Senin, 16 November 2015

Pedestrian di Paris (Parang Tritis)


Terasa ada yang mengganjal di jembut, ketiak, lubang pantat, sampai kerongkongan setiap harinya. Seorang pedestrian, yang rela harga kelaminnya diusap pertamina, harga parunya disedot knalpot alumunia, dan harga pikirannya yang diinjak roda empat-dua.

Begitu setiap harinya, baginya trotoar adalah savana, rumput yang bergoyang. Ia tak lagi peduli dengan bau, polusi, dan kebisingan tengik roda dua-empat yang membombardir raga dan tekadnya.

Ia satu-satunya manusia yang sanggup berkata “Ya” pada kekacauan lalu-lintas. 

Hari demi hari, bulan, hingga tahun perlahan berlalu. Peradaban,peraturan, dan kesadaran tak kunjung membaik. Roda dua-empat, pengendaranya tetap saja begitu di sampingnya.

Hingga hari yang melampaui “Ya”-nya seketika tiba. Bukan main juga, ternyata tepat pada hari itu, ia dipecat dari perusahaannya.

Dengan wajah cerah, ia keluar dari kantor. Tak tahu mengapa? Ia naik ojek, tidak jalan kaki. Menuju bandara. Menjadi penumpang gelap. Berhasil memasuki pesawat. Ia terbang. Ketinggian 10.000 kaki, ia lompat.

Dengan itu, pedestrian dinyatakan punah.

*Fakta mengejutkan muncul seketika. “Telah terungkap bahwa si pedestrian terakhir terbukti menyembunyikan lebih dari 2000 mayat di sepanjang trotoar jalan parang tritis.” Ironinya ketika diotopsi, 2000 mayat tersebut diyakini adalah mantan para pedestrian.


Begitu pula di Paris.
*Mengenang tragedi penyerangan ISIS-Paris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar