Terasa
ada yang mengganjal di jembut, ketiak, lubang pantat, sampai kerongkongan
setiap harinya. Seorang pedestrian, yang rela harga kelaminnya diusap
pertamina, harga parunya disedot knalpot alumunia, dan harga pikirannya yang
diinjak roda empat-dua.
Begitu
setiap harinya, baginya trotoar adalah savana, rumput yang bergoyang. Ia tak
lagi peduli dengan bau, polusi, dan kebisingan tengik roda dua-empat yang
membombardir raga dan tekadnya.
Ia
satu-satunya manusia yang sanggup berkata “Ya” pada kekacauan lalu-lintas.
Hari
demi hari, bulan, hingga tahun perlahan berlalu. Peradaban,peraturan, dan
kesadaran tak kunjung membaik. Roda dua-empat, pengendaranya tetap saja begitu
di sampingnya.
Hingga
hari yang melampaui “Ya”-nya seketika tiba. Bukan main juga, ternyata tepat
pada hari itu, ia dipecat dari perusahaannya.
Dengan
wajah cerah, ia keluar dari kantor. Tak tahu mengapa? Ia naik ojek, tidak jalan
kaki. Menuju bandara. Menjadi penumpang gelap. Berhasil memasuki pesawat. Ia
terbang. Ketinggian 10.000 kaki, ia lompat.
Dengan
itu, pedestrian dinyatakan punah.
*Fakta
mengejutkan muncul seketika. “Telah terungkap bahwa si pedestrian terakhir
terbukti menyembunyikan lebih dari 2000 mayat di sepanjang trotoar jalan parang
tritis.” Ironinya ketika diotopsi, 2000 mayat tersebut diyakini adalah mantan
para pedestrian.
Begitu
pula di Paris.
*Mengenang tragedi penyerangan ISIS-Paris

Tidak ada komentar:
Posting Komentar