Tahun yang berlalu, sementara “senggang” rela
menatap matanya dalam waktu. Bukan apa-apa. Hanya saja terdengar aneh, dengan
segala persepsinya yang mampu melihat waktu. Baginya, “yang lain” bukanlah ruang.
Baginya, “yang lain” hanyalah waktu. Penderitaan, kenangan, kesunyian, dan
nilai-nilai yang lain adalah hidupnya. Itu makna baginya, bukan payudara,
peler, sampai pantat yang menonjol, yang hanya berarti ruang dalam kelaminnya.
Heran bukan? Aku juga.
Begini bunyinya, malam saat itu. Ia berseru padaku
“kamu yang mana, kelamin, hati, atau akal?”
“Jangan diam saja! Kamu sudah kutangkap. Kamu
berfikir. Jangan diam saja! Pikiran takkan memberimu keturunan. Hah! Ayo,
gunakan kelaminmu. Jangan diam saja! Kamu bernafsu juga. Jangan nafsu saja!
Gunakan hatimu. Tahukah? Apa pikiran dan nafsu membuat nadimu bergetar? Iya?
Hah.”
Begitu Monolognya.
Lepas itu, ia tertidur. Tentu dalam waktu, bukan
ruang. Karena aku dan kalian takkan mampu melihatnya tertidur. Matamu takkan
bisa melihatnya, karena mata kita, dan kita semua hanyalah ruang. Sementara
matanya, waktu. Sialan, padahal sudah kugunakan hati, pikiran, dan kelaminku.
Tetap saja, tak mampu membuatku melihatnya lelap. Akhirnya akulah yang tertidur
sendiri.
Usai, bangun. Aku membuka mata. Kosong, tiada. Hampir gila aku. Hanya hitam, namun bukan hitam. Kutukan, ia mengutukku. Aku dikutuk tanpa ruang. Aku mampu melihat waktu, tanpa ruang, hanya kekosongan. Segera kucari, ia. Kutatap segala kosong. Atas, bawah, kiri, kanan, sekarang. Tak ada! Ia menghilang. Lenyap dalam ketiadaan. Tolong!
“Hai”, kau mencari dia? Jawab kekosongan yang
mencoba menolong.
Ya! Sahutku.
“Maaf, ia sudah tiada” – “ ia berubah menjadi
kuping” – “Kuping yang mendengar ruang sekarang” – “bukan lagi mata yang
melihat waktu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar