Perempuan berkerudung sutra yang tinggal matanya,
perempuan berambut pendek berkemeja pada umumnya, dan perempuan bertato penuh
tindik dari akal hingga kelaminya. Mereka bersahabat, siang terik di penghujung
jalan perkuliahan.
Ada Quran, handphone, dan obat-obatan di tangannya.
Membaca, sosialita medsos, teleng-linglung, tanpa obrolan dalam persahabatan.
Terus begitu. Fokus ditambah kebenaran sendiri sama dengan sedikit toleransi
kemunafikan. (...+...=...). Itulah mereka bertiga.
Plak, plak, plak, seorang hampir mendekati dan
melewati mereka. Lantas bersiap-lah mereka. Style, bentuk, identitas
masing-masing diperagakan. Seorang hampir dekat, plak, plak, plak. Mereka
mengintip, dari sudut pandang masing-masing. Terlihat, seorang lelaki dengan
gamis, dilapisi kemeja, dan raut luka penuh tindikan. Duar! Kegemparan menyelimuti
mereka bertiga.
Bertiga: Membetulkan kerudung, mengelus rambut,
memainkan tindikan. Mereka bertiga gelisah. “Tanda ingin diperhatikan.”
Lelaki tak memperhatikan, ia terus berjalan, tanpa
tolehan, tanpa teguran, tanpa kedipan, hanya wajah statis dan pakaian yang tak
bergoyang.
Usai tiga langkah melewati “tiga sahabat perempuan.”
Sang lelaki jatuh pingsan.
Tiga perempuan menoleh, mencoba menolong, namun tak
sampai, mereka bertiga keburu meninggal, kaget dengan apa yang ada di depan.
“Terlihat seorang manusia, bukan laki-laki bukan
perempuan, sedang onani-mastrubasi dan berdoa sambil merobek ijazah sarjana
perkuliahan.” (0->/0+)
Libido, Tuhan, dan Ilmu di coret dari kehidupannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar