mana. Ya,
aku hanya tahu peta perjalanan mereka, namun belum tahu yang mereka temukan di
tengah jalan itu apa saja. Aku tidak tahu itu. Mungkin karena aku berbatas
waktu. Karena bagaimanapun aku adalah makhluk yang mewaktu; berdimensi waktu;
tak bisa melampaui waktu.
Setelah
mereka semua pergi, Immanuel Kant yang datang ke kamar kecil ini. Ia datang
dengan membawa semangat pencerahan. “Sapere aude...!” katanya. Aku hanya
mengangguk. Kant lalu pergi dengan gaya yang sangat disiplin dan rapi. Aku
masih saja terbengong dengan ajakan Kant untuk berani berpikir. Memangnya
selama ini dia anggap aku tidak berani berpikir. Ah, ternyata... aku baru paham
maksud ajakan Kant itu setelah mendiskusikan tulisan pendeknya yang berjudul
What is enlightenment? Ya, terima kasih, Kant.
Sehabis
Kant, Hegel yang datang bertandang. Ah, aku seperti mau muntah-muntah membaca
teks Hegel. Rumit. Ya, begitulah Hegel. Ia datang dengan corak
idealistis—seperti Roh ghaib. Ia terus mendengungkan bahwa apa yang ada dalam
kenyataan hanyalah turunan dari apa yang ada dalam pikiran. Oleh karena itu,
sebelum meninggalkan kamar kecil ini, ia berkata kepadaku: “Yang nyata adalah rasional,
dan yang rasional adalah nyata.”
Sebelum
dan sesudah Hegel, sebenarnya ada dua orang yang datang dengan corak yang sama
(idealisme), yakni Fichte dan Schelling. Ya, mereka bertiga sama-sama penggerak
idealisme di Jerman. Singgasana agung idealisme itu kemudian diruntuhkan oleh
orang Jerman sendiri: Feuerbach. Ia adalah seorang materialis yang menolak
semua pandangan yang idealistis. Perjuangan Feuerbach itu kemudian dilanjutkan
oleh Karl Marx. Hanya saja, Marx masih berhutang sesuatu pada Hegel, yakni
tentang ‘dialektika’.
Marx
menjadi filsuf besar. Hanya saja ia tidak begitu lama singgah di kamar ini.
Namun, aku sering menjumpainya dalam obrolan anak-anak di pinggir jalan, di
kantin-kantin, dan di pojok-pojok kampus. Marx selalu diperbincangkan. Bahkan
ada yang menjadikan Marx sebagai nafas pergerakan. Lalu mereka menamakan
dirinya sebagai ‘Kaum Kiri’ atau ‘Marxis’. Barangkali memang seperti Marx-lah
filsuf sejati. Sebagai seorang diri ia boleh mati, tetapi sebagai sebuah nama
ia tetap abadi.
Kamar
kecil ini telah menjadi saksi sunyi atas nama Marx yang abadi. “Jalan yang
paling tepat untuk melihat kenyataan adalah Marxisme,” kata seorang teman saat
tengah malam di kamar kecil ini. Dan kamar kecil ini pun hanya bisa bersaksi,
tak bisa menolak ataupun mengafirmasi. Ia tetap sunyi.
Pendatang
selanjutnya masih orang Jerman. Namanya Friedrich Nietzsche. Ia filsuf yang
tergolong aneh. Bahkan di akhir hayatnya ia menjadi gila. Namun, walau
bagaimanapun, ia bertandang ke kamar kecil ini lumayan lama. Barangkali karena
aku yang sedikit terposana melihatnya.
Ia
hidup dalam penderitaan; dalam rasa sakit yang mendalam. Namun, di hadapan
kenyataan yang chaos, yang menyakitkan, ia tetap menjadi sosok yang tegar. Ia
tak mau takluk menghadapi dunia yang tanpa nilai, tanpa pegangan. Kemudian, di
tengah runtuhnya tatanan nilai, ia mengidealkan sesosok Ǖbermensch: ‘manusia
unggul’; ‘manusia yang melampaui’. Sebab kedatangan “filsuf gila” itu, kamar
kecil ini seperti berguncang, seperti terkena ledakan dinamit yang besar.
Namun,
suasana tenang di kamar kecil ini pun kembali datang, ketika seorang teman
mengantarkan tokoh-tokoh fenomenologi bertandang. Mereka memang seperti membawa
ketenangan, walaupun tutur katanya, istilah-istilahnya, penuh dengan kerumitan.
Itu seperti hendak menggambarkan bahwa di dalam usaha mereka untuk merengkuh
dunia dengan kesadaran selalu ada yang tak tergapai. Kata temanku yang tadi,
“Itu semacam kerendah-hatian.”
Dan
di malam-malam yang sunyi, kamar kecil ini tetap setia bersaksi atas “kerendah-hatian”
tokoh-tokoh fenomenologi. Di kamar inilah aku bisa menemui mereka. Mulai dari
Husserl, Heidegger, Levinas, Sartre, Ponty, hingga Derrida. Di sinilah
berlangsung obrolan kecil tentang ‘intesionalitas kesadaran’ dan ‘epochè’ dalam
Husserl; tentang ‘ada-dalam-dunia’ dan ‘Ada’ dalam Heidegger; tentang
‘fenomenologi alteritas’ dalam Levinas; tentang konsep ‘kontingensi’ dan
eksistensi ‘en soi’ serta ‘pour soi’ dalam Sartre; tentang ‘fenomenologi
persepsi’ dalam Ponty; dan tentang ‘dekonstruksi’ dalam Derrida.
Mereka
semua datang dalam celoteh-celoteh ringan, dalam nyanyi sunyi tengah malam,
atau lewat teks-teks hidup yang terus-menerus mencari tempat dalam pikiran. Dan
perjumpaan dengan mereka, pergulatan bersama mereka, terjadi di dalam kamar kecil
ini. Seluruh rangkaian aktivitasku, di hari-hari yang sepi, sendiri, juga
disaksikan oleh kamar kecil ini. Hanya aku, ia, dan Tuhan, yang tahu segalanya
tentangku.
Kini,
karena satu dan lain hal, aku harus meninggalkannya. Aku harus berpindah tempat
ke kos lain yang berbeda. Benar kata Mbah Tejo: “Pindah kos itu gampang,
membersihkan kos itu mudah, yang paling susah membersihkan kenangannya.” Aku
seperti tak bisa melupakan kenangan setiap hari bersamanya, dalam derita dan
bahagia, walau hanya sendiri tanpa kekasih tercinta (karena memang tak ada).
Aku
masih merasa berat untuk meninggalkannya. Namun, setidaknya, dengan tulisan
ini, aku berusaha merapikan kembali ingatan yang terserak di mana-mana. Ingatan
tentangnya, dan tentang nama-nama agung di atas yang belum bisa aku pahami
sepenuhnya. Seperti Derrida dulu yang menulis “Adieu to Emmanuel Levinas”
sebagai ucapan perpisahan atas kematian Levinas, maka kini aku menulis ini juga
sebagai “Adieu to My ‘Goa’”. Selamat berpisah ‘goa’-ku. Semoga engkau ditiduri
lelaki lain yang lebih baik dariku. Oh ya, titip pesan: “Jika nama-nama yang
aku sebut di atas datang ke sini dan menanyaiku, katakanlah: aku pindah kos ke
Jalan Kaliurang tepat di belakang gedung Magister Manajemen UGM.” Bye bye...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar