Sabtu, 12 Maret 2016

(impossible-nya) Wawancara


“Beginilah jadinya, bilamana seorang manusia yang masa-harinya lebih banyak di-meng-habiskan waktu di dalam kamar: dipaksa-memaksa untuk bertanya-wancara-meliput.”

Hari itu, hari Senin. Tepatnya tanggal x bulan y tahun z. Pukul 16.00, manusia ini terbangun dari ranjangnya, usai begadang: yang tiada artinya. Menengok jam dinding, membasuh rupa, seperti biasanya. Begitu statis nan monoton rutinitasnya, layaknya satwa yang tinggal-hidup di Afrika. Tapi...

Pada hari yang sama, handphone-nya berdering seketika. Bukan panggilan, bukan missed call. Hp-nya bergetar: ia mendapat pesan-message.

Begini pesannya: Heh, jangan lupa. Untuk terbitan bulan ini, kamu kebagian liputan! Deadline dua minggu coy. Ojo coli wae. Salam kamerad.

Duar! Wajahnya menjadi kusut seketika. Beban liputan telah tergendong di pundak bungkuk-nya. Belum habis merenungkan masa depan, eh sudah ditambah pula mengurus-pikirkan tanggungan liputan.

Malam harinya, dengan beban yang semakin bertambah. Ia sarapan-malam dengan menyantap-makan mie instant rebus plus telur ayam. Usai itu, merokok sebatang. Tarikan pertama tentulah qua-kenikmatan. Begitu pula sampai tarik-isapan kelima. Namun, setelah itu, saat rokok sudah habis separuh. Pikirannya, perihal masa depan dan tanggungan liputan kembali menubuh. “Mampuslah ia dikoyak-koyak beban-tanggungan.”

Mula-mula dikala rokok sudah habis sebatang, pikirannya tertuju pada tanggungan liputan. Pertama, ia berfikir tentang peristiwa, peristiwa macam apa yang menarik tuk diliput. Hari besar, perayaan budaya, kasus-sengketa, sampai hal remeh-temeh melayang-layang di otak-rasio-nya. Namun apa? Semua itu tak semudah yang dikira. Sebagai individu yang menua di dalam kamar, berbagai peristiwa-peristiwa menarik dan up to date selalu luput dalam benaknya. Toh, kembalilah ia pada persoalan diri(sendiri). Persoalan diri, eksistensi, kecemasan, ke-masadepan-an, sampai renungan filosofis seketika hinggap kembali seraya menyingkirkan fokus-nya pada peristiwa liputan. Sungguh ini adalah momen yang paling menyebalkan.

“Di bakarnya-lah satu batang rokok, lengkap dengan tarikan pertama yang kian memberat. Sesaat itu jua, tanganya memasang headshet ke telinga. Mencolok-masuk bagian kabel ke dalam handphone. Lalu memutar playlist, salah satu lagu kesayangannya: detak jantungnya.”

Terdiam beberapa saat, terdiam cukup lama. Sempat diam cukup lama. Ia tersenyum seketika, bangkit dari kegamangan, lalu menyusun pertanyaan untuk tanggungan liputan yang sudah dipilihnya. Ia tampak begitu bergairah.

Keesokan harinya, pagi-pagi sudah bangun. Bersiap mandi dan gosok gigi. Sarapan empat sempurna lima sehat. Kemudian membekali tas lempang berisi buku catatan serta handphone-recorder.

Dengan segera, ia mengendara menuju daerah x. Menuju salah satu rumah kecil di daerah x. Rumah itu biasa saja, biasa saja. Bercat hijau, dengan pintu kayu, dan kursi rotan di terasnya. Diketoknya pintu: tok, dok, tok. Kemudian seorang pria tua terlihat membukakan pintu.

Mari duduk dulu, sahut pria tua sambil menunjuk kursi rotan teras.”

Lalu sambil lalu, pria tua membawakan kopi-hitam-panas ke tengah-tengah kursi rotan. Lantas dimulailah sesi wawancara. Perkenalan, riwayat hidup, serta tanggapan yang ditanyakan mencuat dalam sesi itu. Hingga akhirnya, setelah tanya-jawab lebih dari satu jam. Selesai juga wawancara pertama.    

Usai dengan narasumber pertama, ia segera bergegas menuju daerah y untuk menemui narasumber lainnya. Daerah y berada di sebelah daerah x. Waktu tempuh dari daerah x ke daerah y, berkisar tiga puluh sampai tiga puluh satu menit. Ia bergegas meski lehernya mulai sedikit bercucur keringat.
Sesampainya di daerah y, ia menepi di sebuah rumah. Lagi-lagi, rumahnya terlihat biasa saja. Bercat hijau muda, dengan pintu kayu muda, dan kursi kayu di terasnya. Diketoknya pintu rumah tersebut: tok, tok, tok. Kemudian seorang perempuan tua terlihat membukakan pintu.

Mari duduk dulu, sahut perempuan tua sambil menunjuk kursi kayu teras.”

Lalu sambil lalu, perempuan tua membawakan teh panas ke tengah-tengah kursi kayu. Lantas dimulailah sesi wawancara. Perkenalan, riwayat hidup, serta tanggapan yang ditanyakan mencuat dalam sesi itu. Hingga akhirnya, setelah tanya-jawab lebih dari enam puluh menit. Selesai juga wawancara kedua.

Akhirnya, selesai sudah tugas wawancara. Data yang didapat dari dua narasumber tersebut, dirasa cukup untuk bahan menulis liputan. “Ia tersenyum-tawa dengan dada plong, sambil mengendara pulang menuju kediamannya.”

Kembali memasuki kamar, dengan segera-tangkas-cepat, ia mengkonversi rekaman hasil wawancara kedua narasumber tersebut ke dalam format word. Dengan deadline dua minggu yang dimiliknya, ia mulai merangkai dan menyusun data-tulisan tersebut. H-1, cling! Tulisannya sudah siap-layak cetak, hanya tinggal mengirimkannya via email untuk diterbit-sebarkan.

“Hmm.. sejenak ia merebahkan badan, tenaga, dan pikiran di kasur empuknya.”

Kemudian ia membayang-lamunkan: Tulisanku akan dibaca khalayak – aku akan mendapat banyak pujian – aku akan terkenal dan di kenal sebagai wartawan – aku akan diakui.

Akhirnya, tepat pada tengah malam hari H. Ia menyalakan laptopnya, log in alamat email pribadinya. Lalu melampirkan hasil tulisan-liputannya. Sambil menunggu loading lampiran file yang agak lama, ia membakar sebatang rokok. Seperti biasa, tarikan pertama tentulah qua-kenikmatan. Begitu pula sampai tarik-isapan kelima. Namun, setelah itu, saat rokok sudah habis separuh. Pikirannya, perihal masa depan, ke”diri”an, kecemasan, dan renungan filosofis tiba-tiba kembali menubuh.

Kemudian ia membayang-lamunkan: Bagaimana jika kedua narasumber tersebut berbohong – Bagaimana jika bahasa yang diungkapkan kedua narasumber tersebut mereduksi apa yang mereka rasakan – Bagaimana jika kedua narasumber tersebut berbohong sekaligus tak mengerti bahwasanya bahasa mereduksi apa yang mereka rasakan – Bagaimana jika tulisan-liputanku tak bisa menuliskan “diam” dan “solilokui” kedua narasumber tersebut.


Ia terdiam, seperti tak sanggup menyentuh tombol enter di halaman emailnya. Padahal lampiran file purna menyentuh angka seratus persen. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar