Jumat, 18 November 2016

dll-dsb-dst dan RATU ADIL Sebentar Lagi.



[1]
Sabtu (12/11) bioskop renggang. Padahal ada film besar disitu, baru ketayangan. Udah dipajang jua, di kotak besar lobby bioskop. Judulnya Kamus (2016). Samping jejernya, film-film action barat, komedi tak-lucu ibukota, nun horor-seksuil. Sedang Kamus (2016) bergenre “belum ada iang tahu”. Kamus (2016) diadaptasi dari (naskah) KBBI 4 iang baru juga launching. Durasi relatif, sesuai kemampuan baca-nonton per-uwong. Tapi estimasi baca-nonton normal: 30 malam purnama WIT.

Ia datang sendiri malam itu... pesan putaran iang akhir... sekitaran 22.45... hmm malam, adem... harga tigalima ribu, tapi bayar pakai limapuluh ribu, kembalian limabelas ribu Ia ikhlaskan... alibi merayu cashier 21 iang manis sekali... hmm berseragam hitam dengan make up sedangan... Ia termanyun senyum.

Hmm... 30 malam di bioskop, itu belum termasuk turu... hmm... Ia terus baca, terus menonton, terus melihat... pegal sekali baru sampai akhir abjad C. Tiba di abjad D, Ia tertiba ketakutan. Abjad D seakan menberi kesan horrorik-misterium bagiIa. Ia sampai tutup-buka-sembunyi-mata pakai dengkul nun jemari-jari. Sampai tibalah pada kata “dst-dsb-dll”, sampai tibalah pada kata “dst-dsb-dll”, sampai tibalah pada kata “dst-dsb-dll”, jantungIa seolah menendang tubuh hingga terkulai-lompat. Ia penakut. Sedang penontong iang disebelah-diatas-dibawahnya seolah biasa, biasa saja. Ekspresi mereka pada menit menonton-baca “dst-dsb-dll”, seolah sama ketika menit “bosan-cuma-biasa”. Hanya terlihat satu-dua iang meloncat-lambai sepertiIa, tapi ada satu orang bahkan iang sampai maput-semaput. Mereka bertiga jua ketakutan, sama seperti Ia.

Ia dan mereka bertiga mual... putuskan tuk keluar... muntah air-popcorn kuning di lantai kamar mandi— ketiganya gagal sampai pada mulut wastafel. Sial!

Ada apa dengan “dst-dsb-dll” ? ada apa dengan “danseterusnya-dansebagainya-danlainlain” ?

[2]
Konon dahulu, ada seseorang. Ia tak bisa baca, tak bisa tulis; cuma bisa ngomong (tapi omongannya akan dihafal, dicatat, diinterpretasi, nan dipraktikkan oleh generasi-pengikut selanjut-lanjutnya). Ia dihormati dan berdaya pengaruh besar sampai saat ini. Tapi sebentar lagi... ya sebentar lagi... orang itu akan digantikan atawa diteruskan.

Penerus atawa penggantinya yalah “seorang iang bisa (mem)baca-(men)tulis, tapi tak bisa (mau) omong.”  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar