Sabtu, 25 Juni 2016

Pasrah Harsap Psarah Psahra Pasrah Harsap: Pasrah


Manusia takut terluka, takut robek, takut lecet. Darah....
Daun?

Manusia takut sendiri, takut sepi, takut asing. Gulana....
Angin?

***

Kala itu di sebuah Villa, sore-sore, kaki bukit merapi. Embun, kabut kabung, semilir-lirih. Asap rempah bubuk kopi, tak ada kafein. Asap itu... asap itu... bibirnya seindah asaph...

Dengan lembutnya bercerita, perjalanan manusia: malam-malam kau harus mengambil papan sepanjang badanmu, selebar badanmu. Pergilah menuju sumur, letakkan papan itu di tengah-tengah sumur (seperti jembatan). Lalu, berdoa... syahdan tutup bola matamu... tidur dengan layu... “jangan khawatir dirimu akan terjatuh”. (konon WS. Rendra)

***

Pertunjukan dimulai! Seorang perempuan berdiri di tengah ruangan: berkaus-celana hitam nun pandangan yang kosong. Di depannya persis tersedia sebuah meja dengan berbagai “alat”: gelas, air, pisau, tembakan, alat-tulis, dan banyak. Perempuan ini meminta penonton memperlakukan tubuhnya sesuka mereka (dengan alat yang tersedia di atas meja). Apa yang akan di lakukan penonton? (Maria Abramovic – Rhytm 0)

***

Mimbar, seminar-seminar tak henti-hentinya terus ada. Para manusia-manusia pintar silih berganti memberi siraman-ucapan: “kita harus pasrah” “pasrah sajalah” “pasrah mendatangkan anugerah”.

***


Pasrah Harsap Psarah Psahra Pasrah Harsap: Pasrah... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar