Jumat, 13 November 2015

Allah di Lampu Taman samping Gereja


Entah esok keberapa setelah reformasi, seorang bocah adalah bermain. Sembunyi ketika adzan maghrib, jongkok diatas pagar pendidikan, mencari kelereng di bawah lubang sekolahan, menghelai kumis kecoak dan menertawai tikus botak yang lari ketakutan usai “kena semprot operasi demam berdarahan.”

Bocah, seorang bocah di kota hujan, Bogor suatu senja, ah...
           
Berjalan kaki. Ayah menggendong, sesekali menggandeng bocah itu. Pulang kantor melewati hutan kota yang kelam. Bocah itu tersenyum, tak ada takut. Bocah belum mengenal kiamat gelap dan hantu kelam. Baginya, yang ada hanyalah gandengan ayah dan embun daun pohon pinus.

Usai menerabas hutan kota, ayah masih saja tegap, pandangannya lepas, namun tak kosong. Sementara bocah hanya memandang kedepan, belum berfikir ke depan. Ayah membawa bocah ke dalam keabadian. Kali itu, tuk pertama kalinya bocah mengenal kenangan.
           
Di tengah jalan perumahan, usai hujan dan senja terbenam, lampu taman menguning di setiap sisinya, mengembun di ujung rongga kacanya, ayah dan bocah yang bergandeng tangan.” 


***

Setiba-tiba bocah itu, kini terlempar di lingkungan santri. Kerudung dan sarung kebanjiran dimana-mana. Masjid, asap rokok, sampai angkringan yang dipadati arabian. Bocah itu senang, namun tiba-tiba kelaparan. Bocah pergi mencari makan, malam hari. Singgah ia di pundak sate ayam. Bocah memesan sate, lontong, dan teh hangat, lalu duduk di beton para pejalan kaki.

           
Bocah menunduk. Tampak di sampingnya, satu keluarga muda: ayah dan ibu sedang menggoda anaknya, yang sedang jatuh cinta di bawah lampu taman depan gereja.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar