Kamis, 12 November 2015

Mencari Kos, Menyingkap Tabu


Jogja sore itu gemericik, bukan perkara hujan yang pelan menggelitik. Melainkan airmata bocah cilik yang memantik. Ia minta dibelikan motor, tak muluk-muluk. Hanya tuk mengalirkan ia bersama zaman dan teknologi peradaban. Ia minta pengakuan, ia minta pertemanan, yang tak dapat ia genggam dengan uang seribu-duaribuan. Sementara emak, juga butuh perhiasan, emak butuh arisan, emak butuh obrolan, yang hanya bisa emak rengkuh dalam perluasan kemewahan. Akhirnya, bapakpun begitu. Bapak butuh tamasya, pergi ke mekkah atau amerika, bapak butuh kehormatan, bapak butuh kesucian haji, bapak butuh kepintaran ber”gelar”an.

Maaf nak, Maaf mak, maaf pak. Aku bergumam begitu, dari spion motor supra-ku, yang tak kencang-kencang amat. Mau apa lagi? Mahasiswa telah mati nak-mak-pak, maaf. Melewati kalian, beribu tangis di airmataku. Sedang aku tak peduli, asik sendiri mencari kuburan, cari keheningan. Ya, kos-kosan. Tempat singgah mahasiswa mati sepertiku.

Lihat saja jika tak percaya. Kalau tak salah, malamnya. Aku mengintip kuburan baru, sekitar pukul 18.61. Seperti biasa, tak ada halaman, tak ada rerumputan, tak ada kesuburan di depannya. Hanya kamar mati yang tak berpenghuni, bekas mahasiswa mati yang ditikam sepi. Corong depannya bertuliskan begini “ada kamar kosong, khusus muslim.” Wah, cocok! Sahutku dalam hati, sambil mengeluarkan peci, gamis, dan tasbih dari tasku yang bau whisky.

Transaksi : Ditolak, aku ketahuan.
           
Wajah menyesal, ternyata aku tak bisa membohongi pemilik kos-kosan dengan tampang dan topeng belaka. Sambil meludah, aku beralih ke seberang. Kos-kosan yang bersebrangan, begini tulisan promosinya “ada kamar kosong, bebas.” Hu, cocok. Aku menaruh tasku, mencopot gamis, peci, dan tasbih. Tak hanya itu, aku telanjang.

Transaksi : Gagal, aku diusir.
           
Emosi, ada apa ini? Katanya bebas? Apa ia tak mengerti kebebasan? Aku tak tahu. Lepas itu, dengan keadaan telanjang, aku berfikir. Aku cari alternatif, karena aku tak bisa begini terus, aku butuh tidur, butuh tempat tinggal, butuh keheningan, butuh kuburan.

           
Duarrrr!! Ide mengerucut ke permukaan, ia menjadi konkrit. Kubuka tasku, kubuang peci, gamis, dan tasbih. Kurobek lembar catatan perkuliahan, kugoreskan tinta kelam pada keputihannya, kutempelkan pada kelaminku, lalu berdiri dengan layu diatas tugu kota Jogja dengan ungkapan: 
“Butuh kos-kosan, bukan persyaratan”     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar