Jumat, 20 November 2015

Ia


Tahun yang berlalu, sementara “senggang” rela menatap matanya dalam waktu. Bukan apa-apa. Hanya saja terdengar aneh, dengan segala persepsinya yang mampu melihat waktu. Baginya, “yang lain” bukanlah ruang. Baginya, “yang lain” hanyalah waktu. Penderitaan, kenangan, kesunyian, dan nilai-nilai yang lain adalah hidupnya. Itu makna baginya, bukan payudara, peler, sampai pantat yang menonjol, yang hanya berarti ruang dalam kelaminnya. Heran bukan? Aku juga.

Begini bunyinya, malam saat itu. Ia berseru padaku “kamu yang mana, kelamin, hati, atau akal?” 

“Jangan diam saja! Kamu sudah kutangkap. Kamu berfikir. Jangan diam saja! Pikiran takkan memberimu keturunan. Hah! Ayo, gunakan kelaminmu. Jangan diam saja! Kamu bernafsu juga. Jangan nafsu saja! Gunakan hatimu. Tahukah? Apa pikiran dan nafsu membuat nadimu bergetar? Iya? Hah.”

Begitu Monolognya.

Lepas itu, ia tertidur. Tentu dalam waktu, bukan ruang. Karena aku dan kalian takkan mampu melihatnya tertidur. Matamu takkan bisa melihatnya, karena mata kita, dan kita semua hanyalah ruang. Sementara matanya, waktu. Sialan, padahal sudah kugunakan hati, pikiran, dan kelaminku. Tetap saja, tak mampu membuatku melihatnya lelap. Akhirnya akulah yang tertidur sendiri.

Usai, bangun. Aku membuka mata. Kosong, tiada. Hampir gila aku. Hanya hitam, namun bukan hitam. Kutukan, ia mengutukku. Aku dikutuk tanpa ruang. Aku mampu melihat waktu, tanpa ruang, hanya kekosongan. Segera kucari, ia. Kutatap segala kosong. Atas, bawah, kiri, kanan, sekarang. Tak ada! Ia menghilang. Lenyap dalam ketiadaan. Tolong!

“Hai”, kau mencari dia? Jawab kekosongan yang mencoba menolong.

Ya! Sahutku.

“Maaf, ia sudah tiada” – “ ia berubah menjadi kuping” – “Kuping yang mendengar ruang sekarang” – “bukan lagi mata yang melihat waktu” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar