Sabtu, 14 November 2015

Manusia 2000 Tahun


Lagi bukan di rumah paman atau sedang liburan di rumah nenek, jadi jangan berharap ada “suatu hari” pada awalannya. Itu klise!, namun anehnya abadi. ?.

Kenangan akan paman yang penyayang, serta rumah nenek dengan biskuit dan tehnya yang ayem-tentrem, diam-diam membentuk keabadian. Mereka sesaat yang abadi, hingga fantasi mengorbankan dirinya yang megah ke dalam “suatu hari”.

***

Yap, suatu hari di jum’at sore, setelah segerombol manusia usai menonton monolog, di masjid. Seseorang terbangun dari petinya, sambil menyesali hidup dan kematiannya. Ia terbangun setelah hampir 2000 tahun ketiduran. Kemudian sekedar merapikan rambut dan menyisir jembut, ia terbangun di pinggiran pantai. Bersila, meluruskan kaki, mengambil tembakau dari saku, dan menghembuskannya hingga membentuk senja. Sunset.

Lalu-terlalu, sambil menunggu tembakaunya berlalu, ia bergumam “lihatlah! Aku di tepimu, sedang bersandar, dan merayu cakrawala, lantas apa yang kau tunggu? Kemari, bersamaku tuk memulai mati kebosanan.” Hmm, manusia itu terus saja mengoceh, sambil terus mengulang perkataanya, sampai malam memakan senja. Ya, sebagai manusia yang tak menyaksi kehidupan selama 2000 tahun, ia tampak bosan, tak ada gairah dan air mata dalam rupanya. Aneh kataku dan setelah tembakaunya habis, ia mengantuk lalu tidur. Aneh.

Mudi-kemudian, esok paginya. Dikala sunrise kurang sedetik, ia terbangun. Jongkok, merentangkan tangan, mengambil kain dari saku, dan mengusap keringatnya hingga membentuk pelangi. Lalu berkata “Ah, pagi! Datang jua kau, aku tlah menantimu selama 2000 tahun.” Apa lagi ini, sahutku. Aku tak mengerti. Manusia 2000 tahun yang mati ketiduran hanya menunggu pagi, ah sial.

Sesaat setelahnya, kala matahari mulai meninggi, harapan mulai sirna dari matanya. Lantas ia berdiri, memalingkan wajah dan menatap jauh, ia kebingungan. Bergegaslah lari, menuju kejauhan, menuju kota, menuju kemiskinan.

“Ditinggalkannya senja dan pagi yang tlah lama memanjakannya.”

Sudah cukup jauh, berlari. Ia berhenti. Di jantung kota. Lalu bertanya pada manusia berseragam. “Dimana ini?” sambil menunjukkan kertas. “Disana!” ujar manusia berseragam, sambil menunjuk dengan jari tengah dan jempol yang terjepit.

Lalu dengan cepat manusia 2000 tahun menuju keatas, seperti yang diarahkan kedua tangan manusia berseragam itu. Terbang, ia melayang. Kemanakah ia? Ia menuju pedesaan, diatas awan.

“Dimana?”, manusia 2000 tahun bertanya lagi. “Mari sini dulu”, jawab manusia kaos oblong. “Tidak, aku sedang buru-buru”, balasnya. “Disitu”, sahut manusia oblong dengan ramah, sambil mengantarnya. Manusia oblong mengantarnya kembali, peti pinggir pantai. Lepas itu berpisah.  

Manusia 2000 tahun kaget, ternyata selama ini ia tak kenal dengan tujuannya sendiri. Hingga orang lain yang mengantarnya menuju kematian tuk kedua kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar