Ia nampak gelisah. Ia belum sempat apa-apa, sedang
hari sudah diujung tanduk, sedang purnama lagi bulat-bulatnya. Dunia luar tak
masuk hitungannya, sebab “dalam” adalah segalanya. Ia ketakutan, sedang dirinya
adalah pecinta. Kontradiktif.
Untungnya, ia dijenguk. Tentu, sebagai orang sakit,
ia beruntung memiliki penjenguk. Segeralah ia bangun dari ketakutannya, lalu
sekedar memasak air tuk mengaduk kopi. Setelah matang, ia bersiap. Mencopot
aurat, menggaruk jembut, dan memasuki tempat berak. Ia ngopi sambil berak.
Perlahan, tekanan perut dan volume berak mulai
equivalen dalam nafasnya. Serta, seruputan kopi dan sendawa yang menandakan ke
intiman jiwanya dengan ruangan itu. Ia betah-betah saja, namun tak baik-baik
saja. Hmm, cukup lama ia tertegun di sana. Jangan heran! Hari itu dan hari-hari
lainnya memang seperti itu. Sekarang dan selamanya, ia telah memutuskan
begadang di ruangan itu, tentu dengan berak dan kopinya yang masih hangat.
Kemudian, datanglah pagi. Duarrr. Ia langsung
meletakkan kopi, menyiram berak, dan keluar dari ruangan mati itu. Ia bersiap,
menutup aurat, menyisir jembut, dan menyambut dunia luar.
Waw! Dunia perubahan, dunia yang terbelah, dunia
kehidupan. Hai! Tiba-tiba ada yang menyapa. Akhirnya! Ucapnya. Mari bermain!
Ujar sang penyapa. Ia tak menjawab! Namun pada akhirnya, ia tetap ikut bermain.
Dimulai, sesi permainan. “Ada sekitar 5 orang
termasuk dirinya”. Mereka bermain petak umpet. “Hompimpa alaium gambreng”,
keempat tangan temannya menunjukkan putih suci, sedang ia bertangan hitam
kelam. Pikirnya, “mungkin gara-gara kopi semalam dan malam-malam yang lalu”. Ia
dikutuk sebagai penjaga atau jadi atau bahasa-bahasa lainnya yang menandakan
bahwa dirinya-lah yang menempati posisi pencari. Lalu, ia memejamkan mata dan
mulai menghitung: mulai angka nol sampai satu, simple namun tak terbatas. 0 –
0,000 – 0, 00 – 0,01 – 0,02 – dst. Ia terus menghitung, terus memejam, terus.
Ia tetap menghitung, tetap memejam, sedang dirinya belum juga tersadar bahwa
“dari nol ke satu” adalah ketidakterbatas. Namun ia tetap menghitung, tetap
memejam.
Ia tak peduli, walau dunia telah kiamat 2 kali,
ruang dan waktu silih berganti, manusia telah mati, dan fakta-fakta lain yang
telah berubah terbalik. Ia tetap memejam, tetap menghitung. Sampai pada suatu
saat, teman-temannya mengalah menyerah. Lalu menepuk pundak sang
pencari/penjaga.
“Hei bangun! Sadar!” Permainan telah usai. “Mengapa, kita
belum menyelesaikannya bukan, aku belum mencari kalian, dan aku-pun belum
menemukan kalian? Lantas mengapa kalian menyerahkan diri, dan berserah dengan topeng bahwa
permainan telah usai? Tanya sang penjaga”.
Kemudian, kawanan itu menjawab: Kau
curang! Karena kau tak pernah mencari kami, kau hanya berhitung dan memejamkan
mata. Sedang petak umpet adalah usaha dalam mata yang terbuka dalam proses
pencarian akan orang lain. Tidak seperti kau, yang hanya bisa berhitung dan
menimbang kemungkinan, sedang dirimu tetap memejamkan mata.
“Petak umpet berurusan dengan keterbukaan dan proses
pencarian diri orang lain”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar