Kamis, 12 November 2015

Lelaki dan atau sama dengan Perempuan Kosong


Perempuan berkerudung sutra yang tinggal matanya, perempuan berambut pendek berkemeja pada umumnya, dan perempuan bertato penuh tindik dari akal hingga kelaminya. Mereka bersahabat, siang terik di penghujung jalan perkuliahan.

Ada Quran, handphone, dan obat-obatan di tangannya. Membaca, sosialita medsos, teleng-linglung, tanpa obrolan dalam persahabatan. Terus begitu. Fokus ditambah kebenaran sendiri sama dengan sedikit toleransi kemunafikan. (...+...=...). Itulah mereka bertiga.

Plak, plak, plak, seorang hampir mendekati dan melewati mereka. Lantas bersiap-lah mereka. Style, bentuk, identitas masing-masing diperagakan. Seorang hampir dekat, plak, plak, plak. Mereka mengintip, dari sudut pandang masing-masing. Terlihat, seorang lelaki dengan gamis, dilapisi kemeja, dan raut luka penuh tindikan. Duar! Kegemparan menyelimuti mereka bertiga.

Bertiga: Membetulkan kerudung, mengelus rambut, memainkan tindikan. Mereka bertiga gelisah. “Tanda ingin diperhatikan.”

Lelaki tak memperhatikan, ia terus berjalan, tanpa tolehan, tanpa teguran, tanpa kedipan, hanya wajah statis dan pakaian yang tak bergoyang.

Usai tiga langkah melewati “tiga sahabat perempuan.” Sang lelaki jatuh pingsan.

Tiga perempuan menoleh, mencoba menolong, namun tak sampai, mereka bertiga keburu meninggal, kaget dengan apa yang ada di depan.

“Terlihat seorang manusia, bukan laki-laki bukan perempuan, sedang onani-mastrubasi dan berdoa sambil merobek ijazah sarjana perkuliahan.” (0->/0+)


Libido, Tuhan, dan Ilmu di coret dari kehidupannya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar