Jumat, 13 November 2015

Petak Umpet


Ia nampak gelisah. Ia belum sempat apa-apa, sedang hari sudah diujung tanduk, sedang purnama lagi bulat-bulatnya. Dunia luar tak masuk hitungannya, sebab “dalam” adalah segalanya. Ia ketakutan, sedang dirinya adalah pecinta. Kontradiktif.

Untungnya, ia dijenguk. Tentu, sebagai orang sakit, ia beruntung memiliki penjenguk. Segeralah ia bangun dari ketakutannya, lalu sekedar memasak air tuk mengaduk kopi. Setelah matang, ia bersiap. Mencopot aurat, menggaruk jembut, dan memasuki tempat berak. Ia ngopi sambil berak. 

Perlahan, tekanan perut dan volume berak mulai equivalen dalam nafasnya. Serta, seruputan kopi dan sendawa yang menandakan ke intiman jiwanya dengan ruangan itu. Ia betah-betah saja, namun tak baik-baik saja. Hmm, cukup lama ia tertegun di sana. Jangan heran! Hari itu dan hari-hari lainnya memang seperti itu. Sekarang dan selamanya, ia telah memutuskan begadang di ruangan itu, tentu dengan berak dan kopinya yang masih hangat.

Kemudian, datanglah pagi. Duarrr. Ia langsung meletakkan kopi, menyiram berak, dan keluar dari ruangan mati itu. Ia bersiap, menutup aurat, menyisir jembut, dan menyambut dunia luar.
Waw! Dunia perubahan, dunia yang terbelah, dunia kehidupan. Hai! Tiba-tiba ada yang menyapa. Akhirnya! Ucapnya. Mari bermain! Ujar sang penyapa. Ia tak menjawab! Namun pada akhirnya, ia tetap ikut bermain.

Dimulai, sesi permainan. “Ada sekitar 5 orang termasuk dirinya”. Mereka bermain petak umpet. “Hompimpa alaium gambreng”, keempat tangan temannya menunjukkan putih suci, sedang ia bertangan hitam kelam. Pikirnya, “mungkin gara-gara kopi semalam dan malam-malam yang lalu”. Ia dikutuk sebagai penjaga atau jadi atau bahasa-bahasa lainnya yang menandakan bahwa dirinya-lah yang menempati posisi pencari. Lalu, ia memejamkan mata dan mulai menghitung: mulai angka nol sampai satu, simple namun tak terbatas. 0 – 0,000 – 0, 00 – 0,01 – 0,02 – dst. Ia terus menghitung, terus memejam, terus. Ia tetap menghitung, tetap memejam, sedang dirinya belum juga tersadar bahwa “dari nol ke satu” adalah ketidakterbatas. Namun ia tetap menghitung, tetap memejam.

Ia tak peduli, walau dunia telah kiamat 2 kali, ruang dan waktu silih berganti, manusia telah mati, dan fakta-fakta lain yang telah berubah terbalik. Ia tetap memejam, tetap menghitung. Sampai pada suatu saat, teman-temannya mengalah menyerah. Lalu menepuk pundak sang pencari/penjaga. 

“Hei bangun! Sadar!” Permainan telah usai. “Mengapa, kita belum menyelesaikannya bukan, aku belum mencari kalian, dan aku-pun belum menemukan kalian? Lantas mengapa kalian menyerahkan diri, dan berserah dengan topeng bahwa permainan telah usai? Tanya sang penjaga”. 

Kemudian, kawanan itu menjawab: Kau curang! Karena kau tak pernah mencari kami, kau hanya berhitung dan memejamkan mata. Sedang petak umpet adalah usaha dalam mata yang terbuka dalam proses pencarian akan orang lain. Tidak seperti kau, yang hanya bisa berhitung dan menimbang kemungkinan, sedang dirimu tetap memejamkan mata.


“Petak umpet berurusan dengan keterbukaan dan proses pencarian diri orang lain”  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar