...
Dalam jiwa
yang usai sobek, aku hanya terpaku di depan teras, sambil terus berharap ada
yang datang menghiburku “ hai”. Sementara di sebelah pandang-ku, tak
henti-hentinya segerombolan pria tulen mengantri “pemenuhan”. Aku heran?
Segerombolan pria itu mampu melihat, mereka tidak buta. Jelas sekali dalam
pancaran mata-nya, yang men-isyaratkan nafsu dan ketakutan.
Lalu- sambil
lalu, dengan bersolek baju setengah-tiduran. Para perempuannya-pun begitu,
mereka mendengar dan melihat, tak tuli dan tak buta. Aneh ucap-ku! Dengan
pasang-pasang yang berujung berpasangan, mereka memulai malam menuju dunia
luar, yang tak lebih kejam dari kamar kos-nya. Aku hanya tersenyum, ku-hisap
dan ku-hembuskan, sambil berharap asap-asap ini menghantui percumbuan mereka.
Mudi-kemudian,
diri ini mulai sedikit menyapa aspal-aspal depan teras. Serasa asing
rasanya,”ini jalan memang mati”-kata-ku. Hmmph, aku perlahan terjatuh (dari
ujung kaki sampai ujung hati). Mulai lagi ucap-ku, fase-fase kesunyian serta
kehampaan yang di-bawanya.
Namun sedikit
tersenyum-lah daku, entah apa? Iya. Sepasang itu telah pulang, mereka malah
sudah bisa tertawa. Aku kaget! Sebelum pisah-me-misah, mereka berciuman
menggunakan dahi. Aah, apa lagi ini, mungkin bibir tak seharum yang kamu kira,
bibir telah jadi basi! Ya, dengan itu percumbuan telah usai. Aku hanya tertawa
dan berbisik lepas itu,” mereka tak hanya mampu melihat dan mendengar,
mereka-pun tak lumpuh.”
...
...
[1]
Aku, aku, dan aku. Buta/tuli/lumpuh, Cinta!
Aku seorang buta dan me-buta
Ketidakmampuan dalam mataku-matamu adalah mati
Matamu tak ada, ia buta dengan mataku
[2]
Tuk ini saja, aku berhadap dengan mata yang tak bicara
Aku-pun tuli saat itu
Karena selain tak bicara dan melihat
Aku tak dengar
[3]
Apa lagi?
Mungkin tiada
Karena cinta tak hanya buta!
Ia bisu/ tuli/lumpuh dan mati
Aspal!
Aku, aku, dan aku. Buta/tuli/lumpuh, Cinta!
Aku seorang buta dan me-buta
Ketidakmampuan dalam mataku-matamu adalah mati
Matamu tak ada, ia buta dengan mataku
[2]
Tuk ini saja, aku berhadap dengan mata yang tak bicara
Aku-pun tuli saat itu
Karena selain tak bicara dan melihat
Aku tak dengar
[3]
Apa lagi?
Mungkin tiada
Karena cinta tak hanya buta!
Ia bisu/ tuli/lumpuh dan mati
Aspal!
,,,
Setelah mati,
tak dan atau ada apa-apa lagi. Terkurung daku dalam kebebasan tak berbatas, tak
ada batas,percuma untuk me-lari. Hanya saja, aku masih bisa lari dalam kata-kata,
aku berlari. Coba-mencoba menyembunyikan nadi, aku berlari. Pelan-pelan dalam
berlari, aku berhenti. Sebab lari dan berlari tak pernah menari. Ia keras dan
kaku, mati. Tentu di-ujung pemberhenti, aku telah banyak menuangkan kata. Ia
banjir, sampai terlihat perahu nabi nuh, bersama setan-setannya. Aah, tak
sanggup lagi, kata-kata itu terus berlari sambi menari. Aku-pun mati, menangis.
Mati-menangis. Perihal kata yang berlari itu, telah lama menahan air mata dalam
kantung mata/mati-ku.
,,,
,,,
Kantung
mata
[-]
Pena sekedar menulis
Seperti mataku yang sekedar menetes
Itu- ya- aku- mu
[-]
Pena sekedar menulis
Seperti mataku yang sekedar menetes
Itu- ya- aku- mu
Layaknya
ada bermimpi
Bertemu denganmu
Mencoba menyimpul senyum-mu
Menangisi air matamu
Bertemu denganmu
Mencoba menyimpul senyum-mu
Menangisi air matamu
Aku
terus menulis
Sampai tinta kehabisan air mata
Terus menangis
Hingga kantung- mata menjadi arti.
Sampai tinta kehabisan air mata
Terus menangis
Hingga kantung- mata menjadi arti.
Les
meirebles, les meirebles
“Siapa tak menangis, tak melihat”
“Siapa tak menangis, tak melihat”
///
Usai mati,
hanya ada lelah-kalah-menyerah. Hanya itu, rebahkan jiwa pada kasur-ku yang
fana. Itu jalan terakhir menuju tuhan yang maha esa. Terlelap sudah, aku
bertuhan dengan mimpi sekarang. Bawah dan sadar atau bawah-sadar, adalah pasti.
Segala pasti, semua tuhan. Itu doa sesudah mati.
Lenyap dalam mimpi, dan mati. Dimana kehendak sudah tak ada lagi, disana hanya takdir dan hati yang bernyali. Tuhan telah menyapa dalam mimpi, karena mimpi ialah tuhan. Harapan, nafsu, cinta, dan ketersembunyian menampakkan helainya disana. Tak ada lagi kata-kata. Hanya ada, ada yang tiada. Aku bahagia, namun fana aku cinta.
Lenyap dalam mimpi, dan mati. Dimana kehendak sudah tak ada lagi, disana hanya takdir dan hati yang bernyali. Tuhan telah menyapa dalam mimpi, karena mimpi ialah tuhan. Harapan, nafsu, cinta, dan ketersembunyian menampakkan helainya disana. Tak ada lagi kata-kata. Hanya ada, ada yang tiada. Aku bahagia, namun fana aku cinta.
///
Pe-menjelangan
[1]
Sajak telah usai
Puitis dan cinta-nya me-lari
Begitu-pun daku
Usai dalam kata hingga jiwa
[2]
Bisikan dalam nadi-pun terhenti
Bisa penuh timbunan akan runtuh seketika
Ia tak bersajak lagi
Ia terhenti dan mati
[3]
Esok, lusa aku hidup
Hari ini: Hanya pertanyaan.
[1]
Sajak telah usai
Puitis dan cinta-nya me-lari
Begitu-pun daku
Usai dalam kata hingga jiwa
[2]
Bisikan dalam nadi-pun terhenti
Bisa penuh timbunan akan runtuh seketika
Ia tak bersajak lagi
Ia terhenti dan mati
[3]
Esok, lusa aku hidup
Hari ini: Hanya pertanyaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar