Tanah lapang selalu bersahaja pada sore
hari – ingat aku – layaknya bangkai tikus dan kecoak terbalik yang dibiarkan
mati – aku ingat – ketika puing bekas pribumi menjadi tiang gawang – ingat aku
– sementara bola plastik menyangkut abadi di genting kehidupan – aku ingat.
Dan hari ini, aku ingin mengambilnya, tapi tak bisa, tak ada jalan pulang tuk kembali pada kehidupan. Hingga, anak haram kehidupan yang menuntunku: kepentingan dan keinginan.
Sialan! Dua anak ini memang kurang ajar. Mula-mula mereka menuntunku menulis. Kutulis! Tulisan ini, tulisan mereka berdua, bukan tulisanku. Sudah! Setelah itu mereka menyuruhku menguploadnya ke media sosial: facebook, twitter, tumblr, kompasiana, line, wa, dst.
Ah lega sudah, akhirnya. Ladalah, tapi kok mereka masih tetep nakal yo? Padahal sudah kuturuti permintaannya. Tetapi berbeda sekarang. Mereka tak meminta, justru memberi. Memberi comment, like, retweet, bahkan men-share. Wah! Apa ini? Apa mereka labil? Aku tak tahu! Yang penting tulisanku dibaca orang dech - sukur-sukur bisa di share. Kan bisa terkenal aku - Yey! Anak baik, anak baik. Mereka baik ternyata, tak lagi nakal. Aku tersenyum dari balik layar, sambil membayangkan senyuman orang yang membaca tulisanku. Tersenyum selama dua hari daku, setelah itu menangis kembali. Karena puji-puji, pengakuan, eksistensi virtual, dsb adalah fana. Jadi, kembalilah dua anak tersebut menjadi anak nakal. Dua anak yang tak lagi kupercaya celotehannya.
Jelas! Mulai saat itu, kuputuskan tuk menelantarkan mereka. Hidup ya hidup, mati ya tinggal mati, itu ucapku. Mampus kalian hidup tanpa induk! Haha, aku bisa tertawa sekarang. Namun, tak lama. Mereka membesar, tumbuh, dan berkembang. Mereka hidup dan matang. Sementara aku, tak peduli dengan nasib mereka. Yang jelas, aku tak lagi menulis. Hanya mengobrol santai dan bercanda seksual-teologis pada kawananku. Yap, disana! Ide, pemikiran, gagasan, serta keluhan, kucurahkan hingga menjadi daging diantara ketiak dan belahan dada kawanku. Aku tak sadar, ternyata dua anak nakal itu masih mengontrol pikiranku. Kali ini, mereka mengontrolku lewat obrolan, bukan tulisan. Mereka membodohiku, persis disaat kawananku mengganguk-angguk, tertawa, dan terpukau dengan ceritaku, cerita dua anak nakal tersebut. Lagi-lagi kepuasan melihat senyuman-tawaan dan anggukan kawananku, membawaku pada persoalan yang sama. Persoalan yang tak bisa diselesaikan dengan menulis dan mengobrol.
Dua anak ini sialan! Hidup bahagia. Mereka tumbuh menjadi anak baik sekaligus anak nakal. Mereka tetap anak-anak.
Dan hari ini, aku ingin mengambilnya, tapi tak bisa, tak ada jalan pulang tuk kembali pada kehidupan. Hingga, anak haram kehidupan yang menuntunku: kepentingan dan keinginan.
***
Sialan! Dua anak ini memang kurang ajar. Mula-mula mereka menuntunku menulis. Kutulis! Tulisan ini, tulisan mereka berdua, bukan tulisanku. Sudah! Setelah itu mereka menyuruhku menguploadnya ke media sosial: facebook, twitter, tumblr, kompasiana, line, wa, dst.
Clink*- terupload*.
Ah lega sudah, akhirnya. Ladalah, tapi kok mereka masih tetep nakal yo? Padahal sudah kuturuti permintaannya. Tetapi berbeda sekarang. Mereka tak meminta, justru memberi. Memberi comment, like, retweet, bahkan men-share. Wah! Apa ini? Apa mereka labil? Aku tak tahu! Yang penting tulisanku dibaca orang dech - sukur-sukur bisa di share. Kan bisa terkenal aku - Yey! Anak baik, anak baik. Mereka baik ternyata, tak lagi nakal. Aku tersenyum dari balik layar, sambil membayangkan senyuman orang yang membaca tulisanku. Tersenyum selama dua hari daku, setelah itu menangis kembali. Karena puji-puji, pengakuan, eksistensi virtual, dsb adalah fana. Jadi, kembalilah dua anak tersebut menjadi anak nakal. Dua anak yang tak lagi kupercaya celotehannya.
Jelas! Mulai saat itu, kuputuskan tuk menelantarkan mereka. Hidup ya hidup, mati ya tinggal mati, itu ucapku. Mampus kalian hidup tanpa induk! Haha, aku bisa tertawa sekarang. Namun, tak lama. Mereka membesar, tumbuh, dan berkembang. Mereka hidup dan matang. Sementara aku, tak peduli dengan nasib mereka. Yang jelas, aku tak lagi menulis. Hanya mengobrol santai dan bercanda seksual-teologis pada kawananku. Yap, disana! Ide, pemikiran, gagasan, serta keluhan, kucurahkan hingga menjadi daging diantara ketiak dan belahan dada kawanku. Aku tak sadar, ternyata dua anak nakal itu masih mengontrol pikiranku. Kali ini, mereka mengontrolku lewat obrolan, bukan tulisan. Mereka membodohiku, persis disaat kawananku mengganguk-angguk, tertawa, dan terpukau dengan ceritaku, cerita dua anak nakal tersebut. Lagi-lagi kepuasan melihat senyuman-tawaan dan anggukan kawananku, membawaku pada persoalan yang sama. Persoalan yang tak bisa diselesaikan dengan menulis dan mengobrol.
***
Dua anak ini sialan! Hidup bahagia. Mereka tumbuh menjadi anak baik sekaligus anak nakal. Mereka tetap anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar